UIN Walisongo Semarang
10 Guru Besar UIN Walisongo Serukan Cinta Negeri dan Kemanusiaan di Era Disrupsi demi Indonesia Maju
Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menggelar Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Sepuluh Guru Besar pada Sabtu (14/2/2026)
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menggelar Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Sepuluh Guru Besar pada Sabtu (14/2/2026) di Gedung Tgk Ismail Yaqub.
Momentum ini menjadi tonggak penguatan kapasitas akademik sekaligus penegasan komitmen UIN Walisongo dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan di tengah disrupsi global, mulai dari etika kecerdasan artifisial hingga keberlanjutan.
Sidang senat dibuka oleh Prof. Dr. Musahadi dan dipimpin Rektor UIN Walisongo,Prof.Dr. Nizar,M.Ag.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan selamat kepada sepuluh guru besar yang dikukuhkan dan menegaskan bahwa hingga awal 2026 UIN Walisongo telah memiliki 76 guru besar.
“Ini merupakan modal akademik yang sangat kuat. Saya optimistis jumlah guru besar akan terus bertambah karena fondasi pengembangan keilmuan dan SDM UIN Walisongo semakin matang,” ujarnya.
Rektor menyampaikan apresiasinya kepada Guru Besar yang dilantik hari ini
Menurutnya, Prof. Abdul Muhaya melalui gagasan spiritualitas Wahdat al-Syuhud menghadirkan fondasi batin yang menegaskan bahwa kekuatan peradaban berakar pada kejernihan spiritual.
Sementara Prof. Safii berhasil membumikan teologi melalui konsep Living Theology yang relevan dengan kehidupan sosial dan praksis kemanusiaan.
Di tengah arus teknologi digital dan kecerdasan artifisial, Rektor menilai Prof. M. Mudhofi menawarkan perspektif penting melalui Teologi Digital moderat agar kemajuan teknologi tetap berpijak pada nilai ketuhanan dan kebijaksanaan.
Adapun Prof. Ali Imron menegaskan urgensi hukum perdata Islam yang kontekstual dan berkeadilan dalam menjawab dinamika masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, Rektor mengapresiasi gagasan Prof. Ali Murtadho yang menekankan ekonomi Islam berbasis keadilan peradaban dan kesejahteraan inklusif.
Sementara Prof. Fihris, menurut Rektor, menghadirkan pendidikan Islam multikultural yang memperkuat kohesi sosial dan penghargaan terhadap keragaman sebagai sunnatullah.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Prof. Fahrurrozi melalui manajemen pendidikan Islam berbasis maqashid al-syari’ah, yang dinilai Rektor sebagai pendekatan strategis dalam memastikan kebijakan pendidikan berorientasi pada kemaslahatan.
Rektor juga menyoroti kontribusi Prof. Fatkuroji dalam membangun pemasaran pendidikan yang berdaya saing berbasis reputasi dan kepercayaan publik.
Sementara itu, Prof. A. Umar dinilai memberikan penekanan penting pada kepemimpinan madrasah yang transformatif dan visioner.
| Akselerasi Internasionalisasi, Rektor UIN Walisongo Lantik 115 Pejabat Baru |
|
|---|
| Rektor UIN Walisongo Dorong Kepemimpinan Responsif dan Berintegritas di Level Middle Management |
|
|---|
| UIN Walisongo Lantik Pejabat Baru, Perkuat Tata Kelola Kelembagaan |
|
|---|
| PBI UIN Walisongo Gelar Academic Excursion Bersama UHN Sugriwa Denpasar |
|
|---|
| Perkuat Zona Integritas, UIN Jurai Siwo Lampung Lakukan Studi Tiru ZI WBK–WBBM ke UIN Walisongo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260214_uinws688855558888.jpg)