Pemkot Semarang
Di Bawah Kepemimpinan Agustina-Iswar Akses Pendidikan Terbuka Lebar
Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
· Beasiswa miskin jenjang SD/MI: 8.834 siswa
· Beasiswa miskin jenjang SMP/MTs: 2.594 siswa
· Beasiswa miskin jenjang SMA/SMK: 1.635 siswa
· Beasiswa siswa miskin dan berprestasi jenjang perguruan tinggi: 59 siswa
· Beasiswa siswa berprestasi: 35 siswa
"Anak pintar dari keluarga miskin harus kita pastikan tetap bisa sekolah. Beasiswa ini adalah investasi masa depan Semarang. Mereka kelak akan menjadi pemimpin dan penggerak kota ini," ujar Agustina.
Ruang Kelas Baru dan Perbaikan Sekolah: Belajar Makin Nyaman
Fasilitas belajar yang nyaman adalah hak setiap siswa. Pemerintah kota membangun dan memperbaiki ratusan ruang kelas di berbagai sekolah.
Sepanjang 2025, 43 ruang kelas baru SD berhasil dibangun di delapan SD negeri. Selain itu, 336 ruang kelas SD diperbaiki di 115 SD negeri.
Di tingkat SMP, pemerintah membangun 24 ruang kelas baru di enam SMP negeri, serta melakukan perbaikan sembilan ruang kelas di tiga SMP negeri.
Foto-foto sebelum dan sesudah perbaikan menunjukkan perubahan signifikan. Ruang kelas yang dulu gelap dan kumuh kini terang, bersih, dan nyaman untuk belajar.
"Belajar tidak bisa maksimal kalau ruang kelasnya bocor, bangkunya rusak, dan catnya kusam. Kami benahi satu per satu agar anak-anak betah di sekolah," jelas Agustina.
Upaya ini sejalan dengan peningkatan Rapor Pendidikan Kota Semarang dari 83,66 menjadi 84,12, serta penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri dalam kategori perbaikan akses layanan pendidikan.
Literasi dan Numerasi Meningkat: Gerakan Bunda Literasi hingga Antologi Cerpen
Pemerintah kota tidak hanya fokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Program Bunda Literasi, pelatihan menulis cerpen bagi siswa SD dan SMP, serta penerbitan antologi cerpen yang melibatkan lebih dari 1.800 peserta menjadi bukti keseriusan ini.
Berbagai upaya peningkatan literasi membuahkan hasil. Tahun 2025 menunjukkan indeks literasi Kota Semarang di angka 82,16 persen dan indeks numerasi di angka 77,74 persen.
Kompetisi Olahraga, Seni, dan Inovasi: Wadah Kreativitas Anak Muda
Semarang Cerdas tidak hanya soal pelajaran di kelas, tapi juga pengembangan bakat dan minat. Pemerintah kota menyelenggarakan berbagai kompetisi untuk anak muda.
Sepanjang 2025, telah terselenggara:
· 23 kompetisi olahraga, seni, dan inovasi
· 70 acara seni dan budaya
Beberapa event besar yang berhasil digelar antara lain:
· POPDA 2025 (Pekan Olahraga Pelajar Daerah)
· Tugu Muda Race
· Lomba Main Board Game Piala Wali Kota
Event-event ini menjadi ajang bagi generasi muda Semarang untuk menunjukkan bakat, berkompetisi secara sehat, dan mengasah kreativitas.
Target tahun 2026, pemerintah akan menyelenggarakan 15 kompetisi, antara lain:
· POPDA
· Promosi kompetisi tenis, basket, voli
· PORWAKOS
· Tugu Muda Race
· Semarang 10 K (yang tahun 2025 menyedot 3.000 peserta dengan 50 persen dari luar kota)
· Modifikasi otomotif (target 150 peserta)
· Event MMA
· Penyusunan Profil Pemuda
· Lomba Main Board Game
· Krenova (Kreativitas dan Inovasi Masyarakat) dengan target 107 peserta
· Lomba RISE Award (Research and Innovation for Semarang Excellence)
· Lomba SiNARAN (Sains Anak Semarang) dengan target 578 peserta
· Fun Games: Aku Cinta Tanah Airku, Lestari Indonesia
· Debat Mahasiswa
· Lomba Foto
· Family Storytelling Competition (Video)
· Pemilihan Duta Baca Umum dan Pelajar
· Lomba Pembuatan Video Sejarah Semarang
Di bidang seni budaya, pemerintah akan menyelenggarakan kompetisi dan fasilitasi penumbuhan ekosistem seni budaya, antara lain:
· Lomba Karawitan
· Lomba Macapat
· Lomba Tembang Dolanan
· Lomba Kolintang
· Lomba Teater
Di bidang pemuda, Pemkot juga memperkuat sistem pendukung (supporting system) bagi talenta muda, mulai dari olahraga, seni, budaya, hingga fasilitasi kompetisi internasional.
"Anak-anak Semarang itu kreatif dan berbakat. Tugas kami adalah menyediakan wadah agar mereka bisa berkembang dan bersinar. Jangan sampai bakat mereka terpendam karena tidak ada ajang," kata Agustina.
Sinergi dengan Pilar Pembangunan Lainnya
Program Semarang Cerdas tidak berdiri sendiri. Ia bersinergi erat dengan empat pilar lainnya. Transformasi birokrasi berbasis merit yang bersih dari korupsi, gratifikasi, dan pungli—yang dibuktikan dengan Penghargaan Manajemen Talenta dari BKN pada Januari 2026—menjadi fondasi bagi lahirnya kebijakan pendidikan yang tepat sasaran. Aplikasi pelayanan publik terpadu mendukung kemudahan akses layanan pendidikan bagi warga.
Semarang Sehat dengan program penanganan stunting memastikan anak-anak tumbuh dengan gizi cukup, siap menyerap pelajaran. Semarang Makmur dengan penguatan ekonomi kerakyatan membuat orang tua memiliki penghasilan untuk menyekolahkan anak-anaknya—tercermin dari capaian pajak hiburan 106,38 persen dan pajak restoran 104,31 persen di tengah kebijakan efisiensi nasional. Semarang Tangguh dengan infrastruktur yang membaik memudahkan akses anak-anak menuju sekolah, termasuk penanganan banjir yang mengentaskan genangan seluas 230,98 hektare.
Target 2026: Makin Banyak Warga Tersentuh Layanan Pendidikan
Memasuki tahun kedua, pemerintah kota tak berpuas diri. Berbagai target telah disiapkan untuk memperluas jangkauan layanan pendidikan:
· Perluasan program sekolah swasta gratis dari 129 menjadi 135 sekolah
· Perluasan program beasiswa untuk ribuan siswa miskin dan berprestasi
· Pembangunan infrastruktur pendidikan lanjutan
· Penyelenggaraan 15 kompetisi olahraga, seni, dan inovasi
· Fasilitasi kompetisi internasional bagi talenta muda Semarang
"Tahun depan kita kejar target yang lebih tinggi. Tidak boleh ada anak Semarang yang tidak sekolah karena alasan biaya. Semua harus mendapat akses pendidikan yang layak. Ini janji kami kepada warga Semarang," tegas Agustina.
Gotong Royong Mencerdaskan Semarang
Satu tahun kepemimpinan Agustina-Iswar membuktikan bahwa mencerdaskan anak bangsa tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan gotong royong semua pihak: sekolah yang peduli, guru yang dedikatif, orang tua yang mendukung, dan anak-anak yang semangat belajar.
Ribuan guru yang mengajar dengan dedikasi tinggi, puluhan ribu orang tua yang mendukung pendidikan anak-anaknya, serta puluhan ribu siswa yang semangat belajar dan berprestasi—semua bergerak bersama mewujudkan Semarang Cerdas.
Satu tahun perjalanan Agustina-Iswar membuktikan bahwa ketika pemerintah hadir dan warga bergerak bersama, pendidikan benar-benar menjadi milik semua. Semarang cerdas bukan sekadar slogan.
SPP tertunggak dilunasi, ijazah dibagikan, beasiswa diberikan, ruang kelas diperbaiki, dan kompetisi digelar—semua adalah wujud nyata bahwa pemerintah hadir untuk masa depan anak-anak Semarang.
Seperti disampaikan Wali Kota Agustina, "Pendidikan adalah fondasi dari segalanya. Dari generasi cerdas, kita bangun kesehatan. Dari generasi sehat, kita wujudkan kemakmuran. Dari kemakmuran, kita ciptakan kota yang tangguh. Semuanya berawal dari Semarang Cerdas."(***)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/260226_pemkotsmg.jpg)