UNIMMA
Menkes Tekankan Kebutuhan Dokter Nasional, UNIMMA Ambil Peran Strategis
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Penulis: Adi Tri | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, MAGELNG - Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) resmi meluncurkan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Pendidikan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran (FK) pada Kamis (8/1).
Peluncuran ini menandai komitmen UNIMMA dalam mendukung agenda strategis nasional untuk mengatasi kekurangan dan ketimpangan distribusi dokter di Indonesia.
Launching yang digelar di Auditorium Kampus 1 UNIMMA tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan menyampaikan apresiasi terhadap langkah UNIMMA dan Muhammadiyah dalam memperkuat pendidikan kedokteran nasional. “Saya memang butuh banyak bantuan untuk memperbanyak jumlah dokter dan dokter gigi. Dan saya tahu Muhammadiyah adalah salah satu institusi pendidikan terbesar di Indonesia,” ujar Menkes.
Adapun saat ini, dari 163 Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) di Indonesia, baru 23 perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran, termasuk UNIMMA sebagai Fakultas Kedokteran ke-23. Pemerintah berharap jumlah FK di lingkungan PTMA dapat terus ditingkatkan, dari 23 menjadi 83, sekaligus disertai dengan pengembangan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). “Kalau sekarang ini FK ke-23, mohon bantuannya agar bisa ditingkatkan dari 23 menjadi 83 Fakultas Kedokteran. Dan kalau bisa, izinnya bukan hanya FK, tapi juga FKG,” lanjutnya.
Menkes juga menekankan pentingnya pemerataan wilayah pembangunan institusi pendidikan kedokteran. “Saya berharap FK dan FKG tidak hanya dibangun di Jawa, tetapi juga di Aceh, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan kawasan timur Indonesia lainnya. Dari target itu, sekurang-kurangnya 40 FK diharapkan berdiri di luar Jawa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Menkes menjelaskan bahwa saat ini hampir 500 dari sekitar 10.000 puskesmas belum memiliki dokter, dan hampir 4.000 puskesmas belum memiliki dokter gigi. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pemerataan layanan kesehatan nasional.
Selain jumlah dan distribusi, kualitas lulusan juga menjadi perhatian utama pemerintah. “Muhammadiyah saya harapkan menjadi benchmark atau mercusuar kualitas, bukan hanya dalam standar keilmuan, tetapi juga dalam standar etika dan budaya,” tuturnya.
Dengan peluncuran Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Pendidikan Profesi Dokter ini, UNIMMA menegaskan posisinya sebagai bagian dari solusi nasional dalam penguatan sumber daya manusia kesehatan, sekaligus menjadi titik tolak pengembangan pendidikan kedokteran Muhammadiyah yang lebih merata, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan bangsa.(*)
| UNIMMA Ajak Pelajar Suarakan Gagasan Kritis melalui Lomba Debat Piala Dekan FH 2026 |
|
|---|
| Dosen Doktor UNIMMA Bertambah, Alfian Syarifuddin Teliti Daun Mangkokan sebagai Agen Antiinflamasi |
|
|---|
| Pakar UNIMMA Soroti Dugaan Kebocoran Gas dalam Kasus Kematian Empat Wisatawan di Posong |
|
|---|
| Perkuat Komunikasi Inklusif, UKM FORDA UNIMMA Dampingi Relawan di SLB Negeri Kota Magelang |
|
|---|
| Mahasiswa UNIMMA Salurkan Kepedulian Sosial Lewat Kunjungan ke Ponpes Pandan Wangi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260109_UNIMMA1.jpg)