Minggu, 19 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanah Gerak Semarang

Rumah Warga Gunungpati Bergeser Hingga 10 Meter Gara-gara Tanah Gerak

Bencana tanah gerak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mampu menggeser rumah hingga berjarak 10 meter.

Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/KOMPAS.COM/Muchamad Dafi Yusuf
TANAH GERAK - Fenomena tanah bergerak di RT 3 RW 6 Delik Sari, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026). 

TRIBUNJATENG.COM - Bencana tanah gerak di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang mampu menggeser rumah hingga berjarak 10 meter dari lokasi awal.

Tak ayal rumah milik warga RT 3 RW 6 Delik Sari, Sukorejo, Gunungpati, itu mengalami kerusakan fatal.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (23/2/2026) sekira pukul 01.00 WIB.

Meski demikian tanda tanda  pergerakan tanah sudah terlihat sejak awal Januari 2026.

Baca juga: Warga Terdampak Tanah Gerak Kampung Sekip Dirikan Dapur Umum Mandiri 

Baca juga: Pengungsi Tanah Bergerak Desa Padasari Tegal Mulai Keluhkan Batuk, Gatal-gatal, Mual dan Diare 

“Oh. Kan itu angin kencang sama hujan itu. Akhirnya saya tengok rumahnya Pak Feri yang roboh,” kata salah seorang warga sekitar, Legiman, menceritakan detik-detik robohnya rumah salah satu tetangganya, Senin (23/2/2026). 

Legiman menceritakan bahwa peristiwa robohnya rumah tersebut terjadi sekitar pukul 01.00 WIB saat hujan deras melanda.

Beruntung, pemilik rumah sudah mengungsi lebih dulu ke rumah orang tuanya di kawasan Semarang Barat karena merasa takut dengan tanda-tanda pergerakan tanah yang sudah dirasakan sejak berbulan-bulan sebelumnya.

Melihat rumah tetangganya roboh, Legiman langsung berinisiatif mengamankan jaringan listrik untuk mencegah korsleting atau bahaya bagi anak-anak di sekitar lokasi kejadian.

Ia mengaku sempat ingin menyelamatkan barang-barang di dalam rumah, namun niat itu diurungkan karena mendengar suara pergerakan bangunan yang terus berlangsung.

“Saya langsung ngelepas meteran dulu. Memindah karena kabelnya kan panjang.

Nanti kalau rubuh kan kena anak kecil. Ah, takutnya itu," ucap Legiman.

Legiman yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak 1987 mengungkapkan bahwa karakteristik tanah di Delik Sari memang dikenal sangat labil.

Fenomena tanah bergerak ini bukan hal baru, namun kembali terulang dengan dampak yang cukup parah pada tahun ini akibat faktor cuaca ekstrem.

“Dari 1987 saya pindah sini. Jadi labil (tanah) ini memang dari 1987 sampai sekarang,” katanya.

Ketua RT 3, Yuari, mencatat total ada 52 kepala keluarga (KK) di wilayahnya, di mana tiga hingga empat rumah terdampak langsung oleh pergerakan tanah ini.

Dua di antaranya telah rata dengan tanah karena posisi bangunan bergeser cukup jauh dari titik semula, sementara sisanya mengalami kerusakan pada bagian belakang dan pekarangan.

“Kondisinya itu dua sudah rata sama tanah. Yang lain kena sedikit-sedikit, bagian belakang rumah sama pekarangannya. Jadi sejalur itu,” ujar Yuari.

Yuari memperkirakan kerugian materiil yang dialami warga bervariasi antara Rp 20.000.000 hingga lebih dari Rp 50.000.000 per rumah.

Sebagian besar warga memang sengaja tidak membangun rumah permanen mengingat risiko pergerakan tanah yang sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah tersebut.

“Kebanyakan semi permanen. Karena kalau dibikin permanen juga sayang, tanahnya labil,” ujarnya.

Hingga saat ini, warga terdampak telah menerima bantuan logistik dan terpal dari BPBD, PMI, serta pihak kelurahan dan kecamatan.

Mengenai rencana relokasi, warga masih menunggu keputusan resmi dari hasil diskusi dengan dinas-dinas terkait.

Dirikan Dapur Umum

Sementara itu, enam tenda oranye bertuliskan BNPB berdiri di atas lahan yang ilalangnya sudah dibabat di Jalan Burangrang Raya, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.  

Di lokasi itu, sebuah mobil oranye dengan tulisan yang sama difungsikan sebagai dapur umum. 

Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti barak darurat.  

Namun untuk puluhan warga Kampung Sekip, di situlah tempat pengungsian bagi mereka yang terdampak tanah gerak.

Sore itu, Minggu (22/2/2026), hujan turun, namun tak menyurutkan niat para pengungsi yang sedang kerja bakti.

Para laki-laki bergotong royong memasang terpal, membangun tratak tambahan untuk dapur umum mandiri.

Di bawah rangka sederhana itu, sudah tersusun wajan penggorengan besar, kompor, tempat nasi, teko air minum, hingga peralatan masak lainnya. 

Sementara itu, tak jauh dari sana, ibu-ibu duduk di kursi depan tenda.

Mereka, sebagian di antaranya memakai payung, mengikuti rapat yang dipimpin Ketua RT setempat, Joko Sukaryono.  

Pembahasan sore itu meliputi pembagian jadwal memasak dan pengelolaan logistik. 

Sukaryono mengatakan, dapur umum dari pemerintah, termasuk bantuan nasi bungkus dari dinas sosial selama ini akan segera berakhir.

“Alhamdulillah, kondisi pengungsi sehat. Ini di belakang saya sedang mendirikan dapur umum mandiri,” kata Sukaryono. 

“Batas waktu nasi bungkus dan bantuan dari Dinas Sosial akan segera berakhir, kurang lebih terakhir Rabu,” sambungnya.

Dia menjelaskan, momen akhir pekan dimanfaatkan untuk kerja bakti.

“Makanya, sekarang mumpung ibu-ibu dan bapak-bapaknya pada libur, kami adakan gotong royong untuk mendirikan dapur umum mandiri ini. Bikin sendiri,” imbuh dia.

Retakan bertambah

TANAH GERAK - Warga berjalan hati-hati di atas jalan kampung yang bagian bawahnya sudah ambles dan menganga di Kampung Sekip, Jangli, Kota Semarang, Kamis (5/2/2026). Pergerakan tanah menyebabkan retakan memanjang dan melebar, membuat jalan tidak lagi stabil dan berisiko runtuh jika dilewati kendaraan berat.
TANAH GERAK - Warga berjalan hati-hati di atas jalan kampung yang bagian bawahnya sudah ambles dan menganga di Kampung Sekip, Jangli, Kota Semarang, Kamis (5/2/2026). Pergerakan tanah menyebabkan retakan memanjang dan melebar, membuat jalan tidak lagi stabil dan berisiko runtuh jika dilewati kendaraan berat. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Saat ini, sebanyak 60 jiwa masih bertahan di pengungsian itu.

Seluruhnya berasal dari 22 KK yang meninggalkan rumah mereka.

Jumlah rumah terdampak pun bertambah menjadi 17 unit, dari sebelumnya 15.

Di lokasi pengungsian, masih tersisa dua tenda yang belum dipasang.

“Rencananya nanti akan digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan. Untuk bahan mentah, kami mendapat dukungan dari CSR yang menyuplai kebutuhan pokok,” lanjut Sukaryono.

Sekitar 200 meter dari tenda-tenda itu, Kampung Sekip kini nyaris tak bisa dikenali.

Jalan yang dulu bisa dilalui sepeda motor perlahan kini sudah putus total. 

Retakan yang semula 30 sentimeter melebar hingga sekitar satu meter.

Kontur tanah berubah bergelombang, naik turun seperti ombak yang membeku.

Empat rumah sudah roboh lebih dulu, milik Supriyadi, Supardi, Slamet Riyadi, dan Sri.

Kini, total 17 rumah terdampak retak, miring, bahkan ambles.

Musala yang dulu menjadi pusat kegiatan warga sempat berubah fungsi menjadi titik pengungsian pertama.

“Setelah saya pantau hari ini tadi, ada beberapa retakan baru yang semakin melebar. Curah hujan tidak terlalu tinggi akhir-akhir ini, sehingga retakan-retakan itu tidak bertambah terlalu parah,” ungkap Sukaryono.

Meskipun demikian, kekhawatiran belum sirna.

Tanah dianggap warga setempat masih bergerak, perlahan dan senyap.

Peristiwa itu juga sempat menjadi perhatian nasional. Pada Sabtu (14/2/2026) sore lalu, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, datang langsung ke lokasi bersama Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.  

Di bawah tenda, saat hujan mengguyur, keduanya berbincang dengan warga.

“Ini keselamatan bapak ibu yang nomor satu ya. Jadi nanti untuk masalah relokasi akan segera dicarikan solusi,” kata Gibran kala itu. 

Dia meminta warga tidak bolak-balik ke rumah lama karena zona tersebut berisiko.

Pemerintah pun menjanjikan relokasi sebagai solusi jangka panjang. 

Selama dua bulan ke depan, warga diperbolehkan menempati lahan pengungsian yang sekarang berdiri.

Sembari itu, skema relokasi tengah dipikirkan.

Hingga kini, kepastian lokasi baru belum diumumkan. (*)

Sumber: kompas.com

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved