Tribunjateng Hari ini
Rasakan Serunya Main Kartu Pokemon, Juga Bisa Dapat Teman Baru di Komunitas
kartu trading card game (TCG) adalah permainan, komunitas dan ruang mencari teman baru.
Penulis: Moh Anhar | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah ramainya tren kartu koleksi Pokemon dan trading card game (TCG) di media sosial, Jason Franklin justru melihat dunia kartu bukan pertama-tama soal investasi jutaan rupiah.
Bagi warga Brumbungan, Semarang itu, kartu adalah permainan, komunitas dan ruang mencari teman baru.
Jason mengenal dunia TCG sejak sekitar 2015 lewat permainan Yu-Gi-Oh! dan Vanguard. Saat itu, tren kartu koleksi belum seramai sekarang.
“Aku kenal dunia kartu itu dari tahun 2015-an. Yu-Gi-Oh sama Vanguard itu card game pertamaku,” ujarnya saat ditemui di Semarang TCG.
Menurutnya, komunitas TCG di Semarang sebenarnya sudah lama hidup, meski dulu tidak terlalu terlihat di media sosial. Ia mengatakan tiap permainan memiliki komunitas sendiri-sendiri, mulai dari Yu-Gi-Oh!, Vanguard hingga Pokemon.
“Komunitas Yu-Gi-Oh ada sendiri, Vanguard sendiri, Pokemon juga sendiri,” katanya.
Belakangan, Jason melihat tren TCG mulai melonjak drastis.
Banyak orang baru masuk ke dunia kartu setelah konten koleksi Pokemon viral di media sosial.
Meski begitu, ia menilai masih banyak masyarakat yang salah paham dan menganggap semua kartu Pokemon bernilai fantastis.
Padahal menurutnya, kartu untuk kebutuhan bermain kompetitif umumnya masih berada di harga yang relatif terjangkau.
“Kalau buat main kompetitif itu paling kartu mahal di angka Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Itu pun cuma satu kartu,” ujarnya.
Jason menjelaskan harga mahal biasanya muncul pada kartu dengan rarity tinggi atau versi koleksi tertentu.
Misalnya, pemain yang ingin memakai karakter favorit seperti Charizard dalam versi eksklusif tentu harus mengeluarkan biaya jauh lebih besar.
“Kalau mau pakai Charizard rarity tinggi ya beda lagi harganya,” katanya.
Ia menegaskan ada perbedaan besar antara pemain TCG dan kolektor.
Pemain lebih fokus menyusun strategi permainan menggunakan kartu tertentu, sedangkan kolektor mengejar nilai seni, kelangkaan hingga kondisi fisik kartu.
“Kalau sekadar buat main sebenarnya enggak harus mahal,” ujarnya.
Meski lebih aktif sebagai pemain, Jason mengaku tetap tertarik mengoleksi kartu.
Namun ia memilih memulainya perlahan dari kartu-kartu dengan harga terjangkau.
“Tertarik koleksi juga, tapi pelan-pelan dari yang murah-murah dulu,” katanya sambil tertawa.
Menurut Jason, tren TCG di Semarang kini juga mulai menjangkau berbagai usia.
Tidak hanya remaja dan dewasa, anak-anak bahkan balita mulai ikut mengenal dunia kartu karena diajak orang tuanya.
“Pernah ada orang tua datang bawa anak-anaknya rame-rame ke toko,” ujarnya.
Sebab di atas meja permainan itu, orang-orang asing bisa mendadak akrab hanya karena satu kartu favorit yang sama. (Rezanda Akbar)
| Kecewa Tata Kelola Pemerintahan Desa, Warga Banjaranyar Banyumas Orasi Keliling Tuntut Kades Mundur |
|
|---|
| Lirik Aset Investasi Baru, Penggemar TCG Berburu Kartu Jepang dan Inggris yang Langka |
|
|---|
| Abi Jamroh Tersangka Pencabulan Santriwati ke Rutan Polres Naik Kursi Roda |
|
|---|
| Sapi Yahono Seberat 967 Kilogram Lolos Seleksi Hewan Kurban Presiden |
|
|---|
| Polisi Tangkap Lima dari Enam Pembacok Dua Siswa SMKN 1 Kudus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Tribun-Jateng-Hari-Ini-Selasa-12-Mei-2026.jpg)