Sabtu, 18 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Mahasiswa Magang

Cicipi Nikmatnya Serabi Ngampin Ambarawa Saat Hangat

Serabi Ngampin merupakan kue tradisional berbentuk bulat pipih yang terbuat dari adonan tepung beras dan santan, dipanggang di atas tungku tanah liat

Editor: iswidodo
Tribunjateng/Mahasiswa Unissula Magang
Serabi Ngampin di Ambarawa di Kabupaten Semarang 

Cicipi Nikmatnya Serabi Ngampin Ambarawa Saat Hangat

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Ambarawa, daerah di Kabupaten Semarang, tak hanya dikenal dengan Museum Kereta Api saja. Namun juga ada kuliner tradisional yang tetap eksis hingga kini yaitu Serabi Ngampin. 
Cemilan berasa manis nan gurih ini telah menjadi kuliner Ambarawa yang terkenal memikat lidah warga lokal maupun wisatawan.

Serabi Ngampin merupakan kue tradisional berbentuk bulat pipih yang terbuat dari adonan tepung beras dan santan, dipanggang di atas tungku tanah liat hingga menghasilkan pinggiran yang renyah dengan bagian tengah yang lembut. Aromanya khas, berpadu antara wangi kelapa dan manisnya gula merah yang lumer saat disantap.

Ibu Solipah Saat Menuangkan Adonan Serabi Ngampin di Ambarawa
Ibu Solipah Saat Menuangkan Adonan Serabi Ngampin di Ambarawa (Tribunjateng/Mahasiswa Unissula Magang)

Selain disantap langsung, serabi ini juga sering dijadikan oleh-oleh khas Ambarawa. Banyak wisatawan yang membeli dalam jumlah banyak untuk dibawa pulang, walaupun serabi ini tidak bisa bertahan lama. Peminatnya yang tinggi membuat kawasan Ngampin hampir selalu ramai, terutama di akhir pekan dan musim liburan.

Awalnya, serabi ini hanya dijual menjelang bulan Ramadhan, khususnya pada tradisi "Saban" atau "Ruwah" yang merupakan tradisi membersihkan diri dan mencari mata air sebelum puasa. Namun, seiring bertambahnya peminat, warga mulai menjualnya di pinggir Jalan Raya Ambarawa–Jogja, tepatnya di kawasan Ngampin. Kini, deretan lapak penjual serabi telah menjadi pemandangan khas yang menyambut para pelintas jalan.

Meskipun dijual di pinggir jalan, Serabi Ngampin menawarkan kualitas rasa yang tidak perlu diragukan. Keberadaan penjual serabi yang tersebar di area Ngampin menunjukkan betapa populernya serabi ini di kalangan masyarakat. Mereka semua mempertahankan metode tradisional, dari adonan hingga pembakaran, demi menjaga cita rasa yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu penjual yang meneruskan resep dari orang tuanya adalah Ibu Solipah (63). Ia sudah bertahun-tahun berjualan serabi Ngampin. Solipah menjelaskan keunikan Serabi Ngampin dibandingkan dengan serabi lainnya.
"Serabi ini dibuat dari adonan tepung beras, garam, dan juga santan. Kemudian untuk kuahnya terbuat dari santan dan juga gula aren. Yang menjadi pembeda serabi ini dengan serabi lain seperti Solo, yaitu cara penyajiannya yang menggunakan kuah santan dan gula aren," jelasnya.

Cara Pembuatan

Proses pembuatannya yang masih otentik dengan cara adonan dituangkan ke dalam cetakan tanah liat yang sudah dipanaskan di atas bara api. Setelah matang, adonan disiram dengan kuah gula aren dan santan kental sebagai pemanis. Teknik sederhana ini menghasilkan cita rasa dan aroma khas.

Bahan-bahan alami tanpa pengawet yang digunakan pada pembuatan, membuat serabi hanya bisa bertahan maksimal satu hari. Karakter ini justru membuatnya lebih nikmat disantap saat masih hangat, langsung setelah keluar dari cetakan.

Dalam satu hari, Solipah bisa menjual puluhan porsi. "Kalau hari biasa ya bisa menghabiskan 40 porsi, kalau Minggu sampai 50-60an porsi. Itu saya buka dari jam 8 pagi hingga sehabisnya. Kalau hari biasa kadang buka hingga jam 10 malam. Tapi kalau ramai bisa habis lebih cepat, seperti jam 7 malam," jelasnya.

Bagi sebagian orang, membeli serabi di Ngampin bukan sekadar urusan rasa, tetapi juga pengalaman. Melihat proses memasaknya secara langsung memberikan sensasi tersendiri, terlebih dengan aroma harum yang terus tercium selama menunggu pesanan.

Dengan harga yang sangat terjangkau, Rp 7.000 per porsi berisi 5 serabi, menjadi pilihan kudapan dan oleh-oleh yang ramah di kantong. Tampak seorang pembeli, Muhammad menikmati serabi di lokasi .  "Saya suka sekali serabi ngampin karena rasanya enak dan harganya juga murah, jadi pas lewat sini kadang mampir buat makan serabi ini" kata Muhammad.


Suasana di kawasan Serabi Ngampin cukup ramai, terutama pada pagi dan sore hari di akhir pekan. Beberapa pembeli terlihat mengantre di depan lapak, sementara para penjual sibuk menuang adonan ke cetakan tanah liat dan menyiramnya dengan kuah santan serta gula aren.

Di tengah maraknya kuliner modern, Serabi Ngampin tetap bertahan dengan resep tradisional dan cita rasa autentik. Kesederhanaan bahan, cara memasak yang khas, dan harga yang ramah di kantong menjadi kombinasi yang memikat pembeli.

Saat ini ada sekitar 75 penjual yang terus melestarikan resep dan cara tradisional, Serabi Ngampin Ambarawa tak hanya menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat, namun juga simbol kekayaan budaya yang terus dijaga. (Nadilla Amalina/Mahasiswa Unissula Magang Tribunjateng.com)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved