Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Widya ASN Korban Jambret Meninggal Setelah Koma Empat Hari

Mengingat peristiwa pada Selasa malam itu membuat degub jantungnya kembali berdebar.

Tayang:
Penulis: Sof | Editor: M Syofri Kurniawan
SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI RUMAH SAKIT: Widya Riskyanti (28), staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, meninggal dunia setelah sempat koma selama empat hari di RSUD dr Soetomo Surabaya. Wanita itu mengembuskan napas terakhir pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 15.49 WIB, setelah menjadi korban penjambretan di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya, atau tepatnya di belakang Grand City Mall, pada Selasa (2/6/2026) sore. (SHUTTERSTOCK) 

TRIBUNJATENG.COM, SURABAYA - Widya Riskyanti (28), staf Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, meninggal dunia setelah sempat koma selama empat hari di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Wanita itu mengembuskan napas terakhir pada Jumat (5/6/2026) sekitar pukul 15.49 WIB, setelah menjadi korban penjambretan di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya, atau tepatnya di belakang Grand City Mall, pada Selasa (2/6/2026) sore.

Peristiwa tragis tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama karena almarhumah diketahui sebagai tulang punggung keluarga yang membiayai kehidupan ibunda serta pendidikan dua adiknya.

Baca juga: Terungkap! Jambret di Cilacap Ini Ternyata Memang Incar Lansia, Terancam 9 Tahun Penjara

Tulang punggung keluarga

Widya merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Sejak ayahnya meninggal sekitar setahun lalu, ia menjadi penopang ekonomi keluarga, termasuk membiayai sekolah dua adiknya yang masih menempuh pendidikan.

Kematian Widya membuat keluarga terpukul. 

Sang ibunda, Isnaini Budiarti (53), mengaku tak menyangka anaknya menjadi korban kejahatan hingga merenggut nyawa.

"Ya Allah, Widya tulang punggung kami. Widya masih membiayai adik-adiknya. Kok tega pelakunya Ya Allah," ujarnya saat ditemui di Rusun Indrapura, Sabtu (6/6/2026).

Mengingat peristiwa pada Selasa malam itu membuat degub jantungnya kembali berdebar.

Tak biasanya Widya terlambat pulang.

Biasanya, sore hari, sang anak sudah tiba di rumah, lalu bercengkrama dengan adik-adiknya. 

Namun, Selasa malam itu, gundah gulana menjadi penghantar pertanyaan: mengapa Widya tak kunjung pulang atau berkabar jika memang terlambat sampai rumah. 

Isnaini sempat menelepon sang anak, namun tak kunjung tersambung.

Biasanya, jikalau memang pulang terlambat atau barang kali ada kegiatan tambahan di kantor atau bersama teman-temannya, sang anak selalu berkabar. 

Ternyata, momen mendebarkan pada Selasa malam itu benar-benar terjawab dengan air mata.

Tatkala beberapa orang tetangga mendatanginya dan berkabar bahwa sang anak terlibat kecelakaan seraya menunjuk bukti dokumentasi foto motor sang anak, tangisnya langsung pecah. 

"Katanya ini warga sini itu, tapi motornya juga dilihatin, dilihat difoto toh. Ternyata ya memang itu punya anak saya. Benar ya," katanya. 

Pelaku penjambret berhasil mengambil tas sang anak yang berisi kartu identitas, ATM, uang, dan surat berharga milik sang anak yang disimpan di dalamnya. 

Menurut Isnaini, sang anak biasanya memang lewat rute Jalan Kusuma Bangsa untuk berangkat atau pulang ke rumah. 

Sang anak merupakan ASN di Kantor Dinas Pertanahan Kota Surabaya, sejak tahun 2017.

Beberapa tahun lalu, tempat dinas sang anak berapa di kawasan Surabaya Utara. 

Tapi, setelah Hari Raya Idulfitri 2026 pada kisaran bulan April kemarin, tempat dinas sang anak dipindah agak jauh di Surabaya Selatan. 

"Kalau itu dekat toh ya, aku enggak khawatir. Terus habis Lebaran kemarin langsung pindah ke sana," katanya. 

Menurut Isnaini, insiden penjambretan tersebut membuat anaknya mengalami luka parah pada bagian kepala.

Sang anak sudah sempat mendapatkan penanganan medis berupa operasi, tapi kondisinya tak kunjung membaik. 

Widya terus-menerus dalam keadaan tak sadarkan diri atau koma di kasur perawatan medis. 

Hingga akhirnya, sang anak mengembuskan nafas terakhir pada Jumat (5/6/2026) pukul 15.49 WIB.

