Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Nasional

"Ayah" Teriak Gina saat Hanyut Terbawa Arus Sungai, Ditemukan Tewas di Bawah Jembatan Cipaku

Ginasya Lintang Sari (18) tewas seusai hanyut terbawa arus sungai di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung pada Rabu (15/4/2026).

Tayang:
Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
Istimewa/SMA NEGERI 1 BANJARAN
KABAR DUKA - Ucapan duka atas meninggalnya Ginasya Lintang Sari (18), siswi SMA Negeri 1 Banjaran yang tewas hanyut terbawa arus sungai di Kampung Girang Deukeut, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026) sore. 

Ringkasan Berita:
  • Ginasya Lintang Sari (18) , siswi SMA Negeri 1 Banjaran menjadi korban tewas seusai hanyut terbawa arus Sungai Cibanjaran Bandung pada Rabu (15/4/2026).
  • Gina sempat berteriak memanggil Ayah saat dirinya hanyut.
  • Gina ditemukan meninggal sekira empat kilometer atau di bawah Jembatan Cipaku beberapa jam kemudian.

 

TRIBUNJATENG.COM, BANDUNG - SMA Negeri 1 Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat berduka selepas salah satu siswinya meninggal karena hanyut terbawa arus Sungai Cibanjaran pada Rabu (15/4/2026) sekira pukul 16.00.

Ginasya Lintang Sari (18) warga Kampung Girang Deukeut, Kecamatan Banjaran ini hanyut seusai sebuah benteng di permukiman tempat tinggalnya roboh dihantam luapan air sungai.

Dia yang berada di sekitar lokasi pun hanyut terbawa derasnya arus tersebut.

Orangtua Gina pun tak menyangka, beberapa kalimat pernyataan sang anak menjadi firasat atas musibah tersebut.

Baca juga: Brak, Gedung Balai Dusun Pendem Tiba-tiba Roboh saat Warga Kerja Bakti, 1 Tewas Tertimpa

Kontainer Melaju Tak Terkendali Tabrak Pohon Mahoni di Welahan Jepara, Pemotor Jadi Korban

Kepergian Gina (18) meninggalkan duka mendalam sekaligus kenangan tentang sosok remaja yang santun dan berbakti.

Remaja yang baru saja menyelesaikan masa studinya di bangku SMA ini hanyut terbawa arus deras luapan air yang menjebol benteng rapuh di lingkungan rumahnya.

Ini sekaligus meninggalkan firasat yang kini baru disadari oleh pihak keluarga. 

Hersi Hardiana (43), ayah korban menceritakan detik-detik memilukan saat dirinya berupaya melawan arus sungai demi menyelamatkan sang buah hati.

Peristiwa itu bermula ketika korban sedang membersihkan genangan air di sekitar rumahnya sembari memantau kondisi tetangga.  

Tanpa diduga, benteng pelindung yang kondisinya sudah retak tak mampu menahan debit air yang meningkat drastis.

"Saya mendengar teriakan warga bahwa ada yang hanyut. Awalnya saya tidak sadar itu anak saya."

"Begitu melihat dua kepala di permukaan air, saya langsung terjun," ujar Hersi seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (16/4/2026).

Dalam situasi hidup dan mati tersebut, Hersi sempat mendengar suara terakhir putrinya yang memanggil, "Ayah!"

Dia terus berenang mengejar tubuh korban sejauh beberapa meter.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved