Rabu, 3 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

UIN SAIZU Purwokerto

ICONTREES 2026 UIN Saizu Soroti Peran Ekoteologi dalam Menjawab Krisis Lingkungan Global

ICONTREES 2026 UIN Saizu membahas ekoteologi, keberlanjutan lingkungan, AI, dan masa depan studi Islam global.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
ICONTREES 2026 UIN Saizu membahas ekoteologi, keberlanjutan lingkungan, AI, dan masa depan studi Islam global. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO- Isu ekoteologi, keberlanjutan lingkungan, dan tantangan revolusi pengetahuan menjadi pembahasan utama dalam sesi pleno (Plenary Session) The 5th Saizu International Conference on Transdisciplinary Religious Studies (ICONTREES) yang diselenggarakan International Office UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Rabu (3/6/2026).

Bertempat di Hall Perpustakaan UIN Saizu, sesi pleno menghadirkan empat keynote speaker dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan Filipina.

 Diskusi ilmiah tersebut dimoderatori oleh Ketua Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Saizu, Desi Wijayanti Ma’rufah, serta diikuti ratusan peserta yang terdiri atas akademisi, mahasiswa, peneliti, dan presenter dari berbagai negara.

Mengangkat tema besar “Beyond the Cosmos: Transdisciplinary Perspectives on Ecotheology and Global Sustainability”, para pembicara menawarkan berbagai perspektif lintas disiplin dalam menjawab tantangan krisis lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan transformasi studi Islam di era modern.

Keynote speaker dari Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Dr. Mashitah Sulaiman, menyoroti pentingnya mentransformasikan nilai-nilai Islam menjadi tindakan nyata melalui integrasi ekoteologi dan etika lingkungan ke dalam sistem pendidikan.

Menurutnya, krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh persoalan teknis, tetapi merupakan manifestasi dari krisis spiritual yang berakar pada pandangan dunia antroposentris dan sekuler.

Paradigma tersebut memisahkan aspek spiritual dari kehidupan sehari-hari dan memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi ekonomi.

Sebagai alternatif, Dr. Mashitah menawarkan konsep “Jaringan Tauhid” yang menempatkan alam sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Dalam perspektif ini, manusia berperan sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam (mizan) dan mencegah kerusakan (fasad).

Ia menekankan bahwa transformasi nilai-nilai tersebut harus diwujudkan melalui reformasi pendidikan yang komprehensif, termasuk integrasi ekoteologi ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam, penguatan fikih lingkungan (fiqh al-bi’ah), serta pengembangan model Eco-Pesantren sebagai laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan.

“Pelestarian lingkungan bukan sekadar pilihan kebijakan yang pragmatis, tetapi merupakan mandat suci untuk menjaga keseimbangan bumi,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Nita Triana dari UIN Saizu mengulas pentingnya ekoteologi sebagai fondasi etis bagi pembangunan berkelanjutan. 

Ia menilai berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari paradigma pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, meskipun konsep Sustainable Development Goals (SDGs) telah banyak diadopsi dalam berbagai kebijakan, implementasinya masih didominasi cara pandang antroposentris yang menjadikan alam sebagai instrumen ekonomi semata.

“Keberhasilan pembangunan tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau peningkatan produk domestik bruto, tetapi juga dari kemampuan menjaga keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan generasi mendatang,” ujarnya.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved