Kiai di Pati Cabuli Santri
"Dia Ngaku Wali dan Keturunan Nabi" Kesaksian Korban Kiai Cabul di Pati
Korban kiai cabul di Pati, Jawa Tengah memberikan kesaksian bagaimana pelaku memperdaya korbannya.
Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, PATI – Korban kiai cabul di Pati, Jawa Tengah memberikan kesaksian bagaimana pelaku memperdaya korbannya.
Kiai cabul bernama Ashari pengasuh ponpes di Tlogowungu Pati itu disebut tidak hanya melecehkan santriwatinya.
Namun, ia disebut juga melakukan tindakan penipuan.
Pada Sabtu siang (2/5/2026), kediaman Ashari yang satu kompleks dengan pondok putri digeruduk oleh massa yang murka.
Baca juga: Mantan "Budak" Kiai Cabul di Pati Beri Kesaksian: Dia Ngaku Wali Keturunan Nabi
Baca juga: Rumah Kiai Cabul di Pati, Digeruduk Ratusan Orang, Dipasangi Spanduk Sang Predator
Ribuan orang berunjuk rasa dikomandoi oleh Aliansi Santri Pati untuk Demokrasi (Aspirasi). Mereka menuntut agar Ashari diadili dan dihukum seberat-beratnya jika terbukti bersalah.
Warga setempat dan juga "mantan korban" dari sang kiai cabul tersebut juga memberikan kesaksian di tengah aksi unjuk rasa.
Salah satunya seorang pria bernama Shofi. Dia mengaku sudah mengabdi kepada Ashari selama 11 tahun sampai akhirnya dia sadar dan melepaskan diri dari jerat Ashari pada 2018.
Shofi memberikan kesaksian mengenai praktik eksploitasi dan doktrin menyimpang yang digunakan tersangka untuk menguasai para pengikutnya.
Kepada wartawan, Shofi mengungkapkan bahwa dirinya bukan hanya saksi, melainkan juga korban pemerasan secara finansial.
Selama lebih dari satu dekade, ia dipaksa "sambatan" alias bekerja tanpa upah. Tenaganya dieksploitasi untuk mendirikan bangunan-bangunan mulai dari musala hingga pondok, tanpa kompensasi upah.
Bahkan, dia malah diperintah untuk berbohong kepada orang tuanya sendiri demi mengalirkan uang kiriman kepada tersangka.
"Sebelas tahun saya jadi budak. Pondok ini dibangun dari uang budak-budak si iblis Ashari. Tahun 2008 saya disuruh berbohong sama orang tua saya kalau saya mondok di Jepara, supaya uang kiriman dari orang tua saya itu bisa masuk ke sini," kata Shofi di lokasi aksi unjuk rasa, Sabtu (2/5/2026).
Lebih parah lagi, dia pernah sampai menjual tanah dan menyetorkan uangnya pada Ashari. Bahkan sertifikat rumahnya juga digadaikan tanpa dibayar.
Dengan rentetan hal tersebut, Shofi baru "sadar" bahwa dirinya hanya dimanfaatkan pada tahun 2018. Saat itu ada seorang kerabatnya yang mengingatkan dirinya untuk memikirkan masa depan sendiri, bukannya malah tenggelam diperbudak oleh Ashari.
Kepatuhan buta para pengikut, menurut Shofi, didasari oleh klaim tersangka sebagai sosok "Khariqul 'Adah" atau wali yang memiliki kemampuan di luar akal manusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/DEMO-KIAI-CABUL-Aksi-unjuk-rasa-Aliansi.jpg)