Senin, 8 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

Mens Rea sebagai Komunikasi Publik: Kritik Etika antara Kebebasan dan Tanggung Jawab

Mens Rea dibaca sebagai praktik komunikasi publik yang memicu dialog etika antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: galih permadi
IST
Komunikasi Kompleks Mens Rea: Kritik Etika dalam Komunikasi Publik antara Kebebasan dan Tanggung Jawab Oleh: Dr. Turhamun, M.S.I Dosen KPI Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H Saifudin Zuhri Purwokerto 

Oleh: Dr. Turhamun, M.S.I
Dosen KPI Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H Saifudin Zuhri Purwokerto

TAYANGAN Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono di Netflix bukan sekadar pertunjukan stand-up comedy. Ia adalah peristiwa komunikasi publik yang hidup di tengah ekosistem digital yang cair, penuh tafsir, dan sarat ketegangan etis. 

Reaksi publik yang beragam dari tawa, dukungan, hingga kecaman menunjukkan bahwa Mens Rea bekerja sebagai komunikasi yang tidak sederhana. Ia tidak berhenti sebagai hiburan, melainkan bergerak menjadi wacana sosial yang diperdebatkan di ruang publik digital.

Dalam konteks ini, Mens Rea menarik untuk dibaca melalui pendekatan komunikasi kompleks, dipadukan dengan teori tindakan komunikatif Jurgen Habermas, serta ditinjau dari etika komunikasi publik. 

Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa persoalan utama bukan terletak pada setuju atau tidak setuju terhadap isi Mens Rea, melainkan pada bagaimana komunikasi publik bekerja, diproduksi, disebarkan, dan dipertanggungjawabkan dalam masyarakat demokratis digital.

Mens Rea dan Karakter Komunikasi Kompleks: Cair, Berlapis, dan Tidak Linier

Dalam teori komunikasi kompleks yang penulis temukan dan pertahankan dalam sidang terbuka doktoral pada 22 Oktober 2025, menegaskan bahwa komunikasi dipahami sebagai proses yang tidak bisa direduksi menjadi hubungan sebab akibat yang sederhana. 

Komunikasi selalu berlangsung dalam sistem sosial yang dinamis, penuh ketidakpastian tergantung pada situasi dan kondisi, dan saling memengaruhi. Mens Rea merupakan contoh konkret dari praktik komunikasi semacam ini.

Pertama, komunikasi dalam Mens Rea bersifat cair. Ketika pertunjukan ini ditayangkan di Netflix, ia tidak lagi terikat pada ruang dan waktu tertentu. Ia dapat ditonton ulang, dibicarakan lintas generasi, dipotong menjadi klip pendek, dan disirkulasikan di berbagai platform media sosial.

Dalam proses ini, makna menjadi fleksibel dan mudah bergeser. Pesan yang awalnya hadir dalam satu narasi utuh berubah menjadi fragmen-fragmen yang hidup dalam konteks baru.

Kedua, Mens Rea juga bersifat berlapis. Pada lapisan terluar, ia tampil sebagai hiburan yang memancing tawa. Namun di balik itu terdapat lapisan kritik sosial, refleksi politik kebudayaan, hingga pertanyaan normatif tentang cara masyarakat merespons perbedaan pandangan.

Stuart Hall, pakar kajian budaya dan komunikasi, menyebut proses ini sebagai encoding–decoding: pesan yang dikodekan oleh komunikator tidak selalu didekode secara sama oleh audiens. Audiens membawa latar sosial, ideologi, dan pengalaman masing-masing dalam menafsirkan pesan.

Ketiga, komunikasi Mens Rea bersifat tidak linier. Dampak komunikasi tidak selalu sejalan dengan niat awal komunikator. Humor yang dimaksudkan untuk mengajak berpikir kritis dapat berujung pada kemarahan atau penolakan. Kritik yang diniatkan sebagai refleksi justru dibaca sebagai serangan identitas. 

Dalam perspektif komunikasi kompleks, efek semacam ini bukan kegagalan komunikasi, melainkan konsekuensi logis dari komunikasi yang bekerja dalam sistem sosial yang majemuk dan terfragmentasi. 

Oleh karena itu, Mens Rea tidak bisa dipahami hanya dari teks pertunjukannya, tetapi juga dari dinamika sosial yang mengitarinya. Ia adalah komunikasi yang hidup, berubah, dan terus dinegosiasikan maknanya di ruang publik. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved