Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2026

Megawati Ingatkan Bahaya 'Lapar Mata' Selama Ramadan: Esensi Hilang Akibat Overbuying

Godaan belanja selama Ramadan dinilai semakin kuat dan berisiko memicu pembelian berlebihan yang justru bertentangan dengan makna puasa. 

Penulis: Dse | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
TREN "BINI ORANG" - Pedagang di Pasar Johar Semarang menunjukkan model gamis yang tengah diburu pembeli jelang Lebaran, Minggu (1/3/2026). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Fenomena overbuying kerap muncul di tengah-tengah aktivitas masyarakat di saat Ramadan menjelang Idulfitri. 

Apalagi tak bisa mengendalikan godaan belanja berlebih baik untuk berbuka puasa maupun mempersiapkan Lebaran, justru dianggap bertentangan dengan makna Ramadan sesungguhnya.

Hal ini pun diingatkan kembali oleh Pakar Perilaku Konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak.

Menurutnya, godaan belanja selama Ramadan dinilai semakin kuat dan berisiko memicu pembelian berlebihan yang justru bertentangan dengan makna puasa. 

Baca juga: Sidang Isbat Penentuan 1 Syawal 1447 H Digelar 19 Maret 2026

Kecewa Bowo Warga Semarang Taat Bayar Pajak Kendaraan Sebelum Diskon 5 Persen, Apresiasinya Apa?

Bupati Sadewo: Enakan Rp3 Juta Tinggal di Purwokerto Dibanding Rp5 Juta di Jakarta

Prof Megawati menjelaskan, Ramadan sering menjadi periode rawan terjadinya overbuying atau pembelian berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya. 

“Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya."

"Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” jelasnya seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

GEBYAR RAMADAN - Suasana Gebyar Ramadan Kabupaten Blora 2026.
GEBYAR RAMADAN - Suasana Gebyar Ramadan Kabupaten Blora 2026. (TRIBUN JATENG/M Iqbal Shukri)

Lapar Mata saat Berbuka

Prof Megawati mencontohkan, perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa.

Berbagai hidangan disiapkan dalam jumlah banyak. Mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, maupun kurma.

Sering kali makanan yang tersedia jauh melebihi kebutuhan tubuh dan berujung menjadi limbah.

“Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh."

"Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” ujarnya.

Dia menjelaskan, rasa lapar setelah seharian berpuasa dapat memicu apa yang disebut “lapar mata”, yaitu dorongan emosional untuk membeli lebih banyak makanan daripada yang dibutuhkan.

Tidak hanya saat berbuka, peningkatan konsumsi juga terjadi menjelang Hari Raya.

Masyarakat terdorong membeli pakaian baru, hidangan khas Lebaran seperti rendang, ketupat, dan opor ayam, serta berbagai kue kering yang kerap tidak habis dikonsumsi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved