Berita Semarang
Memutus Lemahnya Rantai Pemasaran, Spartavbud Jadi Jembatan Digital Bagi Seniman Semarang
Pelaku seni dan budaya di Kota Semarang dinilai masih lemah ketika berhadapan dengan sistem pemasaran berbasis marketplace digital.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelaku seni dan budaya di Kota Semarang dinilai masih lemah ketika berhadapan dengan sistem pemasaran berbasis marketplace digital, meski memiliki kekuatan dalam produksi karya dan jejaring sosial.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Diskursus Problem Solving dan Pendalaman Digitalisasi Platform Promosi Pelaku Kebudayaan di Kota Semarang” yang diinisiasi Yayasan Dewi Sartika di IBC Center, Kota Semarang, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Nama Seniman Sukoharjo Diduga Lakukan Pelecehan Viral, Korban Mengaku Tak Hanya Diminta Berhubungan
Praktisi budaya, Achiar M Permana, mengatakan perkembangan produk kebudayaan di Kota Semarang dalam 30 tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan.
Namun, peningkatan tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan pemasaran, khususnya dalam memanfaatkan marketplace digital.
“Produksi karya seni dan budaya itu kuat, tapi ketika berurusan dengan pemasaran atau marketplace, para seniman masih lemah. Padahal ekosistem pelaku seni di Semarang sangat solid dan relasi sosialnya juga kuat,” ujarnya.
Redaktur Senior di Tribun Jateng itu juga menyoroti, selama ini para pelaku seni lebih banyak mengandalkan event sebagai media distribusi dan promosi karya.
Model tersebut dinilai tidak berkelanjutan karena bersifat temporer dan terbatas pada ruang tertentu.
“Banyak yang bergantung pada event kontemporer. Ketika harus masuk ke teknologi modern, mereka belum cukup cakap. Ini yang membuat mereka kalah ketika berhadapan dengan sistem marketplace digital,” katanya.
Ia menilai, platform marketplace umum belum mampu mengakomodasi karakter produk budaya yang memiliki nilai, narasi, dan konteks sosial yang kuat.
Produk budaya kerap diposisikan setara dengan produk komersial massal, sehingga sulit bersaing dari sisi visibilitas maupun daya tarik pasar.
Menjawab persoalan tersebut, Yayasan Dewi Sartika mendorong pengembangan platform digital bertajuk SPARTAVBUD (Smart Platform for Art and Cultural Digital Marketing) sebagai wadah khusus bagi pelaku seni dan budaya.
Ketua Panitia FGD, Yanuar Aris Budiarto, mengatakan gagasan Spartavbud muncul dari kebutuhan untuk memperkuat ekosistem pemasaran budaya di Kota Semarang yang selama ini belum terintegrasi secara digital.
“Semarang dikenal sebagai salah satu simpul kebudayaan di Jawa Tengah dengan beragam ekspresi seni, mulai dari Batik Asem Semarang, Wayang Orang Ngesti Pandawa, hingga tradisi lisan seperti Macapat Semarangan. Namun potensi itu belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan ekonomi maupun jangkauan digital,” jelasnya.
Ia menambahkan, Spartavbud dirancang tidak hanya sebagai marketplace, tetapi juga sebagai platform yang mampu menghadirkan narasi, kurasi, serta edukasi bagi pelaku seni agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Dalam FGD tersebut turut hadir sejumlah narasumber, antara lain seniman Salafi Handoyo, praktisi e-commerce Tubagus Ismail, serta pengamat budaya Junaidi Abdul Munif.
| Wali Kota Harap Gala Premiere "Jangan Buang Ibu" Inspirasi Sineas Muda Semarang |
|
|---|
| Viral Camat Tembalang Ogah Tanda Tangani Berkas Warga, Begini Klarifikasinya |
|
|---|
| PSEL Semarang Raya Tarik Minat 80 Investor, Dijadwalkan Segera Site Visit |
|
|---|
| Menteri LH Siapkan Aturan Water Farming untuk Selamatkan Pesisir Pantura Jawa Tengah |
|
|---|
| Dari Bekas Galian C Jadi Kebun Organik, Cerita Bulusan Edupark Mengolah Sampah Jadi Media Tanam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260410_Praktisi-budaya-Achyar-M-Permana-FGD-Budaya_1.jpg)