SPMB 2026
DPRD Minta Solusi untuk Sekolah yang Kelebihan dan Kekurangan Pendaftar
DPRD Kota Semarang meminta Dinas Pendidikan menyiapkan solusi bagi sekolah yang mengalami kelebihan maupun kekurangan siswa.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: deni setiawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Komisi D DPRD Kota Semarang meminta Dinas Pendidikan menyiapkan solusi bagi sekolah yang mengalami kelebihan pendaftar maupun yang masih kekurangan siswa pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2026.
Permintaan itu disampaikan saat Komisi D melakukan pemantauan pelaksanaan SPMB di SD Negeri Kalibanteng Kidul 01, yang menjadi salah satu sekolah dengan jumlah pendaftar melebihi daya tampung.
Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim mengatakan, pihaknya belajar dari pelaksanaan penerimaan siswa tahun sebelumnya yang masih menyisakan persoalan sekolah kekurangan siswa.
Baca juga: SPMB Wonosobo Masuk Tahap Pemenuhan Kuota, 7.227 Siswa SMP dan 9.305 Siswa SD Sudah Diterima
• SPMB 2026 Dibuka, Agustina Perluas Akses Pendidikan dan Sediakan 6.000 Kursi Sekolah Gratis
"Kami akan melihat, belajar dari pengalaman di 2025, ada beberapa sekolah yang justru kekurangan siswa," ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Menurut Mualim, kondisi berbeda justru terjadi di SD Negeri Kalibanteng Kidul 01 yang memiliki jumlah peminat cukup tinggi.
"Salah satunya di SD Negeri 01 Kalibanteng Kidul ini banyak peminatnya, ada 106 calon siswa. Sedangkan daya tampungnya hanya 84 siswa."
"Ini jadi PR bagi kami, bagaimana ini bisa memberikan edukasi bagi masyarakat," katanya.
Dia menilai, masyarakat perlu diberikan pemahaman terkait mekanisme penerimaan siswa, terutama ketika jumlah pendaftar melebihi kuota yang tersedia.
"Kalau masyarakat belum tentu bisa menerima semua. Semua inginnya masuk di sekolah sini. Tapi daya tampungnya terbatas," ujarnya.
Sehingga, lanjut dia, Komisi D meminta Disdik Kota Semarang dan pihak sekolah menyiapkan solusi bagi siswa yang tidak diterima agar tetap dapat bersekolah.
"Kami meminta bagi yang belum diterima ini bisa mencarikan solusi. Solusi agar anak-anak yang mendaftar di sini ini bisa sekolah semua," tegasnya.
Mualim juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses seleksi, terutama apabila terdapat calon siswa dengan nilai maupun usia yang sama.
"Jadi ini harus transparan. Yang penting transparan bagi orangtua. Karena kalau anaknya enggak mau tahu masih anak kecil-kecil yang penting ngaku sekolah," katanya.
Selain mencari solusi bagi siswa yang tidak tertampung, Komisi D juga mendorong evaluasi terhadap sekolah yang setiap tahun mengalami kelebihan peminat.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah penambahan ruang kelas apabila memenuhi persyaratan.
"Kalau dirasa bisa memungkinkan menampung satu kelas, naik otomatis kalau bisa ditambah kelasnya. Ini solusinya," ujar Mualim.
Menurutnya, pemerintah perlu memetakan wilayah dengan pertumbuhan penduduk tinggi sehingga kebutuhan layanan pendidikan dapat diantisipasi sejak dini.
"Kalau memang perlu apakah nambah sekolah? Contohnya ini SD ada 325. Siswanya banyak karena perumahan banyak. Kalau perlu tambah, tambah," katanya.
Di sisi lain, Mualim juga meminta Disdik mengevaluasi sekolah-sekolah yang masih kekurangan siswa.
Namun dia menegaskan keputusan seperti regrouping atau penggabungan sekolah harus dilakukan melalui kajian mendalam.
Baca juga: BREAKING NEWS, Modin Cabul Asal Curugsewu Kendal Divonis 12 Tahun Penjara
• Kondisi Terkini 8 Santri Korban Pencabulan Pria Ngaku Habib di Susukan Semarang, Ini Kata Polisi
"Kalau perlu dievaluasi. Semua ada dasarnya. Apakah nanti digabung ataukah ditutup?"
"Karena bahasanya begini, kalau mau membangkitkan itu kadang persyaratannya lebih rumit. Menutup sekolah itu tidak semudah langsung ditutup," ujarnya.
Dia menambahkan, kondisi kekurangan siswa pada satu tahun belum tentu terjadi pada tahun berikutnya sehingga perlu pertimbangan matang sebelum mengambil keputusan.
"Karena di tahun ini sekolah mungkin kurang siswa, belum tentu tahun besok kurang. Nah, karena mungkin ada pasangan-pasangan yang punya anak-anak kecil di sana," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Disdik Kota Semarang, Ali Sofyan mengimbau orangtua untuk memantau perkembangan pendaftaran pada hari terakhir SPMB dan memanfaatkan kesempatan mengubah pilihan sekolah apabila peluang diterima semakin kecil.
"Kalau seandainya di pilihannya sudah tidak memungkinkan untuk diterima, silakan dipindahkan ke sekolah lain yang masih mungkin menerima dan batasannya hanya sampai pukul 23.59," ujarnya.
Menurut Ali, perpindahan pilihan sekolah masih dapat dilakukan berkali-kali selama masa pendaftaran belum berakhir.
"Berapa kali dipindah tidak ada batasannya. Oleh karena itu, mohon kalau yang sekiranya tidak diterima bisa memindahkan ke sekolah lain agar nanti pas pengumuman bisa memilih sekolah yang bisa diterima," katanya.
Terkait sekolah yang masih kekurangan siswa, Disdik belum akan mengambil keputusan regrouping dan masih melakukan kajian berdasarkan kondisi di masing-masing wilayah.
“Kami akan kaji untuk itu karena kami memperhatikan juga kedekatan."
"Misalnya kalau dalam satu kelurahan hanya satu terus itu minatnya sedikit, kami akan kaji apabila harus regrouping," ujarnya. (*)
| Kabar Terkini SPMB 2026, Pemkot Semarang Sediakan 6.000 Kursi Gratis di Sekolah Swasta |
|
|---|
| Wali Murid Panik Datangi Posko SPMB Disdik Kota Semarang, Yuni: Ada Gangguan Server |
|
|---|
| Hari Pertama SPMB TK dan SD di Semarang, Sudah Ada 6.300 Pendaftar |
|
|---|
| SPMB Batang SMAN 1 Batang Batasi Antrean Hanya 100 Orang per Hari, Antisipasi Tumpukan |
|
|---|
| Ada Orang Tua Minta Titik Koordinat Digeser, Disdikbudpora Kab Semarang Tegaskan Acuan Tetap KK |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260612-_-Komisi-D-DPRD-Kota-Semarang-Sidak-SD-Negeri-Kalibanteng-Kidul-01.jpg)