Ancaman Megathrust di Selatan Jawa
BMKG Kembali Ingatkan Warga Kulon Progo, Ancaman Megathrust Selatan Jawa Masih Nyata
Warga Kulon Progo, Yogyakarta kembali diingatkan untuk senantiasa mewaspadai ancaman bencana megathrust yang suatu saat bisa terjadi.
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Warga Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta kembali diingatkan untuk senantiasa mewaspadai ancaman bencana megathrust yang suatu saat bisa terjadi.
Menurut BMKG, ini bukan sekadar ancaman melainkan kondisi nyata yang tak bisa ditutup-tutupi.
Bahkan BMKG tak mengetahui secara pasti kapan akan terjadi megathrust di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa ini.
Meskipun demikian, jauh-jauh sebelumnya bahkan hingga saat ini, berbagai langkah mitigasi dilakukan.
Baca juga: Gempa Megathrust Jawa Terakhir Terjadi Pada 1943, Benarkah BMKG Prediksi Akan Kembali Terjadi?
Salah satunya melalui Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami secara berkelanjutan di wilayah-wilayah rawan bencana di selatan Pulau Jawa ini.
Salah satunya di Kabupaten Kulon Progo.
BMKG kembali mengingatkan ancaman bencana gempabumi, tsunami, hingga megathrust yang kapan saja bisa terjadi di selatan Pulau Jawa.
Istilah "megathrust" berasal dari "mega" yang berarti besar dan "thrust" yang berarti patahan naik.
Megathrust merujuk pada potensi gempa berskala besar yang dihasilkan dari pergerakan lempeng bumi.
Oleh sebab itu, perlunya kesadaran masyarakat untuk siaga dan tangguh menghadapi ancaman bencana.
Hal itu diungkapkan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat hadiri Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa (23/9/2025).
“Sepanjang 10 tahun terakhir, DIY dan sekitarnya tercatat mengalami lebih dari seratus gempa bumi dengan magnitudo di atas lima, termasuk beberapa kejadian yang merusak."
"Data ini menjadi pengingat bahwa risiko gempa dan tsunami nyata adanya."
"Kesiapsiagaan adalah keharusan,” ujar Dwikorita Karnawati.
Dwikorita mengungkapkan, aktivitas seismik di wilayah selatan Jawa cukup tinggi.
Pihaknya pun menuntut peningkatan kapasitas masyarakat pesisir dalam memahami tanda bahaya serta peringatan dini.
“Implementasi 12 indikator Tsunami Ready menjadi langkah penting menuju cita-cita zero victim," ucap Dwikorita.
Baca juga: TKI Was-was, Ramalan Gempa Megathrust dan Tsunami di Jepang Sabtu Malam 5 Juli 2025: Taiwan Waspada!
Melalui program ini, Dwikorita Karnawati ingin masyarakat terus melanjutkan "Tsunami Ready Community " yang sebelumnya telah mendapat pengakuan UNESCO di enam desa DIY, termasuk Desa Glagah, Kulon Progo, pada 2022.
Dengan mawasnya pengetahuan, menunjukkan masyarakat pesisir selatan siaga.
Sehingga, wisatawan merasa lebih aman untuk berpetualang di Jawa Selatan, khususnya Kulon Progo.
"Hal ini juga akan meningkatkan kepercayaan wisatawan maupun investor di Kulon Progo yang menjadi pintu gerbang wisata melalui Bandara Internasional YIA,” tegas Dwikorita.
Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta, Ardhianto melaporkan kegiatan ini diikuti 55 peserta.
Para peserta terdiri atas jajaran pemerintah daerah, BPBD, aparat TNI/Polri, sekolah, SKPD terkait, perwakilan Bandara YIA, PLN, hingga masyarakat pesisir.
“SLG telah kami laksanakan di DIY selama lebih dari 10 tahun dengan berbagai capaian, termasuk terbentuknya desa-desa Tsunami Ready."
"Melalui kegiatan di Kulon Progo ini, kami berharap lahir para champion yang akan menularkan semangat kesiapsiagaan, baik dari tingkat keluarga hingga komunitas,” jelas Ardhianto.
Wakil Bupati Kulon Progo, Ahmad Ambar Purwoko juga berharap masyarakat tak hanya memahami sikap siaga, tapi juga harus mengamalkannya menjaga Kulon Progo tetap aman terkendali.
“Kegiatan sekolah lapang ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah bagi keselamatan masyarakat."
"Kulon Progo patut bersyukur karena Desa Glagah telah diakui UNESCO sebagai masyarakat siaga tsunami. "
"Ilmu yang diperoleh dalam kegiatan ini jangan hanya disimpan, tapi harus diamalkan demi kepentingan bersama,” ungka Ahmad.
Baca juga: Jelang Maghrib: Ramalan Ryo Tatsuki Gempa Megathrust dan Megatsunami di Jepang, Sabtu 5 Juli 2025
267 Tahun Belum Terlepas
Jauh sebelumnya, Dwikorita juga pernah menyampaikan prakiraannya ini kepada para anggota DPR RI.
Dia juga mengungkapkan ancaman Megathrust patut diwaspadai karena sudah 267 tahun belum terlepaskan.
Kendati demikian, dia tidak bisa memprediksikan kapan akan terjadinya Megathrust di Indonesia bagian selatan ini.
"Bismillah, semoga tidak terjadi."
"Kami tidak bisa memprediksi, namun mewaspadai seismik gap ada dua panah besar."
"Ini yang benar-benar kami bersiaga seismik gap."
"Ini adalah energi megathrust yang belum dilepaskan dan tidak tahu akan lepas, namun sudah 267 tahun belum terlepas," kata Dwikorita.
Dia mengatakan, semakin lama energi gempa ini tersimpan, potensi dampaknya semakin besar ketika dilepaskan.
“Nah, di Jepang yang baru saja terjadi itu 78 tahun kemudian terlepas, di tempat yang lain, di Oki Jepang 176 tahun terlepas."
"Di Aceh, tsunami Banda Aceh itu gambaran megathrust itu terlepas setelah energinya 97 tahun," ujar Dwikorita.
Untuk itu, dia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi gempa megathrust.
BMKG kini telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk memastikan langkah mitigasi bencana berjalan secara baik.
"Sehingga sudah sepatutnya semua bersiaga semoga tidak terjadi."
"Kami sudah berkoordinasi dengan PUPR, BNPB, BRIN, BPPD."
"Mohon doanya, semoga tidak akan terjadi," tandas Dwikorita. (*)
Sumber Tribunnews.com
BMKG
megathrust
Megathrust Selatan Jawa
Dwikorita Karnawati
Ahmad Ambar Purwoko
Kulon Progo
Tribunjateng.com
| Identitas Perempuan yang Ditemukan Tewas di Sungai Silandak Semarang, Hanyut saat Berangkat Kerja |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Maryam Korban Banjir di Semarang Ditemukan 1 Kilometer dari Lokasi Hanyut |
|
|---|
| Dahsyatnya Hujan di Semarang Semalam, Ditemukan Mayat Terbawa Arus hingga Aspal Tiba-tiba Mengelupas |
|
|---|
| Kondisi 2 Korban Kecelakaan Motor Terjun ke Jurang di Jepara, Ditemukan di Pinggir Sungai |
|
|---|
| Kronologi Pria Tewas saat Lerai Cekcok di Tempat Biliar, Dikeroyok dan Dilempar dari Lantai 2 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Kepala-Badan-Meteorologi-Klimatologi-dan-Geofisika-BMKG-Dwikorita-Karnawati.jpg)