Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Kasus Leptospirosis Meningkat, Dinkes Kota Semarang Target OTT 100 Tikus Per Kelurahan Per Minggu

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyebut tengah mengintensifkan Operasi Tangkap Tikus (OTT) sebagai upaya

|
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: muh radlis

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menyebut tengah mengintensifkan Operasi Tangkap Tikus (OTT) sebagai upaya menekan kasus leptospirosis yang menunjukkan tren fluktuatif dalam tiga tahun terakhir.


Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam menyebutkan, leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi.


“Lepto disebabkan bakteri. Nah, bakteri ini ketika masuk ke dalam tubuh seseorang, manusia, itu dia gampang untuk tumbuh kembang sehingga resiko menginfeksi dan lari ke organ vital itu sangat luar biasa tinggi.

Dan lepto, kuman lepto ini juga ternyata angka kematiannya, mortality-nya itu sangat tinggi," jelas Hakam, Selasa (3/2/2026).


Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, pada tahun 2023 tercatat 38 kasus. Pada 2024 terdapat 32 kasus, sementara pada 2025 kasus meningkat menjadi 59.


Hakam menjelaskan, sebagian besar kasus ditemukan di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, serta kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang kurang optimal.

Baca juga: Pemkab Jepara Tawarkan Pendidikan Sekolah Rakyat dan Jaminan Kesehatan Bagi Anak Korban Kebakaran


"Tahun 2023 ada 10 kasus yang meninggal dunia dan 2025 ada 8 kasus yang meninggal dari 59 kasus.


(Faktor berpengaruh) Tadi ya, PHBS-nya mungkin kurang maksimal, kemudian kepedulian dari masyarakat yang tinggal di situ juga kurang maksimal, maka walaupun ini sudah kita lakukan edukasi di tingkat masyarakat, kita selalu mengingatkan," kata Hakam.


Menurut dia, langkah dilakukan di antaranya adalah menggencarkan OTT atau Operasi Tangkap Tikus di wilayah rawan.


Gerakan ini menargetkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat kelurahan, RW, dan RT.


"Gerakan OTT itu sebetulnya sudah lama, cuman kita target.

Di akhir tahun 2025 itu kita target masing-masing kelurahan. 


Jadi makin banyak tikus yang kita tangkap, kemungkinan besar untuk bisa menularkan kepada manusia bakterinya itu akan kecil kan seperti DB.

DB itu dengan apa? PSN (pemberantasan sarang nyamuk).

Lepto, dengan OTT, makin banyak kelurahan, RW, RT menemukan setiap minggunya," jelasnya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved