Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN Walisongo Semarang

Suarakan Kesetaraan Gender Lewat Film, Santri ini Jadi Lulusan Terbaik KPI UIN Walisongo

Pelepasan dan Pembekalan Wisuda Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo di Hotel Mahima. Di antara deretan

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Tahayu Unnihayah dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) S1 dengan raihan IPK 3,75. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG –  Pelepasan dan Pembekalan Wisuda Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo di Hotel Mahima.

Di antara deretan lulusan berprestasi, nama Tahayu Unnihayah berhasil mencuri perhatian setelah dikukuhkan sebagai wisudawan terbaik Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) S1 dengan raihan IPK 3,75.

Bagi mahasiswi yang akrab disapa Tahayu ini, pencapaian tersebut merupakan kejutan manis yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Apalagi, selama masa perkuliahan, ia harus membagi fokusnya antara belajar di ruang kelas kampus dan mengabdi di dalam pondok pesantren.

“Alhamdulillah, perasaan saya senang dan penuh sekali. Saya tidak menyangka bisa sampai di posisi ini,” ungkap Tahayu dengan mata berbinar.

“Untuk target, saya tidak pernah menargetkan menjadi wisudawan terbaik. Niat awal saya murni untuk kuliah bersungguh-sungguh demi mendapat ilmu yang bermanfaat bagi manusia lain. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi rezeki yang tidak terduga.”

Sesuai dengan disiplin ilmunya di bidang media dan komunikasi, Tahayu menyusun tugas akhir yang kritis dan berbobot.

Ia sukses mempertahankan skripsi berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Film ‘Perjalanan Pembuktian Cinta’ Karya M. Amrul Ummami (2024)”.

Tahayu membeberkan bahwa keresahannya terhadap realitas sosial menjadi pemantik utama ia memilih topik tersebut.

“Saya tertarik mengambil judul ini karena melihat adanya ketidakadilan gender yang masih langgeng dalam kehidupan nyata maupun di dalam media. Melalui skripsi ini, saya ingin membuktikan bahwa sesama manusia mempunyai hak yang sama,” jelasnya.

Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya yang seringkali stres saat menyusun tugas akhir, Tahayu justru melewatinya dengan penuh suka cita.

Baginya, menulis skripsi adalah ruang perjuangan ideologis.

“Alhamdulillah sekali, jujur saya tidak pernah merasakan kesusahan dalam mengerjakan skripsi. Perjalanan saya bisa dikatakan lancar karena saya menjalaninya dengan senang. Saya menulis sekaligus membuktikan bahwa semua manusia itu sama,” tambahnya.

Menjalani peran ganda sebagai mahasiswi sekaligus santri yang mukim di pondok bukanlah perkara mudah. Tahayu mengakui sempat merasa kesulitan di awal dalam membagi waktu.

Namun, ia berhasil mengatasinya dengan manajemen diri yang disiplin.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved