Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Sosok Stefanus Ming Warga Semarang Jadi Juru Bahasa Isyarat, Diawali Nazar Cari Jodoh

Niat sederhana mencari pasangan hidup justru membawa perubahan besar pada Stefanus Ming (44), warga Semarang, sebagai juru bahasa isyarat.

Tayang:
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Rezanda Akbar D
BAHASA ISYARAT - Stefanus Ming, warga Semarang. Kesehariannya dia dikenal sebagai sosok profesional juru bahasa isyarat di berbagai kegiatan. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Niat sederhana mencari pasangan hidup justru membawa perubahan besar dalam hidup Stefanus Ming (44), warga Semarang.

Dari sebuah nazar, dia kini dikenal sebagai juru bahasa isyarat yang kerap terlibat dalam berbagai acara resmi dari forum pemerintah hingga kegiatan daring skala nasional.

Dia juga aktif membuat konten di media sosial TikTok dengan username stefanusming untuk membagikan tips belajar berbahasa isyarat dan menerjemahkan musik menggunakan bahasa isyarat.

Stefanus mulai belajar bahasa isyarat sejak 2016.

Ketertarikannya muncul setelah dia menikah dengan perempuan tuli.

Baca juga: Kembali ke Tanah Rantau Naik KRI Banda Aceh dari Semarang, Pemudik: Sudah 3 Kali

Pemkot Semarang Terapkan WFA, DPRD: Jangan Turunkan Kualitas Layanan Publik

Bupati Ischak Siapkan Beasiswa S2 bagi ASN Pemkab Tegal: Full Gratis Sampai Lulus

“Awalnya itu karena nazar. Ingin mencari pasangan hidup, ternyata dapat istri yang tuli."

"Dari situ saya tergugah untuk belajar bahasa isyarat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Belajarnya tidak melalui bangku kelas formal. Dia memilih cara yang lebih organik langsung berinteraksi dengan komunitas tuli. 

Dari percakapan sehari-hari itulah, dia pelan-pelan memahami bahasa yang tak bergantung pada bunyi.

Menurutnya, bahasa isyarat bukan sekadar menerjemahkan kata, melainkan memahami konsep.

“Kalau bahasa Indonesia sesuai susunan kalimat. Tapi bahasa isyarat itu konsep."

"Misalnya ‘saya makan pisang’, di isyarat jadi ‘pisang saya makan’,” jelasnya.

Perbedaan itu sempat menjadi tantangan tersendiri. Dia harus mengubah cara berpikir, bukan sekadar menghafal gerakan tangan.

Butuh waktu, kesabaran, sekaligus kepekaan, proses belajar tersebut tidak instan.

Bahkan setelah hampir satu dekade, Stefanus merasa dirinya masih terus belajar.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved