Ramadan 2026
Ramadan 2026, Kisah Transpuan Semarang Konsisten 7 Tahun Ajari Tetangga Ngaji
Suara bacaan huruf hijaiyah melantun pelan di balik sebuah rumah berlantai dua di sudut kampung Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suara bacaan huruf hijaiyah melantun pelan di balik sebuah rumah berlantai dua di sudut kampung Randusari, Semarang Selatan, Kota Semarang.
Suara itu berasal dari empat anak kecil yang duduk bersila di ruang tamu rumah tersebut.
Mereka terdiri dari tiga perempuan dan satu laki-laki yang semuanya memandang lekat buku Iqro.
Ruang tamu tempat mengaji anak-anak tersebut tampak penuh oleh alat rias yang ditaruh di atas kursi di pojok kanan ruangan.
Arah sebaliknya, terlihat ada almari kaca bening setinggi 2 meter berisi baju pengantin.
Di hadapan anak-anak, ada seorang transgender perempuan (transpuan), Silvy Mutiari (46) yang memandu anak-anak itu untuk secara bergantian belajar mengaji.
Sesekali Silvy mengoreksi bacaan anak tersebut yang salah membaca huruf dan harakat.
Di tengah mengamati bacaan anak-anak, Silvy yang mengenakan setelan jilbab dan baju lengan panjang hitam dipadu rok motif kotak-kotak corak warna-warni itu sesekali membetulkan posisi duduknya.
Silvy sudah tujuh tahun terakhir menjadi guru mengaji bagi sejumlah anak di kampungnya.
Baca juga: Doa Lengkap Setelah Salat Witir, Dilengkapi Arab, Latin dan Artinya
Muridnya adalah anak dari tetangganya sendiri.
"Iya orang tua mereka yang meminta saya mengajari mengaji, ada tujuh anak," ucap Silvy kepada Tribun, Jumat (20/2/2026).
Silvy menyebut, orangtua mereka meminta dirinya sebagai guru mengaji kemungkinan karena latar belakang dirinya yang dari kecil sudah pandai membaca Alquran.
Ibunya, dulu juga merupakan guru ngaji di kampung.
"Ibu sejak tahun 2005 sudah mengajari anak-anak di sini ngaji, beliau sudah meninggal dunia, lalu diteruskan kakak perempuan saya dan saya sendiri baru mulai tahun 2019," ucapnya.
Ia sendiri mengaku, alasan berkenan mengajar mengaji karena ingin meneruskan semangat ibunya.
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260221_transpuan.jpg)