Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UKSW SALATIGA

Marcella Violin dan Profesor Ferdy Ajak Mahasiswa PPG UKSW Cegah Bullying

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar Workshop Anti-Bullying

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Penampilan dr. Marcella Aprilia, M.M membuka sesi pemaparan materi Workshop Anti-Bullying, Kamis (21/5/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar Workshop Anti-Bullying “Dampak Medis, Psikologi, dan Hukum” dalam suasana interaktif yang asyik, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan ini berlangsung di Balairung Universitas dengan menghadirkan dr. Marcella Aprilia, M.M dan Profesor Dr. Ferdy S. Rondonuwu sebagai narasumber.

Marcella Aprilia merupakan sosok inspiratif dengan beragam talenta dan pencapaian membanggakan.

Dikenal luas sebagai Marcella Violin, ia tidak hanya berprofesi sebagai dokter, tetapi juga aktif sebagai violinist dan penyanyi. 

Kepiawaian Marcella sebagai violinist membuka sesi paparan yang bertajuk Membangun Budaya Empati di Lingkungan Pendidikan.

Dengan gaya interaktifnya, Marcella yang saat ini tengah menempuh studi di Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum (FH) UKSW menyampaikan materi seputar bullying mulai dari definisi dan jenis, dampak medis dan psikologis, aspek hukum serta strategi pencegahan dan penanganan di sekolah. 

20260525_uksw5555535555
Narasumber Profesor Dr. Ferdy S. Rondonuwu saat menyampaikan materi pada Workshop Anti-Bullying, Kamis (21052026).

Di hadapan ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK), Pendidikan Matematika, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, serta mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PGG) UKSW, Marcella mengingatkan bahwa guru memiliki posisi yang sangat penting dalam pencegahan bullying karena dampaknya sangat luas baik secara fisik maupun psikologis.

“Peran guru dan calon guru sangat penting sebagai role model di sekolah. Guru harus mampu membangun budaya empati, mendampingi korban maupun pelaku, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman,” ujar Marcella.

Profesor Ferdy S. Rondonuwu yang juga merupakan Wakil Rektor Bidang Pengajaran, Akademik, dan Kemahasiswaan (WR PAK) dalam materinya juga menekankan bahwa membangun pembelajaran yang lebih sehat merupakan hal yang penting dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, pembelajaran yang sehat akan memberikan ruang bagi siswa untuk pulih, berkembang, dan berani berpikir. 

Guru Besar Ilmu Fisika ini juga menyoroti budaya pendidikan di Indonesia yang masih sering membuat siswa takut berbeda pendapat atau takut dianggap salah.

Dalam banyak forum, ketika diberi kesempatan bertanya, hanya sedikit siswa yang berani mengangkat tangan. 

“Karena itu, pendekatan pembelajaran modern seperti student-centered learning, inquiry learning, problem-based learning, dan project-based learning menjadi penting untuk diterapkan. Dasar utama dari semua pendekatan tersebut adalah kemampuan guru dalam mengajukan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir,” imbuhnya.

Pendidikan Berdaya

Saat membuka acara, Dekan FKIP Dr. Helti Lygia Mampouw, S.Pd., M.Si., menyampaikan sekolah harus menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar sekaligus mengembangkan potensi peserta didik, karena lingkungan yang kondusif menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan bahagia.

Melalui seminar ini peserta diingatkan kembali akan peran pendidikan dalam membangun imajinasi, pengembangan diri, dan perluasan pemahaman karena pertumbuhan siswa banyak dipengaruhi oleh kehidupan sekolah. 

“Sebagai guru atau calon guru, kita bertanggung jawab menciptakan suasana belajar yang positif dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh,” imbuhnya.

Ketua Program Studi PPG Profesor Dr. Sri Yulianto Joko Prasetyo, S.Si., M.Kom., mengungkapkan, acara ini merupakan satu rangkaian dengan kegiatan Diklat Penguatan Kebhinekaan dan Bela Negara yang telah berlangsung sebelumnya.

Melalui kegiatan ini mahasiswa PPG memantapkan komitmennya untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. 

Workshop ini merupakan salah satu kontribusi nyata UKSW untuk mendukung program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Selain itu, agenda ini juga merupakan kontribusi nyata UKSW dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 Pendidikan Berkualitas, ke-16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh dan ke-3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A.

Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah.

Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat. Salam Satu Hati UKSW!(***)

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved