Tribun Jateng Hari Ini
Fenomena Kreak Bersajam hingga Perang Sarung Jelang Lebarang Bikin Resah Warga
Tradisi perang sarung yang dulu identik dengan permainan sahur, kini berubah wajah. Sarung diikat batu, gir motor, atau besi di ujungnya.
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: Vito
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dalam beberapa waktu terakhir sejak menjelang Ramadan hingga mendekati Lebaran 2026, Kota Semarang tidak hanya disibukkan dengan persiapan ibadah dan tradisi sahur bersama.
Di sejumlah titik justru muncul rangkaian peristiwa seperti tawuran bersenjata tajam, pembacokan, perang sarung yang berubah brutal, hingga pembegalan dini hari.
Fenomena yang dikenal sebagai 'kreak' itu bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Istilah itu merujuk pada kelompok anak muda yang mencari eksistensi lewat aksi kekerasan. Mereka kerap membawa celurit panjang, parang, bahkan balok kayu.
Tradisi perang sarung yang dulu identik dengan permainan sahur, kini berubah wajah. Sarung diikat batu, gir motor, atau besi di ujungnya, menjadikannya alat yang berpotensi melukai serius.
Beberapa di antara kecamatan yang terpantau terdapat peristiwa itu yakni Semarang Utara, Semarang Barat, dan Genuk. Polanya beragam, namun benang merahnya sama.
Hal itu yakni aktivitas remaja dan kelompok jalanan yang bergerak di malam hingga dini hari, memanfaatkan celah pengawasan dan riuhnya suasana Ramadan.
Di gang-gang dan jalan umum di kawasan Bandarharjo, Kuningan, Barutikung hingga jembatan perbatasan yang dijuluki 'Jalur Gaza', ketegangan dinilai kerap terjadi.
Yanti (65), warga yang tinggal tak jauh dari jembatan perbatasan Bandarharjo-Kuningan, mengatakan, hampir terbiasa mendengar keributan malam hari.
“Sering sekali di sini tawuran malam-malam. Di jembatan sebelah sana,” ujarnya, , sembari menunjuk arah Boom Lama, saat ditemui Tribun Jateng, pekan lalu.
Ia mengaku resah melihat remaja terlibat bentrok bersenjata tajam. “Inginnya polisi patroli lebih ketat, karena anak-anak itu kasihan, masa depannya harus lebih diawasi,” ujarnya.
Eko (28), pengemudi ojek daring, mengaku selektif mengambil pesanan saat malam hari jika rutenya melewati Bandarharjo dan Kuningan.
“Kalau lihat remaja berboncengan bergerombol, biasanya bawa senjata panjang-panjang itu. Saya hindari saja,” tuturnya.
Ia menyebut, perang sarung kerap muncul saat puasa, dengan sarung yang sudah dimodifikasi menjadi senjata.
Konflik lama antara Kampung Kuningan dan Barutikung sempat pecah pada Senin (26/1) dini hari lalu. Meski sempat dicegah aparat, belasan remaja dari dua kubu kembali bertemu di jembatan Boom Lama.
Bentrokan bersenjata tajam tak terhindarkan. Seorang remaja mengalami luka bacok di kepala hingga tak sadarkan diri dan harus menjalani perawatan intensif. Peristiwa itu memperpanjang daftar konflik antar-geng yang berulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Remaja-Perang-Sarung-di-Wonosobo.jpg)