Minggu, 3 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Temanggung

Nyadran Ageng Bhumi Phala: Simbol Doa dan Ikhtiar Petani Temanggung

Ribuan masyarakat dan petani di lereng Gunung Sindoro-Sumbing menyelenggarakan prosesi sakral Nyadran Ageng Bhumi Phala.

Tayang:
Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Istimewa
NYADRAN AGENG - Ribuan masyarakat dan petani di lereng Gunung Sindoro-Sumbing menyelenggarakan prosesi sakral Nyadran Ageng Bhumi Phala di kawasan Rest Area Kledung, Sabtu (2/5). 

TRIBUNJATENG.COM, TEMANGGUNG – Ribuan masyarakat dan petani di lereng Gunung Sindoro-Sumbing menyelenggarakan prosesi sakral Nyadran Ageng Bhumi Phala di kawasan Rest Area Kledung, Sabtu (2/5).

Nyadran ini sebagai bentuk rasa syukur sekaligus wujud permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Agenda yang mengusung tema “Slametan Olah Tetanen” ini diawali dengan kirab yang mengambil start di Lapangan Desa Kledung.

Peserta kirab mengarak gunungan hasil bumi, tumpeng robyong, hingga tujuh kendi berisi air suci yang berasal dari tujuh sumber mata air berbeda (Sapta Tirta) di wilayah Temanggung.

Dilanjutkan prosesi Jamas Pitu, yakni penyucian tujuh jenis peralatan pertanian utama seperti cangkul (pacul), sabit (arit), dan srobong.

Penggunaan angka tujuh atau pitu dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai simbol pitulungan, sebuah harapan akan datangnya pertolongan Tuhan Yang Maha Esa bagi kesejahteraan warga.

Peringatan Nyadran Ageng tahun ini terasa istimewa dengan penampilan massal Tari Bangilun yang melibatkan sekitar 2.000 penari.

Kesenian asli Temanggung tersebut baru saja diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI. 

Prosesi diakhiri dengan kembul bujana atau makan bersama sebagai simbol persatuan dan gotong royong masyarakat.

"Kami senantiasa berdoa agar hasil panenan dari para petani dapat terus membawa rezeki. Sedangkan Mbangilun Bareng adalah wujud kami dalam nguri-uri kesenian asli Temanggung yang baru saja memperoleh penghargaan sebagai WTtB,” ungkap perwakilan panitia penyelenggara, Basori Setyawan.

Sementara itu, Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menyebut bahwa Nyadran Ageng Bhumi Phala ini merupakan sebuah prosesi untuk memanjatkan doa agar seluruh komoditas tanam memperoleh berkah kesuburan.

Harapannya, hasil panen yang diperoleh memberikan berkah serta kemakmuran bagi petani.

Terlebih, Kabupaten Temanggung juga dianugerahi tanah subur yang terhampar di Gunung Sindoro, Sumbing, dan Prau. Sehingga, keunggulan di sektor pertanian serta perkebunan harus dapat dimaksimalkan agar mampu menjadi penopang perekonomian masyarakat.

“Tak lupa kita juga berikan penghormatan kepada para leluhur yang telah memberikan pondasi pertanian yang baik sehingga Kabupaten Temanggung memiliki slogan Swadaya Bhumi Phala. Kita juga wajib merawat bumi yang selama ini telah memberikan keberkahan pada umat manusia,” ujarnya.

Bupati juga mengungkap bahwa Nyadran Ageng Bhumi Phala ini juga diselenggarakan, sekaligus sebagai peringatan Hari Tari Dunia, Hari Buruh Internasional, serta Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada waktu hampir berdekatan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved