Travel
Kopi Dharma Boutique Roastery Warisan 100 Tahun Koffiebranderij Margo Redjo
Dimulai dari Tan Tiong, Kakeknya Basuki yang lahir di rumah yang sama, memulai usaha penyangraian kopi di Cimahi.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di antara deretan rumah tua di Jalan Wotgandul Barat No.14, Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang ada satu bangunan yang memanggil dengan aroma wangi kopi panggang yang menguar dari jendela kayu tuanya.
Di dalamnya, waktu seperti berjalan pelan suara mesin sangrai tua beradu pelan dengan pembicaraan santai pengunjungnya.
Sementara Widayat Basuki Dharmowiyono pemilik Kopi Dharma Boutique Roastery mengecek kualitas biji kopi yang sudah disangrai pada stoples.
Pria yang akrab disapa Basuki itu, sudah generasi ketiga penjaga aroma kopi di Pecinan Semarang.
Baca juga: Semarang Panas Ekstrim, Waspada Flu Tropis Picu Lonjakan ISPA, Dehidrasi, dan Heat Stroke
Baca juga: TKD Turun Rp 442 Miliar, Wali Kota Semarang Pastikan Program Prioritas Tetap Berjalan
Kisahnya dimulai jauh sebelum flat white dan cold brew menjadi bagian dari percakapan anak muda kota.
Dimulai dari Tan Tiong, Kakeknya Basuki yang lahir di rumah yang sama, memulai usaha penyangraian kopi di Cimahi pada masa Hindia Belanda.
Tan Tiong tercatat sebagai pendiri pabrik kopi tertua di Semarang yakni Margo Redjo atau yang dikenal dalam bahasa Belanda Koffiebranderij Margo Redjo.
Tan Tiong, yang mendirikan pabrik kopi tersebut memang kelahiran Semarang.
Rumah di Jalan Wotgandul Barat No 14 juga merupakan rumah masa kecil Tan Tiong.
Tahun 1915 Tan Tiong mencoba peruntungan dengan berbisnis kopi. Pada tahun itu, Basuki menyebut kopi robusta mulai masuk ke Hindia Belanda.
Tahun 1924, ia memboyong usahanya dan mesin-mesin di pabrik kopinya ke Semarang pada tanah kelahirannya sendiri.
“Tapi izinnya di Jalan dr. Cipto sempat dicabut pemerintah kota tahun 1926 akhirnya pindah ke sini. Dan tahun depan, penyangraian di Gang Barat ini genap 100 tahun.” ujarnya, Sabtu (18/10/2025).
Seratus tahun. Angka yang terdengar mustahil untuk bisnis kecil di tengah kota yang terus berubah.
Tapi Dharma bertahan, bukan karena romantisme masa lalu, melainkan karena kemampuan menyesuaikan diri.
Waktu berjalan pelan di Kopi Dharma, tapi tidak berhenti.
| Kunjungan Wisatawan ke Baturraden Meningkat Saat Libur Panjang |
|
|---|
| Inilah Jadwal Festival Lampu di Taman Maskemambang Purwokerto, Lengkap Dengan Harga Tiket Masuk |
|
|---|
| Potret Bukit Cinta Rawa Pening Kini, Banyak Wahana dan Spot Foto, Tak Cuma Tempat Muda-mudi Pacaran |
|
|---|
| Spot Foto Dapur Tempo Dulu di Pasar Slumpring Tegal, Nostalgia Masak Gunakan Tungku dan Kayu |
|
|---|
| Dinding Kreasimu Spot Favorit Pengunjung Museum Semedo Tegal, Tiap Beberapa Waktu Karya Diganti Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251018_HIRUP-BIJI-KOPI-Widayat-Basuki-Dharmowiyono.jpg)