Senin, 1 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Jawa Tengah

Distannak Jateng Sebut Kasus PMK Batang dan Kota Semarang Hanya Suspek

Gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terindikasi ditemukan pada hewan kurban di Kabupaten Batang dan Kota Semarang. 

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/iwan Arifianto
KASUS PMK - Kabid Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Andiningtyas Mula Pertiwi menjelaskan soal dugaan supsek PMK, Kabupaten Semarang, Selasa (26/5/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terindikasi ditemukan pada hewan kurban di Kabupaten Batang dan Kota Semarang. 

Namun, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah menyebut dua kasus tersebut hanya suspek atau dugaan awal saja. Selepas diteliti melalui laboratorium, hasil temuan itu dinyatakan negatif.

"uji laboratorium terhadap dua hewan di Batang dan Kota Semarang suspek PMK hasilnya negatif PCR PMK, artinya dua kasus di dua daerah tersebut bukan PMK," ujar Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Andiningtyas Mula Pertiwi kepada Tribunjateng.com, Selasa (26/5/2026).

Tyas, sapaannya, mengungkap, sejauh ini belum ditemukan kasus PMK di Jateng. Pihaknya juga baru mendapatkan dua laporan kasus suspek PMK dari dua daerah tersebut. "Ya laporan ini bagian dari meningkatnya Kewaspadaan, jadi hewan yang mengarah ke ciri-ciri kena PMK langsung diperiksa meskipun belakangan hasilnya negatif," tuturnya.

Sebagai langkah antisipasi, Tyas mengungkap, bakal terus melakukan pengawasan. Ia juga meminta kepada masyarakat yang menemukan gejala PMK agar segera melaporkan ke petugas kesehatan hewan terdekat.

Hewan yang memiliki gejala PMK di antaranya demam tinggi, produksi air liur berlebihan, muncul lepuh atau luka pada mulut dan lidah, serta kuku yang luka atau lepas hingga menyebabkan pincang.

"Masyarakat juga harus selektif ketika membeli hewan ternak untuk kurban," ujarnya.

Tyas meminta pula kepada peternak agar hanya menjual hewan yang sehat. Selepas Iduladha juga perlu diwaspadai oleh para peternak yang bakal memasukkan hewan tak laku ke kandang pembesaran.

Ia menilai, jelang Iduladha pergerakan hewan kurban sangat tinggi sehingga ketika kembali dimasukkan ke kandang risiko penularan penyakit juah tinggi.

"Peternak harus perkuat biosekuriti ternak yang keluar masuk, pakan dan peralatan kandang harus diperhatikan kebersihannya, dan jangan lupa untuk melakukan vaksin secara rutin seusia anjuran petugas kesehatan hewan," bebernya. (Iwn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved