Berita Temanggung
Ketika Alun-alun Temanggung Menjadi Panggung Bagi Domba Seni Lokal
Gelaran Nyancang Bareng dan Pameran Domba Temanggung di alun-alun merupakan diinisiasi komunitas Domba Seni Lokal (DSL), Minggu (17/5/2026).
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG - Suasana Car Free Day (CFD) di kawasan Alun-alun Temanggung pada Minggu (17/5/2026) pagi tampak berbeda dan jauh lebih semarak dari biasanya.
Perhatian ratusan warga yang sedang berolahraga dan jalan-jalan mendadak teralihkan lebih dari 20 domba yang berjejer rapi di pusat kota.
Kehadiran kawanan ternak ini merupakan bagian dari gelaran "Nyancang Bareng dan Pameran Domba Temanggung" yang diinisiasi oleh komunitas Domba Seni Lokal (DSL).
Uniknya, domba-domba tersebut tidak ditempatkan di kandang komunal biasa, melainkan dipamerkan di dalam kandang individu berbahan kayu yang didesain rapi nan estetis menyerupai mebel pajangan.
Baca juga: Bupati Temanggung: Kearifan Lokal Bahasa Jawa Perkuat Pembentukan Karakter Siswa
• Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme
Bupati Temanggung, Agus Setyawan menyampaikan bahwa domba merupakan salah satu komoditas peternakan potensial.
Menurutnya, domba rumpun asli Temanggung memiliki identitas fisik yang sangat spesifik dan tidak ditemukan di daerah lain.
"Perbedaannya dengan domba rumpun daerah lain, domba temanggung memiliki ekor 'ngotes' atau berbentuk V, serta daun telinga lebar yang menggantung atau 'koploh'," kata Agus Setyawan.
Dia menambahkan, keunikan karakteristik fisik tersebut menjadi modal kuat untuk mengembangkan Domba Temanggung ke arah sektor seni dan kontes.
Sektor ini dinilai memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan domba pedaging biasa.
Seorang peserta pameran, Aditya Bayu mengungkapkan, saat ini domba lokal Temanggung sedang dalam proses pengajuan penetapan Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH) rumpun domba ke Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Jika status ini resmi disahkan, Domba Temanggung akan diakui secara hukum sebagai rumpun endemik asli yang sah dan dilindungi negara, sekaligus mendongkrak nilai tawar ekonominya secara signifikan.
"Memang pas banget kalau domba lokal Temanggung ini bergeraknya ke seni."
"Katuranggan parameternya. Karena ternak ini ketika diberi kasih sayang yang tulus, insya Allah niteni (mengingat dan mengenali pemiliknya)," ungkap warga Mangunsari, Kecamatan Ngadirejo ini. (*)
| Bupati Temanggung: Kearifan Lokal Bahasa Jawa Perkuat Pembentukan Karakter Siswa |
|
|---|
| Sejarah Tari Bangilun Temanggung, Simbol Perlawanan Rakyat Terhadap Penjajahan Era Kolonialisme |
|
|---|
| Nyadran Ageng Bhumi Phala: Simbol Doa dan Ikhtiar Petani Temanggung |
|
|---|
| Langkah "Nyeker" dan Jeda Sepuluh Detik: Cara Bupati Temanggung Ajak Warga Merawat Bumi |
|
|---|
| Bupati Temanggung Dorong Diversifikasi Pertanian Edamame dan Buncis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260517-_-Bupati-Agus-Setyawan-Saksikan-Nyancang-Bareng-dan-Pameran-Domba-Temanggung.jpg)