Wonosobo Hebat
TPA Wonorejo Wonosobo Uji Hanggar Olah Sampah 5 Ton per Hari, Tahun Ini Siap Kembangkan RDF
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo mulai mengembangkan model pengolahan sampah terpadu berbasis hanggar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo.
Saat ini fasilitas tersebut masih berskala terbatas, dengan kapasitas pengolahan sekira lima ton sampah per hari. Namun kini sedang disiapkan sebagai laboratorium menuju sistem yang lebih besar.
Kepala DLH Kabupaten Wonosobo, Endang Listyaningsih menjelaskan, hanggar tersebut dirancang sebagai percontohan sebelum dikembangkan menjadi fasilitas berkapasitas 50 hingga 100 ton per hari.
Baca juga: Volume Sampah Masuk TPA Wonorejo Makin Berkurang, DLH Wonosobo: Tahun Ini Fokus dari Hulu
• Bupati Wonosobo Dorong Mahasiswa KKN Maksimalkan Potensi Desa dan Pariwisata Wadaslintang
“Ini hanggar TPA, jadi kapasitasnya hanya lima ton."
"Ini sebagai laboratorium. Harapannya ada hanggar seperti ini dengan kapasitas lebih besar,” kata Endang, Kamis (8/1/2026).
Menurut Endang, secara sumber daya manusia (SDM), Wonosobo telah siap. Infrastruktur dan peralatan pun dinilai memungkinkan jika pengembangan dilakukan.
“Kalau Wonosobo bangunan dan peralatannya siap untuk kapasitas 50 maupun 100 ton. Teman-teman kebersihan di DLH siap,” ujarnya.
Suasana hanggar TPA Wonorejo terlihat sibuk sejak pagi. Mobil pengangkut sampah dari kawasan perkotaan satu per satu menurunkan muatannya ke area penerimaan.
Sampah kemudian diarahkan ke konveyor pemilahan, dimana para pekerja memilah material secara manual dan mekanis.
Setelah itu, sampah diproses menggunakan mesin hibrid yang memisahkan sampah organik dan anorganik.
Di area pengolahan organik, terlihat bak-bak budidaya maggot, yang mengurai sisa makanan dan sampah basah menjadi maggot, kasgot, dan pupuk organik.
Sementara itu, sampah anorganik dan material bernilai ekonomi dipilah untuk dijual ke pengumpul.
DLH menargetkan pengembangan Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar dari sampah secara lebih luas pada 2026, bekerja sama dengan TPS 3R.
Baca juga: Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Viral, 30 Persen Titik Rawan Longsor Segera Ditangani
• Tiga Potret Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo, Rekomendasi Touring Akhir Pekan Ini
“Semoga tahun ini sudah bisa melangkah ke RDF bareng-bareng dengan TPS 3R,” katanya.
Tidak semua sampah organik dapat diurai oleh maggot. Sisa berupa bubur organik masih menjadi tantangan, terutama saat musim hujan.
“Rencana tahun ini kami buat ruang pengomposan karena kalau kena hujan, prosesnya ada kendala,” ungkap Endang.
Hanggar ini dioperasikan oleh 12 pekerja dengan jam kerja pukul 07.00 hingga pukul 12.00, dan mengolah sekira lima ton sampah per hari.
Saat ini, terdapat 109 desa yang masih mengirim sampah ke TPA.
Meski jumlah desa relatif tetap, DLH mencatat adanya penurunan signifikan pada volume residu dari wilayah yang sudah memiliki TPS 3R.
“Kalau sudah ada TPS 3R, mestinya empat ton, itu jadi satu ton,” kata Endang.
DLH juga melakukan sosialisasi ke sejumlah pondok pesantren.
Beberapa pesantren berhasil mengelola sampah secara mandiri dan menurunkan residu secara drastis.
“Yang biasanya empat ton, itu tinggal satu sampai 1,5 ton. Pondok pesantren itu kami jadikan pilot project,” ujarnya.
Model pengelolaan sampah berbasis hanggar ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Wonosobo, sekaligus menjadi rujukan bagi desa dan lembaga lain dalam mengurangi beban TPA. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260108-_-Pengolahan-Sampah-di-TPA-Wonorejo-Wonosobo.jpg)