Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Boyolali

Petani Boyolali Antusias Ikuti Sekolah Lapang dan Demoplot SRP Program Beras Tangguh

pelatihan sekolah lapang, demoplot Sustainable Rice Platform, dan penguatan kelembagaan di Kabupaten Boyolali serta 4 Kabupaten lain

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Pelatihan sekolah lapang dan sesi berbagi pengalaman antar petani di Desa Manggis, Kec Mojosongo, Kabupaten Boyolali, diikuti secara antusias oleh para peserta yang berjumlah 47 orang. Kegiatan ini juga dihadiri oleh kepala desa, perwakilan pengurus Gapoktan, Poktan, dan petugas penyuluh lapang (PPL) setempat. 

Ratih Rahmawati selaku Program Manager dari Rikolto menekankan terkait risiko kandungan logam berat pada lahan.

“Logam berat terlalu tinggi maka potensi kerdil lebih tinggi. Ini terlihat di lima kabupaten yang kami dampingi. Desa Tanjungsari sempat heboh karena dikunjungi Jokowi dan digempur kimia untuk menggenjot produksi,” paparnya.

Ratih menambahkan, pupuk kompos menjadi cara yang harus dilakukan untuk memperbaiki tanah.

Seleksi benih bisa menggunakan air garam dan telur untuk memilih benih yang baik dan berkualitas dan meminimalisir penyakit tanaman.

Fasilitator lokal dari KRKP, Siskaryanta, menyebutkan kegiatan berbagi pengalaman dan pembelajaran bersama terkait pertanian berkelanjutan ini menjadi hal yang fundamental bagi sistem pangan nasional.

Kegiatan ini juga dapat diterapkan di daerah-daerah lainnya. 

“Persiapan kelembagaan menjadi fondasi dasar yang penting. Dari yang sebelumnya tidak aktif harus menjadi aktif dengan peningkatan kebermanfaatan unit usaha dan budidaya yang lebih berkelanjutan. Gotong royong menjadi hal yang krusial di dalam kelompok untuk bertransisi ke arah berkelanjutan,” tandas Siskaryanta.

Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk meluapkan keluh kesah dari para produsen pangan.

Slamet, peserta pelatihan dari Desa Ketaon, menyampaikan lahannya setiap diairi cepat surut. 

Terlebih lagi Ph-nya pun hanya di angka 5, tanah keras, dan banyak rumput yang timbul.

"Saat ini saya coba pakai pupuk komsa. Saya juga ada pertanyaan untuk pemerintah: kenapa bibit dikelola swasta, bukan pemerintah? Banyak kritik dari petani, bibit bantuan itu kurang baik,” keluhnya

Kesehatan tanah memang menjadi hal yang krusial dalam praktik budidaya pertanian sawah.

Pemahaman petani atas tanahnya sendiri lebih penting dibanding menggunakan anjuran jumlah yang sudah ditetapkan oleh industri.

Ini ditegaskan melalui testimoni Juju, perempuan petani dari Desa Tanjungsari yang sudah mempraktikkan SRP pada lahan garapannya.

Juju menjelaskan di Tanjungsari dilakukan praktik budidaya berkelanjutan dengan jajar legowo.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved