Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Peringatan Pertempuran di Semarang

Ali Iswanto Terkenang Merampas Pistol di Utara Tugu Muda

Haji Muhammad Ali Iswanto (86) terkenang peristiwa meletus pertempuran lima hari di Semarang

Penulis: m alfi mahsun | Editor: rustam aji

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Alfi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG  - Duduk bersama para pejuang lain yang ada di depan Museum Mandala Bhakti, Haji Muhammad Ali Iswanto (86) terkenang peristiwa meletus pertempuran lima hari di Semarang. Pada upacara peringatan kejadian sejarah yang setiap tahun diperingati pada tanggal 14 Oktober itu, Iswanto selalu teringat saat dia merampas pistol milik tentara Jepang yang terkapar di sebelah utara Tugu Muda.

"Saya mengambil pistol itu di tempat yang sekarang menjadi Gedung Pandanaran. Dulu di sana tanah yang luas para pejuang mati-matian bertempur melawan tentara jepang," ujar Iswanto sembari menunjuk ke arah gedung yang kini digunakan sebagai perkantoran Pemerintah Kota Semarang.

Pistol yang dia rampas dari tentara Jepang itu, dia gunakan bergantian bersama adik dan kakaknya untuk melindungi diri dari serangan tentara Jepang. Segala kenangan atas perjuangan dirinya bersama ratusan pemuda di Semarang tergambar dan dia ceritakan kepada Tribun Jateng malam itu.

Iswanto yang duduk bersama teman seperjuangannya Turnomo (92) menyaksimak secara seksama teatrikal peringatan pertempuran lima hari di Semarang yang di gelar di jalan sebelah Selatan Tugu Muda. Dia bahkan masih ingat pertempuran itu bukan terpusat di pinggir Tugu Muda melaikan tepat di Tugu Muda.

"Dulu pertempurannya ada di sekeliling dekat dengan Tugu Muda. Harusnya di tengah taman itu pertempurannya," ujarnya sedikit memprotes, sambil terus mengingat-ingat kejadian saat itu.

Dia menceritakan dulu Museum Mandala Bhakti adalah Kemp Pay Tey atau markas polisi Jepang. "Di sana juga Gubernur Jawa Tengah, Mister Wongso Negoro mengumumkan gencatan sejata dengan pasukan Jepang pada tanggal 18 Oktober," cerita pensiunan tentara Barisan Keamanan Rakyat (BKR) itu.

Iswanto adalah satu dari 20 pejuang yang terlibat dalam pertempuran itu yang masih bisa berjalan sehat. "Ada 40 pejuang lain yang sudah tidak bisa berjalan. Semoga pemerintah tahu perjuangan kita. Dan, pelaku masih hidup dan bisa lebih dihargai lagi," ujar pria paruh baya yang memiliki 8 orang anak dan 17 cucu itu.

Iswanto yang saat ini tinggal di Jalan Nakula Raya Kelurahan Pendrikan Kidul Kecamatan Semarang Tengah berpesan kepada para pemuda dan pemudi Kota Semarang agar melanjutkan perjuangan para sesepuh dengan prestasi yang membanggakan. "Mengenang sejarah dan bisa menceritakanmya seperti tadi sangat membanggakan bagi kami," imbuhnya.
(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved