Senin, 11 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kiai di Pati Cabuli Santri

"Masih Jijik" Jawab Korban saat Ditanya Perlakuan Ashari Kiai Cabul Pati, Dilecehkan Sejak SMP

Keberanian untuk bersuara baru muncul setelah korban menyelesaikan pendidikannya dan meninggalkan lingkungan pesantren

Tayang:
Penulis: Msi | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Mazka Hauzan Naufal
TUNJUKKAN BARANG BUKTI - Jajaran Polresta Pati menunjukkan barang bukti kasus kekerasan seksual terhadap santriwati Pondok Pesantren Ndholo Kusumo dalam konferensi pers di Mapolresta Pati, Kamis (7/5/2026). 

"Masih Jijik" Jawab Korban saat Ditanya Perlakuan Ashari Kiai Cabul Pati, Dilecehkan Sejak SMP

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ashari (51), tersangka kasus pencabulan dan kekerasan seksual terhadap santriwati di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (TQ) Ndholo Kusumo, Pati telah ditangkap.

Pelariannya berakhir di Wonogiri, pada Kamis (7/5/2026).

Meski tersangka telah ditangkap, trauma masih dirasakan korban.

Dampak psikologis mendalam masih ia rasakan. 

Baca juga: Foto-foto Ashari Kiai Cabul Pati Tertunduk saat Ditangkap, 50 Santriwati Jadi Korban Nafsunya

TAK ADA AKTIVITAS - Suasana di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, tampak sunyi tanpa aktivitas, Selasa (5/5/2026).
TAK ADA AKTIVITAS - Suasana di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Pati, tampak sunyi tanpa aktivitas, Selasa (5/5/2026). (TRIBUN JATENG/Mazka Hauzan Naufal)

Meski kini telah menginjak usia 21 tahun, korban dilaporkan masih mengalami trauma berat akibat pelecehan yang dialaminya sejak bangku sekolah.

Kepala Dinas Perempuan dan Anak (DP3AP2KB) Jawa Tengah, Ema Rachmawati, mengungkapkan bahwa korban masih sering menangis secara spontan setiap kali memori kelam masa lalunya muncul kembali.

Pelecehan tersebut diketahui terjadi secara berulang sejak korban duduk di kelas VIII SMP hingga lulus Madrasah Aliyah (MA). 

“Saya tanya, ‘Kalau mengingat kejadian itu apa yang kamu rasakan?’ Dia bilang nangis. Kalau mengingat masih nangis, masih jijik, masih takut,” ujar Ema saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).

Bertahun-tahun Bungkam karena Takut

Selama masa sekolah, korban memilih memendam sendiri penderitaannya.

Ketakutan yang luar biasa membuatnya tidak berani mengadu kepada siapa pun. 

Keberanian untuk bersuara baru muncul setelah korban menyelesaikan pendidikannya dan meninggalkan lingkungan pesantren.

“Baru setelah lulus dia berani cerita ke ayahnya,” jelas Ema.

Saat ini, korban tengah menjalani pendampingan psikologis intensif melalui UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Pati.

Upaya ini dilakukan untuk membantu korban memulihkan tekanan psikologis, terutama menjelang babak baru dalam hidupnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved