Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Otomotif

Kecelakaan Artis Diva Mara di Jalan Tol Diduga Karena Micro Sleep, Kenali Tanda-tandanya

Microsleep menjadi salah satu risiko terbesar saat berkendara jarak jauh, terutama di jalan tol yang cenderung monoton.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/Dok. Tangkapan Layar Video
KECELAKAAN - Kecelakaan lalu lintas melibatkan mobil sedan terjadi di ruas Tol Jagorawi arah Bogor, tepatnya di Km 24, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (7/2/2026) sore. Mobil sedan Honda City itu terbalik usai menabrak pembatas jalan dan kemudian ditabrak truk boks dari arah belakang. Dua orang dilaporkan mengalami luka-luka. 

TRIBUNJATENG.COM - Microsleep menjadi salah satu risiko terbesar saat berkendara jarak jauh, terutama di jalan tol yang cenderung monoton.

Kondisi ini terjadi ketika pengemudi tertidur sangat singkat, hanya dalam hitungan detik, tetapi cukup untuk membuat kendaraan kehilangan kendali.

Peristiwa paling baru, kecelakaan di Tol Jagorawi arah Bogor, Km 24, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Sabtu (7/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, menjadi salah satu contoh dugaan kasus microsleep di jalan tol.

Baca juga: Sosok Sitti Halimah, Guru Agama Diduga Korban Bullying Kepala Sekolah Sampai Sertifikasinya Ditahan

Baca juga: Wonosobo Jadi Tuan Rumah Kontes Sapi Nasional 2026: Peserta Berebut Mobil Ayla hingga Rekor Muri!

Sedan Honda City menabrak pembatas jalan hingga terbalik, lalu tertabrak truk boks dari arah belakang.

Dua orang dilaporkan mengalami luka-luka.

Plt Kanit Gakkum Satlantas Polres Bogor Ipda Ares Rahman mengatakan, kecelakaan diduga berawal dari pengemudi yang mengalami microsleep.

"Pengemudi Honda City mengantuk (microsleep) sehingga kendaraan menabrak pembatas jalan dan terbalik dengan posisi keempat roda di atas," kata Ares, dikutip Kompas.com, Minggu (8/2/2026).

Training Director Real Driving Centre (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan microsleep umumnya muncul akibat kelelahan dan pola berkendara yang monoton tanpa antisipasi. Banyak pengemudi tidak menyadari penurunan kewaspadaan yang terjadi secara bertahap.

“Kebanyakan pengendara tidak berpikir panjang dan tidak melakukan antisipasi. Padahal, seharusnya pengemudi membangun kebiasaan untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan menghindari setiap potensi bahaya,” ujar Marcell.

Menurut Marcell, kondisi fisik dan mental harus dijaga sejak sebelum perjalanan dimulai.

Kurang tidur dan memaksakan diri mengemudi dalam kondisi lelah dapat menurunkan kemampuan respons secara signifikan.

Marcell menyarankan pengemudi menyiapkan pengemudi pengganti untuk perjalanan jauh, tidak memaksakan diri, tidur cukup sebelum berangkat, serta beristirahat minimal setiap dua jam selama perjalanan.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan microsleep tidak datang mendadak, tetapi melalui tahapan kelelahan.

Biasanya tanda awal muncul setelah beberapa jam mengemudi.

“Biasanya di tiga sampai empat jam pertama pengemudi mulai letih. Kalau diteruskan, masuk ke fase ngantuk berat. Di titik inilah microsleep terjadi,” ujar Sony.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved