Berita Semarang
Pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah soal Polri di Bawah Kementerian: Bisa Muncul Problem Baru
“Kalau Polri ditempatkan di bawah kementerian, bisa muncul problem baru."
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menilai wacana penempatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian tertentu tidak relevan dengan arah reformasi yang telah ditempuh Indonesia sejak 1998.
Hal itu dia katakan usai kegiatan di Universitas Muhammadiyah Semarang, Kamis (29/1/2026) malam.
Haedar menegaskan, Indonesia telah lebih dari dua dekade menjalani reformasi dengan berbagai konsekuensi dan capaian penting, salah satunya menempatkan institusi strategis negara langsung di bawah Presiden.
Baca juga: "Lebih Baik Saya Dicopot dan Jadi Petani" Jenderal Listyo Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian
“Indonesia sudah 20 tahun lebih menjalani reformasi dengan segala risikonya. Hasil reformasi 1998 itu justru menempatkan institusi-institusi penting langsung di bawah Presiden,” kata Haedar.
Menurutnya, alih-alih kembali mengubah struktur kelembagaan, bangsa ini seharusnya fokus pada konsolidasi reformasi yang sudah berjalan.
Perubahan struktural dinilai justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Muhammadiyah, kata Haedar, berpandangan bahwa persoalan yang muncul di institusi negara baik Polri, TNI, maupun lembaga pemerintahan lainnya lebih tepat diselesaikan melalui reformasi internal.
“Kalau ada masalah di Polri, TNI, atau komponen negara lainnya, lebih baik dilakukan reformasi dari dalam. Itu jauh lebih substantif,” ujarnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa menempatkan institusi seperti TNI atau Polri di bawah kementerian justru berisiko menambah problem birokrasi.
Ia menilai reformasi birokrasi di tingkat kementerian sendiri belum sepenuhnya tuntas dan masih dihadapkan pada persoalan korupsi.
“Kalau ditempatkan di bawah kementerian, bisa muncul problem baru. Reformasi birokrasi di kementerian saja belum selesai,” katanya.
Ia menegaskan, mempertahankan Polri di bawah Presiden dengan perbaikan internal yang berkelanjutan merupakan pilihan paling rasional untuk menjaga konsistensi arah reformasi dan mencegah kontroversi yang membingungkan publik.
“Supaya tidak muncul kontroversi yang membuat rakyat bingung soal arah bangsa ini ke mana,” ucapnya.
Haedar menambahkan, keputusan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang menetapkan Polri tetap berada di bawah Presiden sejalan dengan platform reformasi nasional sejak 1998.
Ia juga meyakini pandangan serupa dianut oleh berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya, yakni mendorong penguatan reformasi internal sebagai bagian dari konsolidasi demokrasi, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Pandangan ormas-ormas itu pada umumnya mendorong reformasi dari dalam sebagai bagian dari konsolidasi demokrasi,” pungkasnya. (Rad)
Baca juga: Senkom Mitra Polri Jateng Gelar Musprov V, Tegaskan Peran Strategis di Tengah Masyarakat
Tribunjateng.com
m syofri kurniawan
Muhammadiyah
Haedar Nasir
Ketua PP Muhammadiyah
polri di bawah kementerian
| Baru Semalam Dipasang, Portal Ngaliyan Rusak Lagi Diseruduk Bus AKAP Jambi-Kediri |
|
|---|
| Pengawasan Diperketat, Dinkes Semarang Temukan Masih Ada SPPG Belum Penuhi Syarat SLHS |
|
|---|
| Tampang Sopir Truk yang Tabrak Portal Pembatas Ketinggian Silayur Semarang Sepakat Ganti Rugi |
|
|---|
| Aksi Koboi Sopir Truk ODOL Nekat Terjang Portal Pembatas di Kedungpane Semarang Hingga Rusak |
|
|---|
| Sidang Kredit Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Bantah Korupsi Minta Dibebaskan dari Tuntutan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260129_HAEDAR-NASHIR.jpg)