Readers Note
Membaca Dua Kebahagiaan Indonesia
PIDATO Presiden Prabowo Subianto pada perayaan Natal Nasional, 5 Januari lalu menyentak perhatian publik.
Membaca Dua Kebahagiaan Indonesia
Oleh Hartono Sri Danan Djoyo
Inisiator KeppNas (Komisi Etik dan Perlindungan Pendidik Nasional)
PIDATO Presiden Prabowo Subianto pada perayaan Natal Nasional, 5 Januari lalu menyentak perhatian publik. Dengan mengutip hasil Global Flourishing Study, riset kolaboratif antara Universitas Harvard dan Baylor University, Presiden menyampaikan klaim yang mengejutkan sekaligus (nyaris) membanggakan: rakyat Indonesia disebut sebagai penduduk paling bahagia di dunia. Di tengah situasi global yang dipenuhi konflik geopolitik, tekanan ekonomi, dan kecemasan sosial, pernyataan ini terasa seperti suntikan optimism.
Indonesia yang kerap ditinggal (jauh) dalam berbagai indikator pembangunan tiba-tiba disebut menduduki peringkat paling elit memiliki kebermaknaan hidup (flourishing) tingkat dunia. Yang lebih mencengangkan riset tersebut diselenggarakan oleh dua universitas peringkat paling atas dunia.
Harvard memberikan dasar teoritis ilmiah, Baylor memberikan kedalaman perspektif sosial-agama, dan Gallup menjamin akurasi data di lapangan. Namun, sebagaimana setiap kabar baik dalam ruang publik, klaim ini menuntut pembacaan yang jernih agar tidak berubah menjadi ilusi kebijakan.
Dua Wajah Kebahagiaan
Jika ditelaah lebih dalam, predikat “paling bahagia” memang menyimpan paradoks yang tidak sederhana. Global Flourishing Study menempatkan Indonesia di posisi puncak terutama karena keunggulan dalam aspek non-material. Kekuatan relasi sosial, keteguhan karakter, dan spiritualitas yang mengakar dinilai sebagai fondasi kebahagiaan masyarakat Indonesia. Rakyat dipandang memiliki kemampuan tinggi untuk menemukan makna hidup dan menjaga kohesi sosial, bahkan ketika menghadapi keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian masa depan.
Namun, potret ini tidak sepenuhnya sejalan dengan temuan laporan kebahagiaan dunia yang menggunakan pendekatan berbeda. World Happiness Report, yang lebih menekankan indikator kesejahteraan struktural seperti pendapatan per kapita, jaminan sosial, dan persepsi terhadap korupsi, masih menempatkan Indonesia di lapisan menengah ke bawah. Ketimpangan ini memperlihatkan adanya dua wajah kebahagiaan nasional: kekayaan batin yang mengesankan, tetapi kerapuhan material yang belum tertangani secara memadai.
Rakyat Indonesia memiliki daya lenting sosial yang luar biasa. Mereka mampu bertahan, beradaptasi, dan bahkan merasa cukup bahagia dengan apa yang mereka miliki. Andai dirasa kurang, gotong royong, solidaritas komunitas, dan kekuatan nilai budaya melengkapi “makna” yang hilang tersebut.
Di sisi lain, daya lenting ini justru lahir bukan karena sistem negara yang kokoh, melainkan karena kebutuhan untuk bertahan di tengah layanan publik yang belum memadai. Kebahagiaan dalam konteks ini lebih menyerupai mekanisme bertahan hidup ketimbang hasil dari kesejahteraan yang dirancang secara sistemik.
Jebakan Romantisasi
Leluhur bangsa mewariskan peradaban hidup yang luar biasa: ketahanan psikologis dan kekuatan. Warisan ini harus disyukuri sebagai modal yang sangat berharga, apalagi di saat negara belum mampu menyediakan layanan terbaik yang harusnya diterima. Namun, rasa syukur demikian tidak boleh tergelincir menjadi romantisasi.
Ketika ketabahan rakyat dirayakan secara berlebihan, terdapat bahaya bahwa daya tahan tersebut justru dijadikan pembenaran atas lambatnya perbaikan yang harusnya disajikan oleh struktur kekuasaan. Rakyat dipuji karena mampu bertahan, sementara negara merasa cukup hanya dengan mengafirmasi kebahagiaan simbolik.
Ekonom dan filsuf pembangunan India Amartya Sen pernah mengingatkan tentang paradoks petani bahagia. Dalam kondisi kemiskinan ekstrem, seseorang bisa saja menyatakan dirinya bahagia karena telah menyesuaikan ekspektasi hidup terhadap realitas yang keras. Kebahagiaan semacam ini bukan cerminan kesejahteraan sejati, melainkan hasil adaptasi psikologis terhadap keterbatasan pilihan. Di titik ini, kebahagiaan berubah dari indikator kemajuan menjadi cermin kegagalan yang diterima.
Dalam konteks Indonesia, budaya nrimo, rasa syukur, dan solidaritas sosial merupakan kekayaan moral yang tidak ternilai. Namun, kekayaan ini tidak boleh disalahartikan sebagai tanda bahwa sistem perlindungan sosial telah bekerja optimal. Ketika rakyat bahagia karena saling menopang satu sama lain, pertanyaan mendasar yang patut diajukan adalah apakah kebahagiaan itu lahir dari kehadiran negara, atau justru dari absennya negara dalam menjamin hak-hak dasar warga.
Gotong royong yang kuat kerap berfungsi sebagai jaring pengaman informal di tengah birokrasi yang lamban dan pelayanan publik yang belum memadai. Relasi sosial dan spiritualitas menjadi sandaran ketika jaminan sosial formal sulit diakses atau tidak sepenuhnya dapat diandalkan. Kebahagiaan yang tumbuh dari kemandirian sosial rakyat seperti ini sesungguhnya adalah kritik diam terhadap keterbatasan institusi formal yang seharusnya hadir lebih awal kuat memberikan pelayanan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Hartono-Sri-Danan-Djoyo.jpg)