Ramadan 2026
40 Santri Menari Sufi Menyambut Datangnya Bulan Ramadan di Jepara
Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara memiliki tradisi unik dalam menyambut datangnya Ramadan.
Penulis: Saiful Ma sum | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara memiliki tradisi unik dalam menyambut datangnya Ramadan.
Tradisi ini bukan sebuah tradisi yang meriah layaknya Dugderan atau Dandangan.
Namun, sekadar tradisi hiburan dalam bentuk tari sufi yang digelar di halaman Masjid Al-Makmur Kriyan.
Puluhan santri Pondok Pesantren Nailun Najah dari usia anak-anak hingga remaja menari sufi di pelataran masjid untuk menghibur masyarakat.
Baca juga: Pesta Gol di Ternate: Malut United Hancurkan Persijap Jepara 4-0 Tanpa Balas
Baca juga: Aji Mumpung, Nur Rokhman Borong 50 Kg Beras di Bazar Murah Jepara: Stok Ramadan Hingga Lebaran
Meski dilakukan sederhana, tradisi ini menyedot ribuan animo masyarakat. Mereka tidak hanya datang dari warga Kriyan saja, juga datang dari berbagai daerah di Kecamatan Kalinyamatan dan sekitarnya.
Tahun ini, sebanyak 40 santri menjelma menjadi penari sufi yang penuh energik.
Mereka menari dalam tiga sesi sebagai tarian pembuka, hiburan, dan penutup.
Tarian sufi sambut Ramadan di pelataran Masjid Al Makmur Kriyan Jepara digelar setiap Jumat terakhir di bulan Sya'ban atau Ruwah.
Tradisi tari sufi ini sebagai penanda bahwa Ramadan akan tiba sebentar lagi. Sekaligus sebagai pengabar kepada masyarakat agar bersiap diri dalam menyambut Ramadan.
Dengan mengenakan pakaian serba putih mirip jubah khas pakaian tarian sufi dilengkapi peci panjang, para remaja santri pondok pesantren tampil anggun menunjukkan kebolehannya sebagai penari sufi.
Mereka berputar-putar sembari mengerakkan tangan kanan terbuka menengadah ke atas dan tangan kiri dihadapkan ke bawah. Sebagai simbol bahwa menyambut rahmat Allah SWT sepanjang Ramadan berlangsung, seraya membagikan rahmat dan keberkahan yang diterima kepada sesama manusia.
Tarian sufi bukan sekadar tarian pada umumnya. Tarian ini mengandung simbol doa-doa yang dipanjatkan semua masyarakat yang hadir diiringi lantunan salawat.
Mereka menari selama 10 hingga 15 menit, disaksikan ribuan warga yang hadir langsung di pelataran Masjid Al-Makmur.
Tarian sufi ini juga sebagai simbol kebahagiaan masyarakat dalam menyambut datangnya Ramadan.
Pengasuh Ponpes Nailun Najah Kriyan, Muhammad menuturkan, tari sufi ini digelar dalam rangka menyambut Ramadan.
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260214_TARI-SUFI-Sejumlah-santri-Pondok-Pesantren-Nailun-Najah.jpg)