Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Talud Sungai Silandak Semarang Longsor, Warga Gotong Royong Pasang Sandbag

Warga Kampung Jembawan Semarang berjibaku menahan longsor susulan di bantaran Sungai Silandak menggunakan sandbag, Minggu (17/5/2026).

Tayang:
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUN JATENG/Idayatul Rohmah
GOTONG ROYONG - Suasana Kampung Jembawan, RT 06 RW 01, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Minggu (17/5/2026). Warga berjibaku menahan longsor susulan di bantaran Sungai Silandak menggunakan sandbag. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana Kampung Jembawan, RT 06 RW 01, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, diwarnai aktivitas warga yang berjibaku menahan longsor susulan di bantaran Sungai Silandak, Minggu (17/5/2026).

Sejak pagi hari, warga bersama petugas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bergotong royong mengisi karung dengan tanah dan pasir untuk dijadikan sandbag penahan air di titik talud yang ambles.

Di sisi jalan yang retak dan menggantung, tumpukan karung mulai disusun berlapis.

Baca juga: Miris, Perempuan Penyandang Autis di Semarang Diduga Diperkosa Anggota LSM hingga Hamil 5 Bulan

Beberapa warga membawa sekop, sebagian lain mengangkut karung secara estafet. 

Sesekali mereka memandang aliran sungai di bawah talud yang menggerus tanah.

Talud Sungai Cilandak diketahui ambles pada Jumat (15/5/2026).

Lurah Kalibanteng Kulon, Parjono menyebutkan, panjang area terdampak mencapai sekira 100 meter dengan tinggi talud 3,5 hingga 4 meter.

Jalan selebar sekira empat meter di atas talud juga ikut longsor dan terputus.

Parjono mengatakan, kerusakan sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Maret 2026.

Retakan kecil di badan jalan perlahan membesar hingga akhirnya longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

"Warga sudah melaporkan ke Kelurahan, kemudian kami sebagai pemangku wilayah langsung membuat nota dinas ke beberapa Unit Pelaksana Teknis terkait."

"Salah satunya adalah DPU Kota Semarang, Perkim Kota Semarang, dan BBWS," kata Parjono kepada Tribunjateng.com, Minggu (17/5/2026).

Setelah laporan diterima, sejumlah instansi teknis turun melakukan survei. Dari hasil pengecekan, keretakan diduga dipicu gerusan air di bawah talud yang membentuk rongga besar pada struktur penahan tanah.

"Kemudian dari masing-masing OPD tersebut sudah menindaklanjuti dengan mensurvei wilayah."

"Ternyata, keretakan itu disebabkan karena adanya gerusan air yang ada di bawah talud, sehingga menjadi rongga dan dihuni ikan sapu-sapu."

"Mungkin semakin lebar untuk rongganya itu," ujarnya.

Menurut Parjono, kerja bakti akan terus dilakukan secara kondisional. Warga juga mengikuti arahan teknis dari BBWS terkait titik pemasangan sandbag agar mampu mengurangi limpasan air bila hujan kembali turun.

Parjono menyebutkan, dalam kondisi ini sebanyak delapan kepala keluarga dengan total sekira 30 jiwa hingga kini masih mengungsi ke rumah kerabat setelah rumah mereka diterjang banjir dan longsor.

"Untuk yang terdampak, yang terdampak ini sebenarnya ada 8 KK."

"Dari 8 KK, totalnya 30 orang. Untuk tempat pengungsian hari pertama di Masjid Al Hikmah yang berada di RW yang sama, tetapi kemudian langsung ke rumah-rumah saudaranya," katanya.

April Warga Semarang Laporkan Dugaan Malpraktik Klinik Kecantikan: Wajah Rusak, Sulit Bicara

Dia menyebutkan, enam rumah mengalami kerusakan paling parah. 

Meski struktur bangunan belum dilaporkan rusak berat, lumpur dan air sempat merendam isi rumah hingga warga tak sempat menyelamatkan barang-barang mereka.

"Dari 8 KK tersebut ketika kemarin banjir sampai sedada orang dewasa, tidak ada barang yang terselamatkan," ujar Parjono.

Dia menambahkan, sumur manual dan pompa air milik warga juga dipenuhi lumpur dan material longsor.

"Kerusakan terparah ada enam rumah. Kerusakannya ini kebetulan di dalamnya kan ada sumur manual itu yang ada pompa airnya."

"Ini juga kemasukan barang-barang, kemudian kerusakan perabot-perabotannya," katanya.

Sementara itu, dapur umum masih beroperasi untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak dan para relawan kerja bakti.

Bantuan logistik datang dari berbagai pihak. Mulai dari Pemkab Semarang, BPBD, PMI, hingga kecamatan.

Meski penanganan sementara masih dilakukan, pihaknya menyebut, talud dan jalan yang longsor nantinya akan dibangun ulang. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait durasi pengerjaan proyek permanen tersebut.

"Ini penanganannya langsung dikonstruksi ulang. Konstruksi ulang yang lebih kuat, lebih kokoh seperti itu," kata Parjono. (*)

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved