Konflik Timur Tengah
Update Harga BBM di Indonesia Setelah Perang Iran Israel dan Harga Minyak dunia Naik
Konsumsi minyak nasional mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengahnya
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Apakah haraga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri Indonesia akan naik menyusul kenaikan harga minyak dunia?
Kenaikan harga minyak dunia menjadi niscaya menyusul perang Israel-AS vs Iran.
Saat ini pemerintah terus memantau perkembangan untuk menetapkan kebijakan terkait harga BBM.
Baca juga: Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Selasa 3 Maret 2026, Kompak Naik
Baca juga: Keberadaan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq setelah OTT KPK, Digiring Petugas Lewat Jalur Belakang
Saat ini harga minyak mentah Brent berada di level US$ 78,83 per barel, naik US$ 1,10 atau 1,4 persen.
Sehari sebelumnya, Brent sempat menyentuh US$ 82,37 per barel, level tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 74 sen atau 1 persen menjadi US$ 71,97 per barel.
Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Piter Abdullah menilai dalam kondisi harga minyak global yang meningkat, tekanan terhadap penyesuaian harga BBM domestik hampir tidak terhindarkan.
Menurut Piter, pertanyaannya bukan semata apakah harga BBM akan naik atau tidak, melainkan sejauh mana pemerintah mampu menahan kenaikan tersebut melalui kebijakan fiskal yang tersedia.
“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Indonesia membuat tekanan tersebut menjadi semakin relevan.
“Konsumsi minyak nasional mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri tidak sampai setengahnya. Ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia dan juga fluktuasi nilai tukar dolar AS,” ujar Piter.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi harga BBM terhadap inflasi relatif besar, baik melalui dampak langsung (first round effect) maupun dampak lanjutan terhadap biaya produksi, distribusi, dan harga barang konsumsi (second dan third round effect).
Dengan struktur tersebut, kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi secara bertahap, tergantung pada respons kebijakan yang diambil.
Subsidi, Nilai Tukar, dan Rantai Pasok
Dalam konteks makroekonomi, Piter menyoroti pentingnya pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilisasi harga dan ketahanan fiskal.
Menurutnya, ruang fiskal pemerintah menjadi faktor kunci dalam menentukan sejauh mana kebijakan subsidi dapat dipertahankan tanpa menimbulkan tekanan yang lebih besar pada anggaran negara.
| Ketegangan Memanas, Iran Klaim Berhasil Tembak Jet Tempur Siluman F-35 AS |
|
|---|
| Menko Zulhas: Stok Pangan Indonesia Tak Terpengaruh Perang Timur Tengah, Beras Cukup hingga Lebaran |
|
|---|
| Konflik Timur Tengah Memanas, Pertamina Buka Suara soal Stok BBM dI Kilang Cilacap Jelang Mudik |
|
|---|
| Buntut Serangan Israel ke Iran, Prabowo Disebut Bakal Evaluasi Keanggotaan RI di BoP |
|
|---|
| Serangan Rudal Kheybar Shekan Iran Buat Nasib Netanyahu "Tidak Jelas" |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251001_SPBU-BBM.jpg)