Kamis, 14 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Batang

Tari Babalu Diajarkan sebagai Warisan Hidup di SMPN 2 Kandeman Batang

Babalu bukan sekadar tarian, melainkan cerita perjuangan masyarakat Batang yang harus terus hidup di tangan generasi muda. 

Tayang:
Penulis: Tito Isna Utama | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Tito Isna Utama
TARI BABALU - Sejumlah pelajar membawakan Tari Babalu di halaman SMPN 2 Kandeman, Kabupaten Batang. (Dok. Kominfo Batang) 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Suara tabuhan gamelan dan rampak rebana memecah suasana halaman SMP Negeri 2 Kandeman, Kabupaten Batang, Kamis (15/1/2026). 

Puluhan siswa bergerak serempak, mengayunkan tangan dan kaki dalam irama Tari Babalu

Di antara mereka, seorang perempuan paruh baya duduk di balik perangkat gamelan, menabuh dengan penuh penghayatan. 

Baca juga: APBD Dikencangkan, Pemkab Batang Putar Otak agar Layanan Warga Tetap Jalan

Dialah Suningsih, kepala sekolah sekaligus pencipta tari Babalu yang hari itu memilih turun langsung mendampingi anak didiknya.

Bagi Suningsih, Babalu bukan sekadar tarian, melainkan cerita perjuangan masyarakat Batang yang harus terus hidup di tangan generasi muda. 

Hal itu alasan mengapa SMPN 2 Kandeman dikukuhkan sebagai Sekolah Budaya Rampak Rebana Babalu, sebuah predikat yang lahir dari proses panjang latihan dan pembiasaan budaya di sekolah.

“Saya ingin anak-anak yang lulus dari sini minimal menguasai satu tari tradisional Batang. Babalu ini tarian perjuangan, identitas daerah kita,” kata Suningsih kepada Tribunjateng, Jumat (16/1/2026).

Ia menjelaskan jika pagelaran itu bukan hanya pertunjukan, tetapi wujud kedekatan antara guru dan murid. 

Suningsih sengaja menabuh gamelan sendiri, agar para siswa melihat bahwa kecintaan pada budaya harus dicontohkan, bukan sekadar diperintah.

“Kalau kepala sekolahnya ikut turun langsung, anak-anak jadi lebih percaya diri. Alhamdulillah, setelah rutin berlatih, mereka bisa mempersembahkan yang terbaik,” ujarnya.

Kolaborasi tari Babalu dengan rampak rebana menjadi ciri khas SMPN 2 Kandeman. 

Rebana yang selama ini menjadi ekstrakurikuler favorit siswa dipadukan dengan gerak tari tradisional, menciptakan harmoni yang segar dan membumi.

Di barisan penari, Velicia berdiri dengan wajah penuh semangat. 

Siswi yang telah lama mengikuti ekstrakurikuler tari ini mengaku bangga sekolahnya dikukuhkan sebagai Sekolah Budaya Rampak Rebana Babalu. 

Bersama puluhan temannya, ia berlatih selama beberapa pekan demi tampil maksimal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved