Jumat, 8 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Cerita Joko Suratno Berbagi Kebahagiaan dengan 25 Bayi dan Balita di Yayasan Semarang saat Ramadan

Anak-anak tersebut datang dengan latar belakang cerita hidup yang berbeda-beda. 

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
BERMAIN: Anak-anak balita terlantar sedang bermain dengan pengunjung saat bulan Ramadan di Rumah Anak Surga, Kota Semarang. (TRIBUN JATENG/REZANDA AKBAR D) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Tangis bayi kadang terdengar di sela tawa balita yang berlarian kecil di Yayasan Rumah Anak Surga yang terletak di Jalan Gangin, RT.4/RW.4, Bangetayu Wetan, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.

Yayasan itu menjadi tempat tumbuh bagi puluhan anak yang menjalani hari-hari dengan rutinitas yang nyaris sama: makan, bermain, belajar, lalu tidur siang.

Di Yayasan Rumah Anak Surga Semarang, saat ini ada 25 anak yang diasuh. Sebagian besar adalah balita.

Baca juga: Lahan Sempit Jadi Ladang Cuan, Petani Muda Semarang Raup Omzet Jutaan dari Hidroponik

Humas Yayasan Rumah Anak Surga, Yeni Febrianti, mengatakan mayoritas anak yang tinggal di sana berusia sangat dini.

“Totalnya ada 25 anak. Sebanyak 19 anak berusia sekitar 2 tahun hingga 2,5 tahun, sementara enam lainnya masih bayi dengan rentang usia 2 bulan sampai 9 bulan,” kata Yeni, Sabtu (14/3/2026).

Anak-anak tersebut datang dengan latar belakang cerita hidup yang berbeda-beda. 

Yayasan mengelompokkan mereka dalam dua kategori, yakni anak yang diserahkan sepenuhnya ke yayasan dan anak yang dititipkan sementara oleh orang tua.

Untuk anak yang diserahkan, biasanya berasal dari kondisi yang sulit sejak awal kehidupan mereka.

“Sebagian dari latar belakang kehamilan tidak diinginkan atau KTD, ada juga yang lahir dari kasus kekerasan seksual, atau memang dari orang tua biologis yang tidak menginginkan anak tersebut. Kadang juga keluarga besarnya tidak sanggup atau tidak mau mengasuh,” jelasnya.

Sementara itu, anak yang dititipkan umumnya masih memiliki orang tua, tetapi berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk merawat mereka.

“Biasanya karena faktor ekonomi atau kondisi mental orang tua. Ada juga yang berasal dari keluarga dengan kasus kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT,” ujarnya.

Untuk memastikan kondisi tersebut, yayasan melakukan survei terlebih dahulu kepada keluarga sebelum menerima anak yang dititipkan.

“Kalau orang tua sebenarnya mampu, kami tidak menerima. Fokus kami memang pada bayi dan anak yang benar-benar terlantar,” katanya.

Rumah Anak Surga sendiri tergolong yayasan yang masih muda. Mereka baru menempati bangunan yang sekarang sekitar satu tahun terakhir.

Sebelumnya, kegiatan pengasuhan dilakukan di sebuah rumah kontrakan kecil.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved