Ramadan 2026
Jejak Ulama dan Sejarah Pesantren di Makam KH Asy’ari dan KH Muntaha Deroduwur Wonosobo
Di Desa Deroduwur, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, terdapat sebuah kompleks makam yang cukup dikenal oleh masyarakat.
Penulis: Imah Masitoh | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di Desa Deroduwur, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, terdapat sebuah kompleks makam yang cukup dikenal oleh masyarakat.
Makam ini sering didatangi oleh para peziarah, baik dari wilayah Wonosobo maupun dari luar daerah.
Mereka datang untuk berdoa sekaligus mengenang jasa para ulama yang dimakamkan di tempat tersebut.
Makam tersebut merupakan makam dua ulama besar Wonosobo yaitu KH Asy’ari dan putranya KH Muntaha Al-Hafidz.
Nama kedua tokoh ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Wonosobo karena peran besar mereka dalam perkembangan pendidikan Islam, khususnya melalui pesantren dan lembaga pendidikan yang dikembangkan.
Kompleks makam ini biasanya ramai dikunjungi pada waktu-waktu tertentu, misalnya menjelang bulan Ramadan atau ketika peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.
Pada saat-saat tersebut, peziarah datang dari berbagai daerah untuk berdoa di makam kedua ulama tersebut.
Lokasi makam berada sekitar 13 kilometer dari pusat kota Wonosobo dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit perjalanan.
Baca juga: Festival Mudik Wonosobo 2026 Digelar 22–29 Maret, Balon Udara Raksasa Siap Hiasi Langit
Perjalanan menuju lokasi makam harus melewati jalan yang berkelok-kelok dan naik turun karena wilayah desa tersebut berada di daerah perbukitan yang sejuk dan teduh.
Kompleks makam terletak di sebuah kiri tikungan jalan. Dari kejauhan sudah terlihat sebuah gapura besar yang bertuliskan “Maqbaroh KH Asy’ari & KH Muntaha Al-Hafidz”. Gapura tersebut menjadi pintu masuk menuju area makam.
Ketika memasuki kompleks makam, suasana yang terasa cukup tenang dan sepi. Di sisi kanan dan kiri jalan terlihat beberapa bangunan yang ternyata merupakan tempat tinggal sebagian santri putra PPTQ Al-Asy'ariyyah.
Pada saat tribunjateng.com mengunjungi lokasi pada Minggu (22/2/2026), kondisi lingkungan terlihat cukup sepi karena sebagian santri sedang libur sehingga aktivitas di sekitar kompleks tidak terlalu ramai.
Jika berjalan lebih ke dalam, terdapat sebuah aula berukuran sedang yang berada di ujung kompleks.
Aula ini biasanya digunakan untuk kegiatan keagamaan atau tempat bagi para peziarah.
Di sisi kanan aula tersebut terdapat bangunan makam yang telah dipugar dengan besi.
tribunjateng.com
Jejak Para Wali
Jejak Wali
Ramadan
Ramadan 2026
Ramadan 1447H
Muh Radlis
Imah Masitoh
| Bukan dari Arab, Inilah Sejarah Unik Halalbihalal dari Tradisi Nusantara hingga Tren Potluck |
|
|---|
| Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang |
|
|---|
| Atraksi Sembur Api Jadi Magnet Kemeriahan Malam Takbiran di Kebumen |
|
|---|
| Menelusuri Jejak Sejarah dan Filosofi di Balik Tradisi Malam Takbiran |
|
|---|
| Cadangan BBM Nasional Hanya 20 Hari, Sripeni Yakin Cukup untuk Antar Warga Pulang Kampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260309_KH-Asyari.jpg)