Berita Semarang
Gito Harap-harap Cemas, Teror Kawanan Monyet Serbu Ladang Warga Kalialang Semarang
Kawanan monyet ekor panjang nyaris setiap hari menyerbu Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wajah Gito (60) harap-harap cemas. Di balik jendela rumah kayu miliknya, warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang ini mengintip dengan raut resah pada Senin (27/4/2026).
Pandangannya tak lepas dari halaman dan ladang samping rumahnya yang ditanami berbagai pohon buah seperti mangga, pepaya, jambu, sirsak, pisang, hingga singkong.
Sesekali Gito melangkah keluar menuju kursi kayu yang biasanya dia gunakan untuk bersantai. Namun kali ini dia tak sedang menikmati waktu luang.
Baca juga: Tragedi Adik Tusuk Kakak Hingga Meninggal di Semarang, Ayah Syok Kehilangan Dua Anak Sekaligus
Di tangannya tergenggam ketapel buatan sendiri. Sementara di kursi itu tersedia amunisi dari tanah liat yang telah dikeringkan.
Pohon-pohon yang tengah berbuah menjadi sasaran empuk gerombolan monyet ekor panjang yang belakangan kerap menyerbu rumah warga.
"Sengaja saya buat blandring 'ketapel' seperti ini untuk menakut-nakuti saja. Jadi kalau saya blandringkan, tidak kena ke monyetnya."
"Kalau digusah-gusah (diusir) saja monyet itu tidak takut, justru seakan melawan," ujarnya kepada Tribunjateng.com, Senin (27/4/2026).
Menurut Gito, gangguan monyet itu bukan hal baru.
Dalam beberapa bulan terakhir, Gito dan warga lain di RT 03 RW 07 kampung tersebut kerap dibuat resah dengan kedatangan monyet-monyet tersebut.
Jumlahnya pun tidak sedikit, bahkan bisa mencapai lebih dari 100 monyet.
Dia mengatakan, sudah beberapa bulan ini monyet kerap datang menggangu ladang di kawasan tersebut dan jumlahnya semakin banyak.
"150 monyet mungkin ada. Banyak sekali," sebutnya.
Menurut Gito, saat ini hampir setiap hari monyet selalu datang. Mereka menyerbu ladang baik untuk mengambil buah maupun merusak tanaman.
Dia mengatakan, tanaman yang paling sering diserang adalah pisang. Bahkan bagian jantung pisang tidak luput dari sasaran. Jika tidak ada pisang, tanaman lain ikut dirusak.
Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung. Tunas-tunas muda pun tak luput dari perusakan.
Baca juga: Cerita Rengga Warga Banyumas Korban Sultan Nusantara, Pelaku Kuasai ATM Modus Bekam
"Setiap hari itu nyuri. Kalau enggak ada pisang, itu tanaman lain dirusak-rusak," keluhnya.
Tak hanya tanaman, menurutnya, ternak miliknya pun ikut terdampak.
Ayam-ayam peliharaan menjadi gelisah setiap kali kawanan monyet datang.
"Ternaknya kalau dia turun takut semua. Ayam kami kelabakan semua, takut semua," ujarnya.
Di tengah gangguan gerombolan monyet itu, Gito terpaksa harus berjaga hampir sepanjang hari.
Sebab, kata dia, waktu kedatangan monyet tak menentu.
"Kadang pukul 10.00, kadang siang, kadang sore hari. Datangnya tidak tentu," terangnya.
Akibat peristiwa itu, Gito pun mengalami kerugian yang tidak sedikit. Dalam sekali serangan, dia memperkirakan kerugian bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung banyaknya tanaman yang rusak.
Menurut Gito, kemunculan monyet dalam jumlah besar mulai terasa sekira enam bulan terakhir, sejak adanya aktivitas galian di kawasan sekitar.
Dia menduga habitat monyet terganggu, sehingga mereka turun ke permukiman untuk mencari makan.
Sementara itu, yang membuat warga semakin khawatir, monyet-monyet berukuran besar cenderung tidak takut pada manusia. Jika diusir tanpa alat, menurutnya, mereka justru mendekat.
Baca juga: Reshuffle Kabinet Merah Putih: Presiden Lantik 6 Pejabat Baru, Berikut Daftar Namanya
"Yang kecil-kecil lari, tapi yang besar-besar itu berani. Makanya pakai ketapel ini biar pergi," ucapnya.
Tak hanya kebun. Menurutnya, warung-warung warga pun kerap menjadi sasaran. Jajanan yang diletakkan di etalase terbuka sering hilang diambil.
Di tengah keresahan yang terus berulang, Gito dan warga lainnya hanya bisa berharap monyet-monyet tersebut dikembalikan ke habitat aslinya.
Ketua RT 03 RW 07 Kampung Kalialang Baru, Kunjaeri (58) menyebut, kondisi ini sudah terlihat sejak sekira enam bulan terakhir.
"Ini terus menerus. Tidak tahu monyet yang lama atau monyet baru bergantian. Tapi terbesar itu sekira 50 monyet dan datangnya selalu berbarengan," sebutnya.
Dia menjelaskan, serangan monyet kerap terjadi di area tegalan atau ladang yang luput dari penjagaan pemiliknya.
Kondisi itu membuat tanaman di lahan warga lebih mudah menjadi sasaran.
Menurutnya, kawasan tegalan di wilayah tersebut cukup luas dengan total area yang terdampak juga diperkirakan mencapai tiga hektare yang tersebar di sekitar permukiman. (*)
| Aturan Baru Turunan Silayur: Sistem Buka Tutup untuk Kendaraan Berat Mulai Pukul 05.00-23.00 WIB |
|
|---|
| Kronologi Adik Tusuk Kakak Kandung di Semarang, Ayah Berduka Kehilangan 2 Anak Sekaligus |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Gempa Guncang Kabupaten Semarang, Terasa hingga Perbatasan Kendal |
|
|---|
| Gagal Berangkat Ibadah ke Tanah Suci, Belasan Orang di Semarang Tuntut Agen |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kota Semarang Hari Ini Senin 27 April 2026: Hujan Ringan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260427-_-Kampung-Kalialang-Semarang-Diserbu-Monyet.jpg)