Selasa, 2 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Tradisi Sewu Kupat di Kudus, Pemungkas Perayaan Idulfitri

Bada kupat atau lebaran ketupat menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Idulfitri di Kabupaten Kudus

Tayang:
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Diskominfo Kudus
SEWU KUPAT - Tradisi sewu kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3/2026). Tradisi sewu kupat ini rutin digelar setiap tahun di Desa Colo pada tanggal 8 syawal. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Bada kupat atau lebaran ketupat menjadi penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Idulfitri di Kabupaten Kudus.

Bada kupat digelar sepekan setelah tiba bulan syawal atau hari ke delapan bulan syawal.

Dalam bada kupat ini di Kabupaten Kudus yang cukup menonjol yaitu digelarnya tradisi sewu kupat di Desa Colo, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

Dalam tradisi ini biasanya warga membawa rangkaian gunungan ketupat untuk dikirab dari Makam Sunan Muria sampai ke Taman Ria Colo.

Di taman inilah kemudian rangkaian ketupat tersebut diperebutkan.

Tradisi sewu kupat ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat pascalebaran yang sarat nilai religi dan budaya.

 Selain sebagai ajang silaturahmi, sewu kupat ini juga menjadi daya tarik wisata religi yang berkontribusi terhadap kebangkitan ekonomi masyarakat di Kabupaten Kudus.

Baca juga: Bupati Kudus Sam’ani Ajak Warga Investasikan Sisa Uang THR

“Alhamdulillah hari ini Kupatan diselenggarakan melalui Tradisi Sewu Kupat di Desa Colo. Ini menjadi destinasi wisata sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi di Kabupaten Kudus,” ujar Bupati Kudus Sam’ani Intakoris yang hadir dalam tradisi sewu kupat yang digelar pada Sabtu 28 Maret 2026.

Secara langsung Sam’ani mengajak masyarakat untuk terus nguri-uri budaya dengan meneladani ajaran Sunan Muria dan Sunan Kudus. Dalam kesempatan tersebut, Sam’ani juga mengimbau masyarakat untuk menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung. Sebab dalam tradisi tersebut dihadiri oleh ribuan orang.

“Semoga kegiatan ini bermanfaat dan mampu meningkatkan ekonomi serta destinasi wisata. Tahun depan kita harapkan bisa lebih besar lagi,” kata dia.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir anggota DPR RI Musthofa. Dia mengapresiasi pelaksanaan kegiatan sewu kupat.

“Tradisi Sewu Kupat merupakan kebanggaan bagi kita semua. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh penyelenggara,” kata Musthofa yang juga pernah memimpin Kabupaten Kudus selama dua periode.

Musthofa menegaskan pentingnya menjaga kelestarian tradisi sebagai warisan budaya daerah.

“Tradisi Sewu Kupat milik masyarakat Kabupaten Kudus. Pesan saya satu, jaga dan lestarikan tradisi ini,” kata Musthofa.

Parade Sewu Kupat Muria merupakan tradisi tahunan yang digelar di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dalam tradisi ini  melibatkan partisipasi masyarakat luas. Warga dari masing-masing RW di Desa Colo membawa tandu gunungan yang berisi ketupat dan lepet. Selain itu masing-masing perwakilan dari 17 desa yang ada di Kecamatan Dawe juga turut membawa gunungan yang juga berisi ketupat dan lepet.

Kirab gunungan berlangsung dari kompleks Makam Sunan Muria menuju ke Taman Ria Colo.Kirab budaya kian meriah dengan keterlibatan pelajar dari sekolah dan madrasah se-Desa Colo serta organisasi masyarakat. Setiap rombongan diiringi maksimal 20 peserta, sehingga menciptakan suasana yang tertib, meriah, dan penuh kebersamaan. (Goz)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved