Semarang
Kisah Muntaha & Wajah Baru Pelabuhan Tanjung Emas: Kini Ada Diskon Tiket Kapal Hingga 20 Persen
Terik matahari siang itu membuat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tampak berkilau. Cahaya memantul dari lantai beton yang panas.
Penulis: budi susanto | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Terik matahari siang itu membuat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tampak berkilau. Cahaya memantul dari lantai beton yang panas, sementara di kejauhan suara kapal yang bersandar bercampur dengan panggilan petugas pelabuhan.
Di tengah hilir mudik calon penumpang, pelabuhan yang berdiri sejak 1983 itu kembali menunjukkan fungsinya sebagai portal laut yang tak pernah tidur.
Namun bagi sebagian orang, Pelabuhan Tanjung Emas bukan hanya tempat singgah. Ia adalah ruang kenangan, tempat di mana banyak cerita manusia bermula.
Salah satunya datang dari seorang pria berperawakan tinggi yang siang itu tampak mencari tempat duduk di ruang tunggu. Wajahnya terlihat tenang, meski ia terlihat seperti menunggu sesuatu.
Ia adalah untaha, warga Wonosobo, yang dua pekan sekali menempuh perjalanan jauh ke Kalimantan untuk bekerja. Setiap kedatangannya ke pelabuhan selalu memanggil kembali ingatan lama, tentang bagaimana tempat ini dulu jauh berbeda.
“Pertama kali saya ke sini tahun 2015. Waktu itu, kondisinya… ya, tidak seperti sekarang,” katanya pelan saat ditemui Tribun Jateng, Rabu (10/12/2025).
Muntaha masih mengingat jelas genangan air rob yang sering tak kenal waktu, membuat bagian pelabuhan tampak lusuh dan kumuh.
Ia bahkan pernah harus mengangkat celana setinggi lutut hanya untuk melangkah menuju terminal keberangkatan.
“Airnya masuk sampai sini, becek, dan gelap,” kenangnya sambil menunjuk bagian lantai.
Belum lagi soal percaloan, hal yang dulu membuat pengalaman membeli tiket menjadi pengalaman penuh waspada.
“Dulu sering banget didekati calo. Kadang digoda, kadang dipaksa,” ujarnya sambil tertawa kecil, mengingat pengalaman yang kini tak lagi ditemuinya.
Kini semuanya berubah. Pelayanan lebih teratur, penumpang lebih nyaman, dan sistem tiket daring membuatnya tak lagi harus berurusan dengan calo.
“Petugasnya ramah, sekarang tinggal buka ponsel buat beli tiket,” tambahnya.
Di ruang tunggu itu, Muntaha kembali mengecek tiket elektroniknya. Sementara angin laut membawa aroma khas yang menusuk, ia hanya tersenyum kecil, seakan melihat kembali perjalanan panjang yang bukan hanya miliknya, tetapi juga perjalanan perubahan sebuah pelabuhan.
Muntaha menjadi satu dari 139 penumpang KM Lawit yang akan berangkat ke Kumai. Di dermaga lain, KM Kalimutu bersiap mengantar 80 penumpang menuju Pontianak.
| "Sudah 5 Kali Diamankan", Satpol PP Ungkap Sosok ODGJ di Semarang Sering Lepas dan Muncul Lagi |
|
|---|
| Kisah Ojol Perempuan di Semarang Diduga Jadi Korban Pelecehan Oleh WNA |
|
|---|
| Rumah di Manyaran Semarang Longsor, Dapur dan Kamar Tidur Ambrol |
|
|---|
| Warga Was-was Talud Sungai Cilandak Semarang Ambles Sedalam 2 Meter |
|
|---|
| Warga Semarang Kini Bisa Akses 20 Layanan Publik Lewat Satu Aplikasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251210_BERSIAP-KE-DEK-KAPAL-Sejumlah-penumpang-naik-ke-dek.jpg)