Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Penutupan Jalan Gombel Lama

Hari Pertama Penutupan Jalan Gombel Lama, Arus Tersendat Hingga Halte BRT Tak Berfungsi

Hari pertama penutupan jalan Gombel Lama Semarang pada Senin (20/4/2026) langsung berdampak pada pengguna jalan.

Tayang:
Penulis: Val | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/budi susanto
DITUTUP - Akses menuju Jalan Gombel Lama di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, resmi ditutup pada hari pertama, Senin (20/4/2026), akibat proyek perbaikan jalan. Dampaknya, kendaraan dari arah atas menuju pusat Kota Semarang dialihkan melalui Jalan Gombel Baru yang kini diberlakukan dua arah. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Hari pertama penutupan jalan Gombel Lama Semarang pada Senin (20/4/2026) langsung berdampak pada pengguna jalan.

Kemacetan sudah pasti, karena kini Jalan Gombel Baru menjadi dua arah.

Pantauan tribunjateng.com saat jam sibuk pulang kerja, arus lalulintas tampak tersendat dari arah Semarang bawah.

Kendaraan tampak mengular hingga ujung Underpass Jatingaleh dari arah bawah.

Baca juga: Terjebak Rekayasa Gombel, Lansia 60 Tahun Kesulitan Berhentikan Bus Trans Semarang di Pinggir Jalan

Baca juga: Jalan Gombel Lama Mulai Bersolek, 50 Pelaku UMKM Kini Cemas Hadapi Sepinya Pembeli

PADAT - Kepadatan kendaraan terjadi di Tanjakan Gombel Baru, Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026) malam, saat median jalan mulai dipasang sebagai persiapan rekayasa dua arah. Petugas bersama warga setempat berjaga di tengah jalan mengatur arus lalu lintas di tengah proses pemasangan pembatas yang memicu antrean panjang dari arah Flyover Jatingaleh.
PADAT - Kepadatan kendaraan terjadi di Tanjakan Gombel Baru, Banyumanik, Kota Semarang, Minggu (19/4/2026) malam, saat median jalan mulai dipasang sebagai persiapan rekayasa dua arah. Petugas bersama warga setempat berjaga di tengah jalan mengatur arus lalu lintas di tengah proses pemasangan pembatas yang memicu antrean panjang dari arah Flyover Jatingaleh. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Ternyata dampak penutupan Jalan Gombel Lama bahkan bukan hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi.

Namun pengguna transportasi umum juga dibuat kerepotan.

Siang itu, Senin (20/4/2026), di tepi Jalan Gombel Baru, seorang pria lanjut usia berdiri menanti bus yang tak kunjung berhenti. 

Di tengah arus kendaraan yang kini dialihkan akibat penutupan Jalan Gombel Lama, Yen (60), warga Bukit Sari, hanya bisa memandangi satu per satu bus Trans Semarang yang melintas tanpa mengangkutnya.

Hari pertama penutupan Jalan Gombel Lama memang membawa perubahan besar. 

Sejak pukul 09.00 WIB, akses turunan Gombel resmi ditutup total untuk perbaikan, ditandai dengan pemasangan water barrier di sejumlah titik.

Seluruh arus kendaraan dialihkan ke Jalan Gombel Baru yang kini diberlakukan dua arah.

Namun, perubahan itu tak hanya berdampak pada lalu lintas, tapi juga pada pengguna transportasi umum.

Yen, yang sehari-hari mengandalkan BRT Trans Semarang untuk menuju pusat kota, kini harus beradaptasi dengan situasi baru.

Biasanya, dia menunggu bus di shelter yang berada di titik sebelum turunan Gombel Lama

Kini, halte itu tak lagi bisa digunakan.

“Biasanya menunggu bus di shelter itu,” ujar Yen sambil menunjuk ke arah bekas halte di Gombel Lama.

Akibat penutupan jalan, Yen terpaksa menunggu di pinggir Jalan Gombel Baru, titik di mana seluruh kendaraan kini dialihkan. Tanpa shelter, dia berdiri di tepi jalan, mencoba menghentikan bus yang lewat.

Dari pantauan, dua bus menolak berhenti dan tangan kondektur di dalam bus melambaikan tangan tanda penolakan.

“Ini bus-bus kalau dicegat tidak mau berhenti.

Sudah 20 menit ia menunggu,” kata dia.

Beberapa bus Trans Semarang melintas, bahkan dalam kondisi tidak penuh. 

Namun, tak satu pun berhenti. 

Menurutnya, sopir enggan menaikkan penumpang di luar halte resmi.

“Padahal busnya kosong. Tapi kalau tidak di shelter, ya tidak mau berhenti,” katanya.

Kondisi itu membuat Yen kesulitan. 

Untuk berjalan ke shelter terdekat pun dinilai sulit. 

Dia menyebut jarak ke arah shelter Ngesrep maupun Jatingaleh terlalu jauh untuk ditempuh.

“Kalau jalan ke shelter sekitar Ngesrep terlalu jauh, ke Jatingaleh juga terlalu jauh,” tambahnya.

Dia berharap ada solusi cepat dari pemerintah, setidaknya dengan menyediakan halte sementara di Jalan Gombel Baru.

“Harus ada shelter di sini. 

Kalau Gombel Lama ditutup, ya haltenya dipindah,” tegasnya.

Di tengah kondisi itu, Yen akhirnya bisa melanjutkan perjalanan setelah sebuah bus feeder Trans Semarang bersedia berhenti dan mengangkutnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Semarang menyebut rekayasa lalu lintas ini diperkirakan berlangsung hingga tujuh bulan, seiring proyek perbaikan Jalan Gombel Lama sepanjang 1,27 kilometer. 

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Danang Kurniawan, menjelaskan bahwa Jalan Gombel Baru kini menjadi jalur utama dua arah dengan prioritas kendaraan yang melaju ke tanjakan.

Sejumlah skema pengalihan arus juga telah diterapkan, termasuk mengarahkan kendaraan berat melalui Tol Srondol–Jatingaleh dan menyediakan jalur alternatif bagi pengendara roda dua maupun mobil pribadi.

Sehari sebelumnya, saat tahap persiapan, kepadatan sudah terlihat mengular dari Flyover Jatingaleh menuju tanjakan Gombel. 

Kepadatan juga terjadi di Flyover Jatingaleh pada Senin siang hingga sore. (Reza Gustav)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved