Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribunjateng Hari ini

Update Bencana Sumatera: Bulog Sibolga Dijarah Massa, Korban Tewas Capai 316 Orang

Data BNPB: 316 korbantewas dan 289 hilang akibat bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Warga Sibolga jarah gudang Bulog, karena beloum dapat bantuan

Tayang:
Penulis: Yayan | Editor: M Syofri Kurniawan
Tribunnews.com/Bram Kusuma
Jateng Hari Ini Senin 1 Desember 2025 

  • Penjarahan di Sibolga terjadi karena warga lima hari tidak mendapat bantuan, sementara akses darat terputus dan harga pangan melonjak.
  • Pengamat pangan mendesak pemangkasan prosedur penyaluran bantuan, karena aturan CPP dianggap terlalu birokratis dan menghambat distribusi pangan dalam kondisi darurat.
  • BNPB mencatat 316 korban meninggal dan 289 hilang akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, serta menegaskan distribusi bantuan masih terkendala akses yang rusak.

TRIBUNJATENG.COM, SIBOLGA - Akses jalan menuju sejumlah daerah terdampak bencana di sejumlah titik di Pulau Sumatera terputus.

Pengiriman bantuan logistik ke sejumlah daerah terdampak bencana menggunakan jalur udara. Walhasil, karena kesulitan akses, distribusi bantuan untuk warga terdampak bencana belum merata.

Warga terdampak bencana di Sumatera Utara (Sumut) ramai-ramai menjarah Gudang Bulog Sarudik di Sibolga. Mereka terpaksa melakukan penjarahan karena sudah tak lagi mempunyai stok pangan.

Baca juga: Pembagian Bantuan Bencana Tak Merata, Warga Tapanuli Tengah Jarah Swalayan

Baca juga: Naik Mobil Tangki, 2 Hari Terjebak Banjir di SPBU, Istri Gubernur Aceh Tak kuasa Menahan Tangis

Sementara harga bahan makanan melonjak tinggi pascabanjir yang menerjang kawasan itu pada Selasa (25/11) lalu.

Lima hari tak juga tersentuh bantuan, warga pun kemudian melakukan penjarahan. Tak hanya Gudang Bulog, sejumlah toko modern berjejaring juga menjadi sasaran penjarahan.

Pemimpin Wilayah Bulog Sumatera Utara (Sumut), Budi Cahyanto, menyatakan Bulog kini dalam proses pendataan jumlah beras dan minyak goreng yang diambil massa dari Gudang Bulog Sarudik. Gudang Bulog Sarudik mengcover wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng).

"Data terbaru (sebelum terjadi bencana) per 29 September 2025, ada sekitar 2.400 ton beras di Gudang Sarudik," katanya.

Sulitnya distribusi bantuan tak hanya terjadi di Sibolga. Sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatera mengalami nasib serupa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengakui banyak akses menuju lokasi bencana masih terputus. Bantuan logistik korban terdampak banjir dan longsor saat ini dikirim melalui udara.

"Untuk Kota Sibolga sampai hari ketiga penanganan darurat, belum bisa ditembus lewat darat tetapi sudah bisa ditembus lewat udara untuk pendistribusian logistik," kata Suharyanto, Minggu (30/11).

"Tentu saja logistik di Kota Sibolga masih belum cukup, tapi kami yakinkan secara berangsur secara terus menerus ini kami kirim terus setiap ada kesempatan melalui jalur udara," sambung dia.

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan komitmen pemerintah bergerak cepat menyalurkan bantuan melalui jalur darat, laut, maupun udara. Presiden menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengirim bantuan meski menghadapi tantangan cuaca buruk dan akses yang terputus. 

Pengamat: pangkas birokrasi bantuan bencana

Pengamat pangan Khudori menilai prosedur penyaluran Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) saat bencana masih terlalu panjang dan birokratis, sehingga berpotensi menghambat bantuan pangan bagi warga terdampak.

Penilaian ini muncul setelah sejumlah warga di lokasi bencana di Sumatra kesulitan mendapatkan pasokan makanan. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved