Berita Jawa Tengah
Jateng Perlu Waspada Brucellosis Penyakit Hewan Menular Manusia Jelang Iduladha
Kepala Balai Besar Veteriner (BBV) Wates, meminta pemerintah provinsi Jateng waspada terkait Potensi munculnya penyakit hewan ternak brucellosis
Penulis: iwan Arifianto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Kepala Balai Besar Veteriner (BBV) Wates, Nur Saptahidhayat meminta pemerintah provinsi Jawa Tengah agar waspada terkait Potensi munculnya penyakit hewan ternak brucellosis.
Penyakit ini berbahaya bagi hewan karena bisa menyebabkan gangguan reproduksi serius seperti keguguran dan kemandulan.
Penyakit yang dipicu oleh Bakteri Brucella ini juga dapat menginfeksi manusia sehingga hewan terinfeksi harus segera dipotong.
"Sekarang penyakit hewan mulai naik yang dilaporkan adalah brucellosis, ini harus hati-hati, misal ada laporan kami akan segera meresponnya," ujar Sapto, sapaannya, saat memberikan paparnya dalam acara apel siaga petugas peternakan di Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jumat (22/5/2026).
Baca juga: SPBU Cokro Klaten Dipenuhi Ikan Lele Sampai Tutup Sementara, Video Warga Sigap Membantu Viral
Sapto menyebut, kasus hewan ternak terinfeksi brucellosis sebenarnya masih cukup rendah yakni beberapa ekor hewan saja di pulau Jawa. Bahkan, di Jawa Tengah sejauh ini belum ada laporan soal kasus ini. Kendati begitu, ia meminta pemerintah daerah untuk mewaspadainya.
"Tadi mumpung ada pak sekda Jateng dan Bupati maka kami sampaikan agar daerah kalau bisa menyiapkan anggFan untuk biaya pemotongan reaktor saat hewan terpapar brucellosis," ungkapnya.
Terdapat perbedaan antara penyakit brucellosis dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Brucellosis tidak mematikan seperti PMK. Namun, brucellosis bisa merugikan peternak karena penyakit ini menyerang reproduksi sehingga hewan bisa keguguran.
"Ya kan bisa ada kerugian secara ekonomi sehingga harus dicegah," bebernya.
Kerugian itu, lanjut dia, hewan yang terpapar brucellosis harus segera dipotong untuk mencegah penularan. Apalagi penyakit ini bisa menular kepada manusia.
Ketika tidak dipotong, sapi harus dilakukan isolasi. Tetapi, potensi penularan ke hewan lain bisa saja terjadi.
"Nah misal ada sapi yang kena penyakit ini, peternak tidak mau potong karena tidak ada yang ganti duitnya misal seekor Rp20 juta sampai Rp30 juta, tapi kalau dibiarkan penyakit bisa menular dan biaya penanganan penyakit tidak bisa diselesaikan dengan biaya Rp100 juta atau Rp200 juta," paparnya.
Sementara, bersumber data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, populasi sapi di Jateng pada 2026 mencapai 1.393.159 ekor, domba 1.421.246 ekor dan kambing 3.598.605 ekor. Jenis hewan tersebut yang mudah terpapar penyakit brucellosis.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, solusi pengananan hewan ternak yang terpapar penyakit brucellosis harus dimusnahkan. Meskipun belum ada temuan kasus di Jateng, pihaknya tetap bakal menyiapkan skema pengganti kerugian kepada peternak semisal kasus ini ditemukan.
"Belum ada temuan kasus, tapi kami siapkan skema penggantian kerugiannya, tim Healing layanan kesehatan hewan keliling juga terus memantu potensi munculnya penyakit ini," ujarnya. (Iwn)
| Pilu Siswa SD di Demak, Belajar di Kolong Bangunan Karena Sekolah Terendam Rob |
|
|---|
| Pemkab Pati Kembali Disorot KPK, Ganti Pj Sekda Karena Rangkap Jabatan |
|
|---|
| Wisuda ke-93 Untag Semarang: Pasutri Legislator Lulus S3, Sama-sama Berpredikat Cumlaude |
|
|---|
| Efek Kecanduan Judi Online, Pria Pegawai Rumah Sakit Boyolali Gelapkan Uang Rp559 Juta |
|
|---|
| Terungkap Sosok Pembakar Mobil Kades Hoho di Banjarnegara: Tetangga Desa, Sopir Dump Truk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260523_Nur-Saptahidhayat.jpg)