"Proses pemulihan gitu sebenarnya. Tapi enggak sadar-sadar dari habis dioperasi itu," pungkasnya. 

Kesaksian mengenai mendiang Widya juga disampaikan sang kakak sulung, Irma Muslika (33). 

Saat berada di rumah sakit, ia sama sekali tidak bisa mengenali wajah sang adik yang kondisinya bengkak terluka dan berdarah. 

Selama ini, dirinya sudah tidak tinggal serumah dengan sang adik di rusun, persisnya semenjak menikah dan dikaruniai dua anak.

Namun, yang bisa mengenali adalah sang ibunda, Isnaini Budiarti. 

Ibundanya mengenali sang adik dari pakaian seragam batik Korpri dinas ASN.

Ternyata, kondisi luka sang adik begitu parah, sehingga harus menjalani operasi. 

Setelah dioperasi, ternyata kondisi sang adik tak kunjung membaik.

Widya, koma selama empat hari, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 15.49 WIB, pada Jumat (5/6/2026)

"Saya dan keluarga mencoba untuk ikhlas. Tapi saya bakal usut terus, Pak, kasus ini. Pelakunya harus mendapat hukuman setimpal," katanya saat ditemui TribunJatim.com.

Irma berharap Anggota Polrestabes Surabaya segera menangkap seluruh pelaku penjambret yang menyebabkan adiknya koma hingga meninggal dunia.

Ia tak ingin penjambret tersebut beraksi kembali dan menyebabkan orang lain meninggal dunia atau terluka.

Irma juga berharap para pelaku dapat dihukum seberat-beratnya

"Saya enggak mau damai, nyawa harus dibayar nyawa, kalau bisa seumur hidup. Polisi semoga bisa menangkap semua pelaku karena sudah menghilangkan nyawa. Jahat banget. Cukup, ke adik saja, jangan ke yang lainnya," pungkasnya. 

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya Iptu Vian Wijaya membenarkan, penyelidikan atas kasus yang dialami korban masih bergulir.

Personelnya masih memburu para pelaku.

"Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com.

Kronologi penjambretan

Peristiwa bermula saat Widya pulang kerja seperti biasa melintasi kawasan Jalan Kusuma Bangsa, rute yang selama ini rutin dilaluinya.

Widya ditemukan tergeletak di tengah jalan seusai dijambret pada Selasa (2/6/2026) sore.

Widya sempat memperoleh penanganan medis di lokasi oleh Tim Medis PMI Kota Surabaya

Lalu, dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya.

Menurut saksi AP, dirinya baru mengetahui kejadian tersebut setelah pulang bekerja, sekitar pukul 17.30 WIB.

Saat itu, dirinya diberitahu temannya yang menggantikannya bekerja untuk sif lanjutan pada malam hari. 

"Teman saya kira kecelakaan biasa. Tapi pas petugas datang ternyata korban itu kena jambret. Perempuan, kayaknya sendirian, iya pakai seragam Korpri biru. Engga tahu PNS atau guru," ujarnya saat ditemui awak media di lokasi, pada Rabu (3/6/2026).

Hal senada juga disampaikan, saksi pedagang soto, LK (32), bahwa dirinya tak mengetahui pasti apakah perempuan tergeletak itu adalah korban kecelakaan biasa atau kejahatan jambret

Namun, kemarin, dirinya sempat melihat korban langsung ditangani oleh petugas BPBD Kota Surabaya yang mendatangi lokasi tersebut.

Lalu, tak lama kemudian, korban dievakuasi menggunakan ambulan. 

"Kemarin waktu aku melintas dari rumah mau kerja ke warung lihat ada mas-mas baju oranye nolong orang di tikungan itu," ujarnya saat ditemui awak media. 

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Genteng Polrestabes Surabaya Iptu Vian Wijaya mengatakan, korban merupakan perempuan berinisial W (28) warga Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya.

Korban merupakan pegawai atau staf berstatus P3K di instansi BPN. 

Kasus tersebut sedang diselidiki oleh personelnya.

Sehingga, Vian belum bisa menyampaikan secara rinci mengenai kasus tersebut, hingga nanti penyelidikan dinyatakan selesai dan pelaku berhasil ditangkap. 

"Masih kamia lakukan penyelidikan, apakah benar laka lantas atau curas. (Latar belakang korban) P3K BPN," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com, pada Rabu (3/6/2026). 

Jalan Kusuma Bangsa Surabaya rawan kejahatan

Sebelumnya diberitakan, seorang remaja berinisial FS (15) pelajar kelas tiga SMP yang sedang mengendarai motor mendadak dibegal oleh empat orang anggota komplotan begal bermotor bersenjata tajam, saat melintasi di kawasan Jalan Rangkah Gang 2, Surabaya, pada Rabu (8/4/2026) malam. 

Akibatnya, Motor Honda Vario 150 New warna hitam doff bernopol L-2141-AAG beserta STNK-nya, dan sebuah ponsel, dengan nilai kerugian total sekitar Rp25 juta, raib dibawa komplotan pelaku. 

Kakak kandung korban Fahmi (25) mengatakan, adiknya sempat ditodong pisau pada bagian perut saat dibawa para pelaku di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Rabu (8/4/2026) malam. 

Sehingga, sang adik kala itu, tidak berani berteriak meminta tolong kepada pengendara yang melintas atau warga yang bermukim di dekat lokasi tersebut. 

Tak cuma itu, sang adik juga sebelumnya sempat dihajar berkali-kali hingga wajah dan beberapa bagian tubuhnya memar akibat pukulan dari keempat pelaku. 

"Sebelum sampai di Jalan Pandan, adik saya sempat diancam diam serta ada perlakuan pemukulan di lajur kiri rel ambengan," ujarnya saat dihubungi TribunJatim.com, pada Kamis (9/4/2025).

Akibat insiden tersebut, lanjut Fahmi, selain kehilangan harta benda dan barang pribadi, sang adik juga mengalami syok dan trauma. 

Kendati begitu, secara umum, kondisi fisik sang adik dalam keadaan stabil atau berangsur-angsur membaik. 

"Alhamdulillah sudah lumayan membaik luka-luka yang dialami cuma luka memar di beberapa titik anggota badan di area pipi, pelipis, punggung. Korban sedikit banyak merasakan trauma," katanya. 

Berdasarkan cerita yang dituturkan sang adik. Fahmi menerangkan, korban semula bermotoran sendirian beriringan bersama satu orang temannya di kawasan perempatan besar Jalan Kenjeran. 

Lalu, motor korban mengarah ke ruas Jalan Rangkah untuk putar balik memasuki Jalan Rangkah Gang II. 

Nah, sesaat setelah 15 meter memasuki gang tersebut. Korban dicegat dan diancam senjata tajam jenis pisau oleh para pelaku berjumlah empat orang. 

"Mereka berboncengan masing-masing berpasangan dua orang mengendarai dua motor. Lalu putar balik menuju rangkah Gang 2. Setelah masuk rangkah Gang 2 kurang lebih 15 meteran tiba-tiba adik saya dipecok sama orang misterius berjumlah 4 orang," ungkapnya. 

"Lanjut ke arah lampu merah Ambengan pelaku mengarahkan kendaraan ke arah resto mi goreng lalu putar balik tepat di belakang Mal Grand City. Lalu pelaku melakukan eksekusi terakhir setelah belok masuk di Jalan Pandan," tambahnya. 

Fahmi menambahkan, para pelaku memaksa korban untuk mengikuti mereka. Caranya, dua orang pelaku tiba-tiba mengambil alih motor yang dikemudikan korban. 

Lalu, korban dipaksa duduk di bagian tengah bangku boncengan untuk dibawa ke suatu lokasi kawasan Jalan Ambengan hingga Jalan Stasiun Gubeng atau tepat belakang Mal Grand City. 

Selama dibonceng paksa untuk berkeliling itu, adiknya terus menerus dihajar oleh para pelaku. Hingga akhirnya korban dibawa di Jalan Kusuma Bangsa. Lalu dipaksa turun dari motor dan diancam bakal ditusuk pisau untuk menyerahkan motor, STNK dan ponsel. 

"Jumlah pelaku 4 orang, pakai pakaian dan jaket serba hitam. Pakai motor Scoopy merah, PCX hitam, Vario hitam kondisi pelat sudah ditutup semua," katanya. 

Menurut Fahmi, sang adik sempat berusaha mengejar dan meneriaki pelaku yang kabur membawa motor tersebut. 

Hingga akhirnya teriakan sang adik berhasil menyita perhatian tiga orang kurir jasa paket dan akhirnya dibantu untuk berkeliling di sekitar ruas jalan tersebut untuk mencari pelaku. 

"Adik saya sudah teriak dan ada lumayan banyak pegawai dari (perusahaan jasa antar barang) yang mengetahui lalu mengejar pelaku, tetapi lagi-lagi pelaku terlalu sat-set dan tidak terkejar," pungkasnya. (*)

 

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Sempat Koma 4 Hari, ASN Pemkot Surabaya Widya Riskyanti Meninggal Dunia Usai Jadi Korban Jambret

Baca juga: Pegawai P3K BPN Tergeletak di Jalan, Diduga Korban Jambret

Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved