Berita Batang
PMB Gandeng Sejarawan UGM, Telusuri Jejak Sejarah Batang dari Era Mataram
Upaya menguak akar sejarah Kabupaten Batang terus digulirkan Paguyuban Masyarakat Batang (PMB).
Penulis: dina indriani | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Upaya menguak akar sejarah Kabupaten Batang terus digulirkan Paguyuban Masyarakat Batang (PMB).
Tak sekadar wacana, langkah ini mendapat restu langsung dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang sekaligus mengamanatkan Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, untuk membukukan sejarah Batang secara komprehensif.
Mandat tersebut menjadi tindak lanjut dari kunjungan Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama Pembina PMB Letjen Mar (Purn) Suhartono ke Keraton Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Sejak itu, penggalian sejarah Batang yang diyakini telah eksis sejak masa Kasultanan Mataram Islam di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo kian intensif.
Dr. Sri Margana mulai menelusuri jejak-jejak sejarah di sejumlah situs penting, seperti Makam Astana Pasekaran, Kawasan Pecinan, hingga Komplek Pemakaman Tionghoa di Karangasem Utara.
Temuan awal mengindikasikan bahwa Pelabuhan Batang pernah menjadi pelabuhan utama Kasultanan Mataram, bahkan menjadi titik strategis dalam ekspedisi militer ke Batavia pada tahun 1628.
Pelabuhan Batang bukan sekadar pelabuhan kecil, melainkan adalah simpul penting dalam strategi Sultan Agung melawan VOC.
Ketua DPD PMB Batang, Sukirman, menyambut baik dukungan dari Ngarso Dalem.
Ia berharap, penggalian sejarah ini dapat melahirkan karya monumental berupa buku “Babad Batang” sebagai warisan pengetahuan bagi generasi muda.
“Lewat buku ini, anak-anak Batang bisa tahu bahwa tanah kelahirannya bukan sekadar hasil pemekaran tahun 1966, tapi buah cipta rasa dan karsa para leluhur sejak ratusan tahun silam,” ujarnya pada keterangan rilis, Senin (20/10/2025).
PMB menegaskan bahwa pencarian sejarah ini bukan untuk menggugat, melainkan untuk menemukan kebenaran dan menghormati jejak para pendiri Batang.
Bahkan, jika kelak ditemukan bukti bahwa Kadipaten Batang telah diresmikan pada tahun 1614, maka penyesuaian tahun kelahiran kabupaten bukanlah hal mustahil.
“Kalau memang ada catatan sejarah yang sahih, kenapa tidak kita kembalikan ke akar sejarahnya?” tambah Suhartono.
Sementara itu, Dr. Sri Margana menyebut proses penulisan “Babad Batang” masih dalam tahap awal dan membutuhkan waktu panjang.
Ia menyarankan agar penulisan dilakukan secara bertahap, mencakup era Klasik, Islam, VOC, kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan.
“Sejarah Batang terlalu kaya untuk diringkas dalam satu jilid. Perlu pendekatan bertahap agar narasi sejarahnya utuh dan mendalam,” pungkasnya.(din)
| Pemkab Batang Pastikan Proyek TPST Dibangun Tahun Ini, Layani 9 Kecamatan |
|
|---|
| Kecelakaan di Pantura Batang Akibat Beda Tinggi Jalan, Pemotor Oleng dan Terluka |
|
|---|
| Tiga Pembobol Kotak Amal di Batang Dibekuk Polisi, Pelaku Masih Berusia Belasan Tahun |
|
|---|
| Pemkab Siapkan Food Court Baru, PKL Alun-alun Batang Direlokasi Demi Kembalikan Fungsi Ruang Publik |
|
|---|
| Tak Hanya Siswa Untung, Program Seragam Gratis Batang Tahun Ini Buka Rezeki Ratusan Penjahit Lokal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251020_Sri-Margana.jpg)