Ramadan 2026
Gule Otot Pekalongan, Kenyal Empuk yang Bikin Rindu Pesisir Tersaji di Khas Hotel
Kuliner khas Pekalongan, Jawa Tengah, itu dihadirkan dalam sajian iftar Ramadan 2026 di Khas Hotel Semarang.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gule otot tersaji di mangkuk dengan kuah santan cokelat keemasan yang mengepul harum. Aroma rempah seperti kapulaga dan cengkeh terasa hangat dan menggugah selera.
Potongan ototnya tampak kenyal, namun memberikan tekstur empuk dan lembut dengan kuah gurih meresap, cocok disantap bersama nasi hangat.
Kuliner khas Pekalongan, Jawa Tengah, itu dihadirkan dalam sajian iftar Ramadan 2026 di Khas Hotel Semarang. Mengangkat tema "Jelajah Rasa", para tamu diajak untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner nusantara dan mancanegara dalam satu meja.
Baca juga: Horison Ultima Sentraland Simpang Lima Semarang Luncurkan Paket Iftar RAMADAN KAREEM
Gule otot Pekalongan menjadi menu signature di hotel tersebut. Executive Sous Chef (ESC) Khas Hotel Semarang, Dwi Ariadi menjelaskan, kunci kelezatan hidangan ini terletak pada teknik pengolahan otot sapi.
Sebelum diolah bersama bumbu, otot sapi direbus terlebih dahulu selama sekitar 30 hingga 40 menit dengan api kecil. Proses ini menurutnya bukan hanya untuk mengempukkan teksturnya, tetapi juga untuk menghilangkan aroma amis yang kerap muncul pada potongan otot.
"Air rebusan pertama kami buang, karena biasanya masih menyisakan bau amis. Setelah itu baru kami gunakan air baru untuk proses memasak selanjutnya," terang Dwi Ariadi, Rabu (25/2/2026).
Sementara itu, bumbu dasar yang digunakan merupakan bumbu merah khas Indonesia. Racikan ini terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, dan ketumbar yang dihaluskan.
Untuk memaksimalkan cita rasa, ditambahkan pula anistar, kapulaga, cengkih, serta rempah-rempah lain yang memperkaya aroma.
Bumbu yang telah dihaluskan kemudian ditumis hingga harum dan matang. Setelah itu, potongan otot sapi yang telah direbus dimasukkan ke dalam tumisan bumbu, lalu ditambahkan air dan dimasak hingga mendidih agar rempah meresap sempurna.
Tahap akhir menjadi penentu kelezatan kuahnya. Santan baru dimasukkan ketika daging sudah empuk dan kuah mendidih, lalu dimasak dengan teknik simmer atau api kecil.
Cara ini dilakukan agar santan tidak pecah dan menghasilkan tekstur kuah yang lebih lembut serta menyatu dengan bumbu.
Menurut Dwi, gule khas Pekalongan berbeda dengan gulai khas Sumatra yang cenderung lebih kental dan berwarna kuning. Gule khas Pekalongan memiliki kuah yang lebih encer dengan cita rasa rempah yang lebih kuat namun tetap ringan di lidah.
Untuk penyajian, nasi hangat ditempatkan dalam mangkuk, lalu disiram gule otot lengkap dengan potongan dagingnya.
Hidangan ini dapat dipadukan dengan tambahan sambal terasi sebagai kondimen. Sambal tersebut dibuat dari cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, terasi, dan sedikit tomat yang diulek hingga halus.
Sebagai sentuhan akhir, taburan bawang merah goreng ditambahkan di atasnya untuk memberikan aroma gurih yang semakin menggoda selera.
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260226_GULE-OTOT-PEKALONGAN.jpg)