Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2026

Menapaki Jejak Syekh Hasan Munadi, Wali Penyebar Islam di Ungaran dan Karomah Sendangnya

Suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di area makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: muslimah
TRIBUN JATENG/Eka Yulianti Fajlin
KIRIM DOA - Peziarah mengirim doa saat berziarah ke makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (27/2/2026).  

Menapaki Jejak Syekh Hasan Munadi, Wali Penyebar Islam di Ungaran dan Karomah Sendangnya


TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di area makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Pada awal Ramadan ini, suasana tampak lebih lengang dibanding hari-hari biasa.

Hanya beberapa peziarah duduk bersila di serambi, menundukkan kepala, mengirimkan doa untuk sang wali yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang.

Baca juga: Menelusuri Jejak Syekh Hasan Munadi yang Hidup Sezaman Sunan Kalijaga di Ungaran

Sementara di sisi seberang, terdapat pula makam putranya, Syekh Hasan Dipuro. Kompleks pemakaman ini menjadi saksi perjalanan dakwah Islam yang telah berlangsung ratusan tahun silam.

Penjaga makam, Arif Hidayat menuturkan, sosok Syekh Hasan Munadi memiliki kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.

Suasana Makam Waliyullah Hasan Munadi di Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Rabu (5/4/2023).
Suasana Makam Waliyullah Hasan Munadi di Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Rabu (5/4/2023). (reza gustav)

"Beliau dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang. Ada yang menyebut beliau putra Prabu Brawijaya V," ujar Arif, Jumat (27/2/2026). 

Menurut penuturan yang berkembang, Syekh Hasan Munadi pernah menimba ilmu di Surabaya kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Setelah dianggap cukup dalam ilmu agama, ia mendapat mandat untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Semarang, sementara Raden Patah berdakwah di Demak.

Arif menjelaskan, Syekh Hasan Munadi wafat di Ponorogo. Namun sebelum wafat, ia telah berwasiat kepada putranya, Syekh Hasan Dipuro, agar kelak dimakamkan di tempat yang kini menjadi kompleks makam di Nyatnyono.

"Beliau berpesan, kalau meninggal di mana saja, mohon dimakamkan di tempat yang sudah beliau tunjuk ini," kata Arif.

Konon, pada malam 21 Ramadan, jenazah Syekh Hasan Munadi dipindahkan dari Ponorogo ke Nyatnyono untuk dimakamkan sesuai wasiatnya.

ejak saat itu, setiap tanggal 21 Ramadan digelar haul untuk mengenang jasa dan perjuangannya.

Pada malam haul, kawasan makam dipadati peziarah. Pengajian digelar di bawah kompleks makam, sementara di Masjid Subulussalam, yang merupakan peninggalan Syekh Hasan Munadi, diadakan tumpengan dan doa bersama.

Menurut Arif, pada masa Syekh Hasan Munadi berdakwah, masyarakat di wilayah tersebut masih banyak yang menganut Hindu dan Buddha.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved