Ramadan 2026
Menapaki Jejak Syekh Hasan Munadi, Wali Penyebar Islam di Ungaran dan Karomah Sendangnya
Suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di area makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat
Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muslimah
Menapaki Jejak Syekh Hasan Munadi, Wali Penyebar Islam di Ungaran dan Karomah Sendangnya
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di area makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Pada awal Ramadan ini, suasana tampak lebih lengang dibanding hari-hari biasa.
Hanya beberapa peziarah duduk bersila di serambi, menundukkan kepala, mengirimkan doa untuk sang wali yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang.
Baca juga: Menelusuri Jejak Syekh Hasan Munadi yang Hidup Sezaman Sunan Kalijaga di Ungaran
Sementara di sisi seberang, terdapat pula makam putranya, Syekh Hasan Dipuro. Kompleks pemakaman ini menjadi saksi perjalanan dakwah Islam yang telah berlangsung ratusan tahun silam.
Penjaga makam, Arif Hidayat menuturkan, sosok Syekh Hasan Munadi memiliki kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.
"Beliau dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang. Ada yang menyebut beliau putra Prabu Brawijaya V," ujar Arif, Jumat (27/2/2026).
Menurut penuturan yang berkembang, Syekh Hasan Munadi pernah menimba ilmu di Surabaya kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel.
Setelah dianggap cukup dalam ilmu agama, ia mendapat mandat untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Semarang, sementara Raden Patah berdakwah di Demak.
Arif menjelaskan, Syekh Hasan Munadi wafat di Ponorogo. Namun sebelum wafat, ia telah berwasiat kepada putranya, Syekh Hasan Dipuro, agar kelak dimakamkan di tempat yang kini menjadi kompleks makam di Nyatnyono.
"Beliau berpesan, kalau meninggal di mana saja, mohon dimakamkan di tempat yang sudah beliau tunjuk ini," kata Arif.
Konon, pada malam 21 Ramadan, jenazah Syekh Hasan Munadi dipindahkan dari Ponorogo ke Nyatnyono untuk dimakamkan sesuai wasiatnya.
ejak saat itu, setiap tanggal 21 Ramadan digelar haul untuk mengenang jasa dan perjuangannya.
Pada malam haul, kawasan makam dipadati peziarah. Pengajian digelar di bawah kompleks makam, sementara di Masjid Subulussalam, yang merupakan peninggalan Syekh Hasan Munadi, diadakan tumpengan dan doa bersama.
Menurut Arif, pada masa Syekh Hasan Munadi berdakwah, masyarakat di wilayah tersebut masih banyak yang menganut Hindu dan Buddha.
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260228-wali.jpg)