Wonosobo Hebat
Akses Wisata Wonosobo Makin Lancar, Jalan Rake Kayuwangi Rejosari-Sikatok Diperlebar
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Rehabilitasi Jalan Rake Kayuwangi di Kabupaten Wonosobo membawa perubahan besar bagi warga setempat dan wisatawan yang melintasi jalur tersebut.
Jalan yang selama ini dikenal sempit, rawan banjir, dan minim fasilitas pengamanan kini berubah menjadi lebih lebar dan nyaman.
Peningkatan jalan ini sekaligus memperkuat fungsinya sebagai jalur vital pariwisata dan penghubung antar kabupaten.
Sebelum dilakukan rehabilitasi, kondisi Jalan Rake Kayuwangi kerap menimbulkan keresahan.
Baca juga: Diterjang Banjir hingga Miring, Perbaikan Jembatan Stanmelo Wonosobo Jadi Harapan Warga
• 15.394 Anak Tak Sekolah di Wonosobo, Pemkab Andalkan Program Mayo Sekolah dan Asa Cita
Ahmad Khafidin, warga setempat yang hampir setiap hari melintasi jalan ini mengungkapkan bahwa persoalan utama sebelum perbaikan adalah banjir dan material bebatuan yang membahayakan pengguna.
“Dulu sebelum ada perbaikan sering banjir, air banyak masuk ke jalan dan batu batu kecil juga sering ke jalan,” ungkapnya kepada Tribunjateng.com, Jumat (30/1/2026).
Kondisi tersebut diperparah dengan sistem drainase yang belum optimal, terutama di kawasan perbatasan destinasi wisata yang berada di atas maupun di bawah jalur jalan.
Selain persoalan banjir, Ahmad juga menyoroti minimnya fasilitas pendukung keselamatan jalan.
Kurangnya penerangan dan pengamanan membuat jalur ini rawan, khususnya di area atas atau Sigedang.
Menurut Ahmad, pelebaran jalan yang sudah dilakukan saat ini cukup membantu, terutama di bagian atas jalur. Namun dia menilai masih ada titik rawan yang perlu perhatian lebih lanjut.
“Sekarang jalannya lebih lebar yang bagian atas. Kemungkinan yang rawan sekarang ini jalan yang bawah turunan ini, mungkin nanti ke depan bisa dilebarkan juga,” harapnya.
Meski begitu, Ahmad mengakui bahwa pelebaran jalan membawa dampak positif yang signifikan, terutama bagi sektor pariwisata. Jalan yang lebih lega membuat arus kendaraan wisatawan semakin lancar.
“Pelebaran jalan ini cukup membantu wisatawan yang lewat dan peningkatan volume wisatawan jadi lebih baik,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa secara umum kondisi jalan utama sebenarnya sudah cukup baik sejak dulu, walaupun sempit jalur ini menjadi pilihan favorit wisatawan.
Sebelum dilakukan pelebaran, rasa takut kerap dirasakan wisatawan saat melintas, terutama ketika harus berpapasan di jalan sempit.
“Sebelumnya mereka takut karena berpapasan saja susah karena sempit,” sebutnya.
Jalan Rake Kayuwangi memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif menuju sejumlah kota besar.
Ahmad menegaskan bahwa jalur ini sangat vital karena mampu memangkas waktu tempuh secara signifikan.
"Ini jalan alternatif ke Semarang, Temanggung, Secang, bahkan Yogyakarta. Bisa memangkas waktu 30 menit kalau lewat jalan ini daripada lewat Kertek, jadi cukup vital jalan ini,” imbuhnya.
Dampak positif pelebaran jalan juga dirasakan langsung oleh wisatawan.
Asma, salah satu wisatawan yang pernah melintasi jalur ini sekira dua tahun lalu, menilai perubahan kondisi jalan sangat terasa.
“Iya mungkin sekira dua tahun lalu saya ke sini kalau dilihat iya memang jalannya lebih lebar dulu sering macet karena sempit,” ucapnya.
Menurut Asma, kondisi jalan yang lebih lebar membuat perjalanan lebih nyaman dan aman. Bahkan, jalan ini kini memiliki nilai estetika tersendiri bagi wisatawan.
“Ya jadi lebih bagus si bisa foto dipinggir jalan pas lagi sepi kaya sekarang ini, pemandangan bagus hamparan kebun teh dan Gunung Sindoro-Sumbing ada,” ucapnya.
Baca juga: Wonosobo Asa Cita: Relawan Turun ke Sekolah, Dorong Siswa Lanjutkan Pendidikan
• Bupati Afif Perkenalkan Layanan Digital dan Podcast Edukasi di Puskesmas Sapuran Wonosobo
Infrastruktur Jalur Pariwisata
Sebelumnya, Kepala DPUPR Kabupaten Wonosobo, Nurudin Ardiyanto menjelaskan bahwa rehabilitasi Jalan Rake Kayuwangi merupakan bagian dari peningkatan infrastruktur jalur pariwisata.
"DPUPR telah menyelesaikan rehabilitasi ruas jalan nomor 88 Rake Kayuwangi Rejosari-Sikatok, Kabupaten Wonosobo," ungkapnya.
Ruas jalan yang sebelumnya memiliki lebar sekira empat meter kini diperlebar menjadi enam meter.
Pekerjaan didominasi oleh pelebaran jalan, mengingat Jalan Rake Kayuwangi merupakan jalur wisata yang melintasi sejumlah destinasi unggulan.
"Jalan ini bisa menghubungkan seperti Desa Wisata Tambi di Kabupaten Wonosobo dan kawasan wisata Sibajag di Kabupaten Temanggung," lanjutnya.
Sebelum rehabilitasi, jalur ini kerap mengalami kemacetan, terutama saat libur panjang.
Kemacetan terjadi karena lebar jalan yang terbatas, khususnya di area tikungan, sehingga kendaraan harus bergantian saat melintas.
Padahal, jalan ini merupakan akses penting dan pintu masuk wisatawan dari Kota Semarang dan sekitarnya.
Paket pekerjaan rehabilitasi ini bersumber dari dana keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan pagu anggaran sebesar Rp2,1 miliar.
Pelaksanaan pekerjaan dimulai pada 16 Oktober 2025 dan selesai pada 19 Desember 2025.
Adapun hasil pekerjaan meliputi pelebaran dan pengerasan aspal dengan panjang total 600 meter dan lebar rata-rata dua meter.
Selain itu, dibangun saluran drainase jalan sepanjang 170 meter, senderan pengamanan jalan sepanjang 500 meter dengan tinggi rata-rata 0,7 meter, serta pelebaran beton bahu jalan sepanjang total 810 meter dengan lebar rata-rata 0,5 meter di kedua sisi jalan.
Tidak hanya itu, paket pekerjaan ini juga mencakup pelebaran jalan pada jembatan yang semula selebar empat meter menjadi tujuh meter.
"Dengan pelebaran tersebut, pengguna jalan tidak perlu lagi bergantian saat melintas di jembatan," imbuhnya.
Melalui rehabilitasi ini, pemerintah berharap akses pariwisata menuju Wonosobo semakin lancar, aman, dan nyaman. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260130-_-Jalan-Rake-Kayuwangi-Rejosari-Sikatok-Wonosobo-Usai-Dilebarkan.jpg)