Wonosobo Hebat
Angka Pengangguran Wonosobo 4,02 Persen:Peluang Kerja Lulusan Baru Masih Terbatas
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Meski Kabupaten Wonosobo mencatatkan tingkat pengangguran terbuka yang relatif rendah, yakni 4,02 persen di tahun 2024, tantangan dunia ketenagakerjaan di daerah ini belum sepenuhnya tuntas.
Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Wonosobo, Firman Cahyadi, saat ditemui usai pembukaan pelatihan di Pendopo Bupati, Senin (8/9/2025).
“Angka pengangguran kita itu selalu lebih rendah dari tingkat pengangguran provinsi maupun nasional,” ujar Firman.
Baca juga: Wonosobo Siapkan SDM Pertanian Modern Lewat Smart Farming dan AI Marketing
Firman menjelaskan bahwa pengangguran di Wonosobo menyebar di berbagai kelompok umur.
Namun potensi terbesar justru datang dari lulusan sekolah yang baru masuk dalam angkatan kerja.
Ketiadaan industri besar di daerah membuat mereka harus bersaing di sektor informal atau menunggu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan.
Lulusan baru, terutama dari jenjang pendidikan menengah, masih menghadapi masa tunggu yang cukup panjang untuk bisa masuk ke pasar kerja.
"Potensi untuk menganggur cukup besar, karena mereka ada masa tunggu untuk mencari pekerjaan setelah sekolah,” ujarnya.
Fenomena masa tunggu atau delay masuk ke dunia kerja menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Firman menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah ini.
Disnakertrans Wonosobo terus berupaya menjembatani lulusan sekolah dengan dunia kerja melalui berbagai program strategis.
Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah-sekolah, termasuk di SMK dan beberapa SMA menjadi salah satunya.
BKK berfungsi menghubungkan siswa yang tidak melanjutkan kuliah dengan perusahaan-perusahaan, baik di dalam maupun luar Wonosobo.
Melalui BKK, sekolah didorong untuk aktif membangun koneksi dengan dunia industri agar lulusannya bisa langsung diserap setelah lulus.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong sinergi antara lembaga pelatihan kerja dengan industri melalui forum komunikasi yang terwadahi dalam Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID).
"FKLPID sendiri juga mempunyai fungsi untuk menyalurkan, menghubungkan antara dunia pelatihan dengan dunia penempatan, dunia industri,” ucapnya.
Lebih lanjut, arah kebijakan pelatihan tenaga kerja di Wonosobo disesuaikan dengan potensi daerah.
Baca juga: Respon Situasi Bangsa, Masjid Jami’ Wonosobo Gelar Istighosah Bersama Masyarakat
Kabupaten yang dikenal dengan bentang alam yang indah dan produk pertanian khas ini memang diarahkan untuk menjadi pusat agribisnis dan pariwisata.
“Pelatihan-pelatihan kita lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata, bidang pertanian maupun pengolahan hasil pertanian,” pungkasnya.
Melalui langkah-langkah tersebut, Disnakertrans berharap mampu menekan angka pengangguran, mempercepat masa transisi lulusan baru ke dunia kerja, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20250908_Pembukaan-Pelatihan-Smart-Project-Based-Learning-di-Wonosobo_2.jpg)