Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Viral

Nasib Guru di Sleman Setelah Viral Diminta Mencicipi MBG, Ikut Keracunan Bersama 378 Siswa

Nasib dua guru dilaporkan juga mengalami gejala keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (27/8/2025).

Editor: rival al manaf
(KOMPAS.com/ANDHI DWI)
Menu MBG di SMAN 10 Surabaya,. 

TRIBUNJATENG.COM - Nasib dua guru dilaporkan juga mengalami gejala keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (27/8/2025).

Laporan itu cukup mengejutkan mengingat sebelumnya muncul imbauan guru untuk mencicipi MBG terlebih dahulu sebelum dibagikan ke siswa.

Dua guru juga dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (27/8/2025). 

Baca juga: Lewat Buku “Jawa Tengah Berani Mendunia”, Strategi Ekspor Baru Diluncurkan di Hari Jadi ke-80 Jateng

Baca juga: Ini Kunci Jawaban Bahasa Inggris Kelas 9 Halaman 123, 124, dan 125: Kurikulum Merdeka

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengonfirmasi jumlah korban terdiri dari 378 siswa dan dua guru.

“Populasi berisiko (yang makan) adalah 378 siswa, dua guru,” ujar Yuliati melalui pesan WhatsApp.

Hingga siang, 135 siswa dan dua guru mengalami gejala.

Sebagian besar ditangani langsung di sekolah oleh Puskesmas Berbah.

“Bergejala 135 siswa ditambah dua guru. Rawat jalan di RSUD Prambanan satu (orang), rawat jalan di Puskesmas Berbah dua orang,” jelasnya.

Selain itu, 66 orang mendapatkan penanganan di sekolah.

“Sementara ditangani oleh sembilan nakes dari Puskesmas di lokasi sekolah,” ungkapnya.

Menu MBG yang disantap yakni: Nasi kuning Telur dadar potong Abon Kering tempe Timun Jeruk

Dua siswa sempat dirujuk ke Puskesmas, kini rawat jalan.

 “Insya Allah keadaan aman terkendali,” ujar Yuliati.

Penyebab pasti keracunan belum dipastikan. Dugaan sementara, insiden terjadi usai konsumsi menu MBG.

“Masih diduga pasca makan MBG, belum pasti penyebabnya,” tegasnya.

Diminta Untuk Mencicipi

Sebelumnya Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sleman, Susmiarto, meminta maaf atas pernyataannya yang meminta guru untuk mencicipi makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum dibagikan kepada siswa sebagai antisipasi terulangnya insiden keracunan massal.

Susmiarto meluruskan pernyataannya dan menjelaskan bahwa guru dapat mengecek kelayakan MBG berdasarkan bentuk, warna, atau aroma.

"Pertama, saya memohon maaf. Kedua, saya ingin meluruskan bahwa sekolah dalam hal ini guru dapat ikut mengecek kelayakan MBG berdasarkan bentuk, warna, atau aroma," ujar Susmiarto dalam keterangan tertulis Dinas Kominfo Sleman, Selasa (26/08/2025).

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kehati-hatian agar kejadian keracunan seperi di Mlati tidak terulang.

"Jika menemukan MBG kurang layak, sekolah segera komunikasikan dengan penyedia," tambahnya.

Penyediaan dan penyaluran MBG ke sekolah-sekolah dilakukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN).

Keterlibatan pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dinilai sangat terbatas, sehingga insiden keracunan yang terjadi baru-baru ini memunculkan risiko kewenangan.

"Terkait pengawasan dalam penyaluran, kami berusaha memaksimalkan perangkat yang ada, khususnya Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, untuk mengantisipasi kasus keracunan MBG tidak lagi terjadi," tuturnya.

Susmiarto berharap ke depan, koordinasi dengan BGN dan SPPG akan lebih terbuka dan baik, sehingga penyediaan dan penyaluran MBG di Kabupaten Sleman dapat berlangsung aman dan lancar.

"BGN di tingkat kabupaten segera terbentuk. Harapannya, ke depan, ada standar operasional prosedur yang jelas terkait penyediaan dan penyaluran MBG kepada siswa," urainya.

Ia juga menjelaskan bahwa biaya pengobatan korban keracunan MBG di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan.

Bagi korban yang belum menjadi peserta BPJS, akan difasilitasi melalui Jaring Pengaman Sosial (JPS).

"Untuk korban yang belum menjadi peserta BPJS Kesehatan, kami pastikan difasilitasi melalui Jaring Pengaman Sosial atau JPS," pungkasnya.

Minta guru cicipi makanan

Sebelumnya, Susmiarto menginstruksikan agar guru mengecek dan mencicipi menu MBG sebelum dibagikan ke siswa sebagai respons terhadap insiden keracunan yang menimpa ratusan siswa di empat SMP di Kapanewon Mlati.

“Dinas Pendidikan sudah sering menyampaikan ke sekolah, kalau menerima MBG dari penyedia tolong dicek, diicipi, dipantau. Guru itu tugasnya seperti itu,” kata Susmiarto, Rabu (20/8/2025).

Dalam insiden keracunan di Mlati, seorang guru juga mengalami gejala keracunan setelah mencicipi makanan.

Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme filter sudah berjalan, meski tetap kecolongan.

Pemkab pun menilai perlunya SOP yang lebih tegas untuk pencegahan yang konsisten.

“Ya sudah dibuat (SOP) tertulis. Sehingga kita sudah melakukan mitigasi,” tambahnya.

Namun, sejumlah guru di Kabupaten Sleman mengaku keberatan dengan kebijakan tersebut.

Mereka menilai kebijakan ini muncul mendadak setelah insiden keracunan dan belum melalui kajian matang.

Guru keberatan Salah satu guru SMP berinisial J mengatakan bahwa instruksi mencicipi MBG baru muncul setelah kejadian keracunan di Mlati.

“Sebelum itu belum ada, adanya setelah kejadian di Mlati,” kata J saat dihubungi, Senin (25/8/2025).

Menurut J, hingga saat ini belum ada surat resmi terkait kewajiban mencicipi MBG, meskipun kepala sekolah sudah menyampaikan arahan tersebut.

“Kami belum menerima suratnya, cuman kemarin baru dari kepala sekolah,” ujarnya.

Kebijakan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan guru.

“Menjadi gaduh di tempat kami. Gaduh karena dampak dari keracunan itu, seolah-olah kami ini kemudian menjadi korban dari kebijakan yang belum matang untuk distribusi makanan,” tegasnya.

Guru SD berinisial A juga menilai kebijakan ini tidak tepat meskipun niat pemerintah sebenarnya baik.

"Tapi mungkin niat itu perlu dikaji lagi. Kalau saya kurang setuju dengan itu, guru suruh mencicipi dulu,” kata A.

Ia berpendapat bahwa pencegahan seharusnya menjadi tanggung jawab pihak katering.

“Pihak katering harus memastikan dulu masakannya kualitasnya baik, atau antara waktu masak dan pendistribusian jangan terlalu lama supaya tidak basi,” ujarnya. (*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved